Tampilkan postingan dengan label bahasa Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa Arab. Tampilkan semua postingan

Islam dan Bahasa Arab


Oleh : Taufiq Sutyarahman

Islam adalah agama yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan sesamanya. Dengan kata lain, islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Tidak ada dalam kehidupan dunia ini kecuali diatur oleh islam.
Semua aturan yang menyeluruh dan sempurna itu telah tertuang dalam kitab sucinya yang mulia, yaitu Al-Quran al-karim. Juga, keberadaan Rasulullah saw sebagai penjelas syariatnya, yaitu berupa As-sunnah (hadits).
Mengamalkan semua yang ada dalam Al-Quran dan Assunah adalah sebuah kewajiban. Seorang muslim dituntut untuk bisa memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan. Al-quran dan Asssunah, keduanya berbahasa Arab. untuk memahaminya keduanya memerlukan pemahaman terhadap bahasa arab yang baik dan benar. Tidak cukup hanya sekadar mengetahui terjemah saja secara sekilas atau hanya melihat dan mengambil faidah dari Al-quran yang ada terjemahannya.
Karena itu menjadi wajib mengetahui, mempelajari dan  memahami bahasa arab untuk bisa mengambil suatu hukum dari Al-quran. Islam dan bahasa Arab merupakan satu kesatuan. Islam tidak mungkin dapat dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan bahasa Arab. Meremehkan bahasa Arab akan menghilangkan ijtihad terhadap syari’at, karena ijtihad terhadap syari’at tidak mungkin dilaksanakan tanpa terpenuhinya salah satu syarat mendasar yaitu bahasa Arab.
Ketika bahasa Arab mulai ditinggalkan, juga karena begitu intensnya interaksi umat islam saat itu dengan orang-orang ajam (non arab) ketika masa-masa penaklukan, yang menyebabnya lemahnya pemahaman dan tingkat berfikir umat karena rendahnya dalam pemahaman bahasa arab. hingga sampai kemudian menyebabkan umat tidak mampu berijtihad kemudian disusul dengan adanya fatwa dari sebagian ulama yang menutup pintu ijtihad. Yang pada akhirnya umat islam semakin terperosok semakin dalam, karena tidak memahami islam yang sesungguhnya dengan pemahaman yang benar.
Karena itu menjadi penting bagi kita semua yang peduli dengan Islam, supaya islam meraih kebangkitannya kembali, dengan cara menggairahkan kembali semangat kita untuk bersungguh-sungguh mempelajari bahasa arab ini.
Ada beberapa keistimewaan bahasa arab diantaranya:
1. Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran. Allah berfirman:
إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya”
2. Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad dan bahasa verbal para sahabat. Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita dengan berbahasa Arab. Demikian juga kitab-kitab fikih, tertulis dengan bahasa ini. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.
3. Susunan kata bahasa Arab tidak banyak. Kebanyakan terdiri atas susunan tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.
4. Indahnya kosa kata Arab. Orang yang mencermati ungkapan dan kalimat dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas dan padat.
Itulah sekilas penjelasan mengenai pentingnya mempelajari bahasa arab, sebagai alat untuk memahami ajaran islam yang mulia. Karena itu mari kita kuatkan komitmen kita untuk mempelajari bahasa arab dengan penuh kesungguhan. Mudah-mudahan dengan itu dapat membangkitkan umat untuk meraih kedudukannya sebagai khairu ummah “umat terbaik”. Wallahu a’lam bishawab.

baca selengkapnya..

Ilmu Sharf (علم الصرف)

التصريف لغةً : التحويل او التغيير او التبديل - اى تغيير شئ من حالٍ الى حالٍ ومن جهة الى جهةٍ

التصريف اصطلاحًا : تحويل اصل واحدٍ الى امثلة مختلفة لمان مقصودةٍ لا تحصل الا بها

المراد بالاصل الواحد عند علماء المبصرة هو المصدر وعند علماء الكوفة هو الماضي, والمعتمد عليه هو المصدر

علم الصرف : علم يعرف به تحويل الكلمة الى امثلةٍ مختلفةٍ لأغراض مخصوصة كتحول نَصْرٍ الى نَصَرَ- يَنْصُرُ- نَاصِرٌ- مَنْصُوْرٌ وغير ذلك

والمراد بامثلة مختلفة كالماضي (فَعَلَ- نَصَرَ) والمضارع (يَفْعُلُ- يَنْصُرُ) واسم الفاعل (فَاعِلٌ- نَاصِرٌ) واسم المفعول (مَفْعُوْلٌ- مَنْصُوْرٌ) والامر (اُفْعُلْ - اُنْصُرْ) والنهي (لَاتَفْعُلْ-لَاتَنْصُرْ) واسم المكان والزمان (مَفْعَلٌ-مَنْصَرٌ) واسم الألة (مِفْعَلٌ-مِنْصَرٌ

الفرق بين علم الصرف وعلم النحو
علم الصرف : قواعد يعرف بها صيغ الكلمات العربية واحوالها التي ليست بإعراب ولا بناء
علم النحو: قواعد يعرف بها احوال الغة العربية اعرابًا وبناء (اعراب او اخر الكلمات وبناءها في الجملة)

فائدة علم التصرف
المنع من الخطأ في الكلمة العربية .1
المساعدة على معرفة الأصل والزائد من حروفها .2
الوقاية من اللحن في ضبط صيغها .3


الصّيغة
الصيغة معناها لغةً : النوع
الصيغة معناها اصطلاحًا : نوع من تغييرات الكلمات في التصريف الاصطلاحى

صيغ الكلمات تنقسم الى عشرة اقسام
فعل ماضٍ : كل فعل يدل على حصول عمل في الزمن الماضي, مثل : جَلَسَ .1
فعل المضارع : كل فعل يدل على حصول عمل في الزمن الحاضر أو المستقبل, مثل : يَجْلِسُ .2
اسم المصدر : كل اسم يدل على ما حصل عليه فعل الفاعل مثل : جَلْسٌ .3
اسم الفاعل : كل اسم يدل على من فعل الفعل, مثل : جَالِسٌ .4
اسم المفعول : كل اسم يدل على ما وقع عليه فعل الفاعل مثل : مَضْرُوْبٌ .5
فعل امرٍ : كل فعل يطلب به حصول عمل, مثل : اُنْصُرْ .6
فعل النهي : كل فعل يطلب به عدم حصول عمل, مثل : لَاتَضْرِبْ-لَاتَدْخُلْ .7
اسم الزمان : كل اسم يدل على وقت وقوع الفعل , مثل : مَوْعِدٌ-مَضْرِبٌ .8
اسم المكان : كل اسم يدل على مكان وقوع الفعل , مثل : مَرْعَى-مَلْعَبٌ .9
اسم الألة : كل اسم يدل على أداة الفعل , مثل : مِرْأَةٌ-مِضْرَبٌ .10

الفعل
ينقسم الفعل جسب الاحرف الى قسمين
المجرد : ما كانت حروفه اصلية , مثل : خَرَجَ-قَتَلَ .1
المزيد : ما زيد على حروفه الاصلية , مثل : اَخْرَجَ-قَاتَلَ .2

وينقسم المجرد على قسمين
الثلاثيّ : ما كانت حروفه الاصلية من ثلاثة احرف .1
الرباعيّ : ما كانت حروفه الاصلية من اربعة احرف .2

ينقسم الفعل بالنظر الى قسمين
اللازم : كل فعل لايحتاج الى مفعول به .1
المتعدّي : كل فعل يحتاج الى مفعول به .2

البناء
البناء لغة : البنية
البناء اصطلاحًا : المادة التي تتركب منها الكلمات

ينقسم الفعل باعتبار بناءه الى صحيح و معتل
الفعل الصحيح : ما كان كل حرف من حروفه الأصلية صحيحًا
انواعه :
السّالم : ما كانت حروفه الاصلية خالية من الهمزة والتضعيف , مثل : كَتَبَ .1
المضاعف : ما كان الحرف الثاني والثالث من جنس واحد ,مثل : فَرَّ-مَدَّ .2
المهموز : ما كان بعض حروفه الاصلية همزةً .3

المهموز ثلاثة انواع
أ. مهموز فاء : ما كان فاء فعله همزة : أَخَذَ-أَكَلَ
ب. مهموز عين : ما كان عين فعله همزة : سَأَلَ-وَأَدَ
ج. مهموز لام : ما كان لام فعله همزة : قَرَأَ-نَشَأَ

الفعل المعتلّ : ما كان بعض حروفه الا صلية من حرف علّة
انواعه : 1. المثال : ما كان فاء فعله. صرف علّة وهو نوعان:
أ. المثال الواويّ : ما كان فاء فعله واوًا : وَضَعَ
ب. المثال اليائي : ما كان فاء فعله ياء : يَسَرَ

الاجوف : ما كان عين فعله حرف علّة وهو نوعان .2
أ. الأجوف الواويّ : ما كان عين فعله واوًا : قَالَ
ب. الاجوف اليائي : ما كان عين فعله ياء : بَاعَ

الناقص : ماكان لام فعله حرف علّة وهو نوعان .3
أ. الناقص الواويّ : ما كان لام فعله واوًا - دَعَا
ب. الناقص اليائيّ : ما كان لام فعله ياء - جَرَى-خَشَيَ

:اللفيف : ما كان اجتمع حرفا علّة وهو نوعان .4
أ. اللفيف المفروق : ما كان فاء فعله ولام فعله من حرف علّة - وقى
ب. اللفيف المقرون : ما كان عين فعله ولام فعله من حرف علّة - شوى – كوى

baca selengkapnya..

علم الصرف (Ilmu Sharf )

1. ARTI AL-TASHRIF (التصريف/INFLECTION)
Al-Tashrif menurut bahasa berarti al-tahwil التحويل/ transformation / perubahan "bentuk", al-taghyir التغيير/ changing dan alteration / pengubahan atau perubahan) dari al-tabdil ( التبديل/ changing, perubahan, penukaran atau pergantian), artinya perubahan/pergantian sesuatu dari satu keaadaan ke keadaan lain yang berbeda dan dari satu arah / tujuan lain yang berbeda.
Adapun al-tashrif menurut istilah (terminologi) berarti perubahan atau pengubahan ashl,أصل (asalkata/kata dasar/original form of words) satu menjadi berbagai model pola (contoh) kata yang berbeda karena adanya makna-makna yang dikehendaki dimana makna-makna tersebut tidak dapat dipahami kecuali dengan adanya model-model pola kata tersebut.

Yang dimaksud 'ashl' atau 'asalkata/kata dasar' menurut ulama (ahli bahasa arab) Basrah ialah al-mashdar ( المصدر/gerund, verbal noun kata benda verbal, yang pada akhirnya disebut infinitive verbal noun/kata benda verbal infinitif). Dan menurut ulama 'kuffah' ashl' itu adanya al-fi'il al madliy (الفعل الماضي /preterite/bentuk kata kerja masa lalu). Namun menurut pendapat yang kuat untuk dijadikan rujukan 'ashl' yang dimaksud ialah al-mashdar.

2. ARTI 'ILMU AL-SHOROF (علم الصرف/MORPHOLOGY)
'Ilmu al-sharaf ialah ilmu yang mempelajari perubahan kata menjadi berbagai bentuk kata yang berbeda karena adanya tujuan tertentu, seperti perubahan : "نَصْرٌ" menjadi مَنْصُوْرٌ,نَاصٍرٌ,يَنْصُرُ,نَصَرَ, dan sebagainya.
Yang dimaksud dengan berbagai bentuk kata yang berbeda adalah seperti al-fi'il al-madliy (نَصَرَ-فَعَلَ), al-fi'il al mudlari',الفِعْلُ المُضَارِعُ /present, continous dan present future / bentuk kata kerja masa sekarang dan yang akan datang, (يَنْصُرُ-يَفْعُلُ), isim al-fa'il, اسم الفاعل/agent noun/kata benda pelaku, (نَاصِرٌ-فاَعِلٌ), isim al-maf'ul اسم المفعول/ patient noun/ kata benda penderita, (مَنْصُوْرٌ-مَفْعُوْلٌ), fi'il al-amar, فعل الامر/ verb of command/bentuk kata kerja perintah, (اُنْصُرْ-اُفْعُلْ), fi'il al-nahy, فعل النهي/ verb of prohibition/bentuk kata kerja larangan,(لاتَنُصُرْ-لاتَفْعُلْ ) isim al-makan wa al-zaman, اسم المكان و الزمان/ noun of place and time / bentuk kata benda yang menunjukkan tempat dan waktu, (مَنْصَرٌ-مَفْعَلٌ), dan isim al-alah اسم الألة/ intrumental noun/bentuk kata benda yang menunjukkan instrumen/alat dari (suatu) pekerjaan, (مِنْصَرٌ-مِفْعَلٌ)

3. PERBEDAAN ANTARA 'ILM AL-SHORF DAN 'ILM AL-NAHW (GRAMMAR/SYNTAX/SINTAKSIS)
'ilmu al-sharaf ialah kaidah-kaidah untuk mengetahui macam-macam bentuk kata (bahasa) arab dan hal ihwalnya, bukan berkaitan dengan i'rab, : إعراب(parsing/deskripsi kata secara tatabahasa) dan bina', بناء (grammatical structure/susunan gramatika)-nya. Sedangkan 'ilmu al-nahwu (sering tertulis dengan ilmu nahwu), علم النحو,ialah kaidah-kaidah untuk mengetahui hal-ihwal bahasa arab secara i'rab dan bina' (i'rab setiap akhir kata dan bina'-nya dalam kalimat).

4. BEBERAPA FAEDAH MEMPELAJARI 'ILM AL-SHORF
Ada 3 faedah penting dalam mempelajari 'ilmu al-sharaf yaitu:
1. Agar terhindar dari kesalahan dalam memahami kata-kata arab.
2. Membantu dalam mengetahui mana kata yang tak bertambahan huruf (kata dasar) dan mana kata yang bertambahan huruf (al-zaid).
3. Memelihara dari kesalahan ucapan dalam berpegang pada bentuk-bentuk kata.

5. AL-SHIGHAH ( الصيغة/MOOD, FORM OF THE WORD/BENTUK KATA)
Al-Shighah menurut bahasa berarti al-nau النوع(macam), dan menurut istilah berarti salah satu macam/bentuk dari perubahan-perubahan kata yang terdapat dalam al-tashrif al-ishthilahy (التصريف الاصللاحللى) / terminological inflection/penasrifan menurut terminologi).

Ada 10 macam/bentuk kata, yaitu sebagai berikut :
5.1 Fi'il madliy (الفعل الماضي) / Preterite :
yakni setiap fi'il (kata kerja) yang menunjukkan suatu pekerjaan yang telah terjadi dimasa yang telah berlalu, seperti kata "ضَرَبَ"
5.2 Fi'il mudlari (فعل مضارع) / present, continous and present future :
Yakni setiap fi'il yang menunjukkan suatu pekerjaan yang berlangsung dimasa sekarang atau dimasa yang akan datang, seperti kata "يَضْرِبُ"
5.3 Ism al-mashdar (اسم المصدر) / infinitive verbal Noun:
yakni setiap isim (kata benda) yang menunjukkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh subyek (pelaku pekerjaan), seperti kata "ضَرْبٌ"
5.4 Ism al-fa'il (اسم الفاعل) / Agent Noun.
Yakni setiap isim yang menunjukkan seseorang (pelaku) yang melakukan pekerjaan, seperti kata "ضَارِبٌ"
5.5 ism al-maf'ul (اسم المفعول) /patient Noun/ Noun as an object
Yakni setiap isim yang menunjukkan sesuatu yang dikenakan pekerjaan suatu subyek, seperti kata "مَضْرُوْبٌ"
5.6 Fi'il amr (فعل الامر) / verb of command :
Yakni setiap fi'il yang mengharap akan terjadinya suatu pekerjaan, seperti kata "إِضْرِبْ"
5.7 Fi'il al-Nahyi (فعل النهي) / verb of prohibition /menyangkal.
Yakni setiap fi'il yang tidak mengharap akan terjadinya suatu pekerjaan, seperti kata "لَاتَضْرِبْ"
5.8 Ism Al-zaman (اسم الزمان) / Noun of Time :
Yakni setiap isim yang menunjukkan waktu terjadinya pekerjaan, seperti kata "مَوْعِدٌ-مَضْرِبٌ"
5.9 Ism al-makan (اسم المكان) / Noun of pleace :
Yakni setiap isim yang menunjukkan tempat terjadinya pekerjaan, seperti kata "مَلْعَبٌ-مَضْرَبٌ"
5.10 Ism Al-alah (اسم الألة) / Instrumental Noun :
Yakni setiap isim yang menunjukkan instrumen/alat untuk pekerjaa, seperti kata مِرْأَةٌ-مِضْرَبٌ"

6. AL-FI'L ( الفعل/The veb/kata kerja)
6.1 Menurut hurufnya, fi'il itu terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
(1) Al-Mujarrad (المجرد) / The unaugmented/stem/root yang tak-bertambahan :
yakni fi'il yang semua hurufnya adalah asli, bukan huruf tambahan/masukan,
seperti : "قَتَلَ-خَرَجَ"
(2) Al-Mazid (المزيد) / The augmented/ yang bertambahan :
yakni fi'il yang bertambahan satu atau lebih huruf tambahan, seperti : "قَاتَلَ-اَخْرَجَ"
Selanjutnya al-mujarrad tersebut terbagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Al-tsulasiy (الثلاثيّ) / The triliteral Root :
Yakni fi'il yang berhuruf asal tiga, seperti "دَخَرَ"
b. Al-Ruba'iy (الرباعيّ) / The Quadriliteral Root :
Yakni fi'il yang berhuruf asal empat, seperti "دَخْرَجَ"

6.2 Jika dilihat dari segi maknanya, maka fi'il itu terbagi 2 bagian, yaitu :
(1) Al-lazim (الازم) / the intransitive :
yakni setiap fi'il yang tidak membutuhkan maf'ul bih (مفعول به) / objek.
(2) Al-Muta'addiy (المتعدّي) / The transitive :
Yakni setiap fi'il yang membutuhkan maf'ul bih.

7. AL-BINA'(البناء) / THE PHONEMIC STRUCTURE / STRUKTUR FONEMIS)
Menurut bahasa al-bina' berarti Al-binyah ( البنية/ Structure/susunan atau kerangka). Dan menurut istilah ia berarti materi (huruf-huruf) yang darinya kata-kata itu tersusun.
7.1 Berdasarkan struktur hurufnya, fi'il terbagi menjadi (a) Shahih (صحيح / Sound/sehat), dan (b) mu'tal (معتل /unsound/tidak sehat/ penyakit atau lemah).
contoh : معتل) وقف - (صحيح) دخل
7.2 Al-fi'il Al-shahih (الفعل الصحيح)/the sound verb/kata kerja sehat :
yakni fi'il yang semua huruf asalnya adalah shahih (sehat), bukan berupa huruf alif, waw, atau ya' (و-ا-ي)
7.3 Macam-macam Bina dalam Al-fi'il al-shahih :
(1) Al-salim (السالم) /The perfect/Yang sempurna :
Yakni fi'il shahih yang huruf-huruf asalnya tidak berupa huruf hamzah (ء) dan terbebas dari tadl'if (تضعيف/reduplication/pengulangan "huruf") seperti "كَتَبَ"
(2) Al-mudla'af ( المضاعف/The Reduplicated of doubled / yang berulang-ulang atau ganda :
Yakni fi'il yang huruf kedua dan ketiganya berupa huruf yang sejenis (sama), seperti : "مَدَّ-قَرَّ"
(3) Al-Mahmuz (المهموز) / The glortalized yang ber-hamzah
Yakni fi'il yang sebagian huruf-huruf asal berupa huruf hamzah. dalam kaitan ini al-mahmuz itu ada 3 macam yaitu :
(a) Mahmuz fa' ( مهموز فاء)/The Glottalized first Radical of the verb :
Yakni fi'il yang fa' fi'il (first radical of verb/huruf asal pertama)-Nya berupa huruf hamzah, seperti : "أَكَلَ-أَخَذَ"
(b) Mahmuz 'Ain (مهموز عين) /The Tottalized Second Radical of the Verb :
Yakni fi'il yang 'ain fi'il (second radical of the verb/huruf asal ke dua)-nya berupa huruf hamzah, seperti : "وَأَدَ-سَأَلَ"
(c) Mahmuz lam (مهموز لام) /The Glottatized Third Radical of the verb :
Yakni fi'il yang lam fi'il (third radical of the verb/huruf asal ke tiga)-nya berupa huruf hamzah, seperti : "نَشَأَ-قَرَأَ"

7.4 Fi'il Al-Mu'tal (الفعل المعتل) / The unsound verb/kata kerja tak sehat :
yakni fi'il yang diantara huruf-huruf asalnya berupa huruf atau huruf-huruf 'illat (علّة) /weak or soft letter/huruf-huruf lemah, yaitu alif, waw, dan ya.

7.5 Macam-macam Bina' dalam Al-Fi'il Al-Mu'tall :
(1) Al-Mitsal (المثال) /The Quasi Sound / Yang tak benar sehat :
Yakni fi'il yang fa-fi'lnya berupa huruf 'illah / dalam kaitan ini al-mitsal ada dua macam, yaitu:
(a) Al-Mitsal Al-Wawiy (المثال الواويّ) / Verb of which the First Radical Is Waw :
Yakni Fi'il yang fa'fi'il-nya berupa waw, seperti : "وَعَدَ-وَضَعَ"
(b) Al-Mitsal Al-Yaiy (المثال اليائي) / Verb of which the first radical is ya':
yakni fi'il yang fa'fi'il-nya berupa huruf ya', seperti "يَفَعَ-يَسَرَ"

(2) Al-Ajwaf (الاجوف) /The Hollow/yang berlubang :
Yakni fi'il yang 'ain fi'il-nya berupa huruf 'illah.
Dalam kaitan ini al-ajwaf ada 2 macam, yaitu :
(a) Al-Ajwaf Al-wawiy (الاجوف الواوي) / Verb of which the Second Radical is Waw, Seperti : "عاد-قال"
(b) Al-Ajwaf Al-Yaiy (الاجوف اليائي) / Verb of which the second Radical is ya', seperti : "سار-مال"

(3) Al-Naqish (الناقص ) / The Defactive / Yang tak sempurna atau yang cacat :
Yakni fi'il yang lam fi'il-nya berupa huruf 'illah.
Dalam kaitan ini al-naqish ada 2 macam, yaitu :
(a) Al-Naqish Al-wawiy (الناقص الواوي) / verb of which the thrid Radical is Waw :
Yakni fi'il yang lam fi'il-nya berupa huruf waw, seperti : "غَازَا-دَعَا"
(b) Al-Naqish Al-yaiy (الناقص اليائي) / verb of which the thrid radical is Ya' :
Yakni fi'il yang lam fi'il-nya berupa huruf waw,seperti : "خَشَيَ-رَصَي"

(4) Al-Lafif (اللفيف) / The Assembled/yang berkumpul)
Yakni Fi'il yang berkumpul pada dua huruf 'illah.
Dalam kaitan ini al-latif ada dua macam, yaitu :
(a) Al-Lafif Al-Mafruq اللفيف المفروق) ) الملتوى Verb of which the second and the thrid one are weak letters :
Yakni fi'il yang fa'fi'il-nya dan lam fi'il-nya terdiri dari huruf-huruf 'illah, seperti : "وَقَى"
(b) Al-Lafif Al-Maqrun (اللفيف المقرون) / Verb of which the second and the thrid one are weak letters (the two weak letters coming together or contigously)
yakni fi'il yang 'ain fi'il dan lam fi'il-nya terdiri dari huruf-huruf 'illah. seperti : "شَوَى-كَوَى"


الضمائر
Adl-Dlomair bentuk jama dari adl-dlomir (kata ganti), baik untuk orang ketiga (ghoib, tunggal/mufrad, dan jamak), kata ganti orang ke dua (mukhotob : mufrad, mutsana dan jamak), dan kata ganti orang pertama (mutakallim: wahdah/tunggal, ma-'al ghair/bersama yang lainnya).
Dlomir dilihat dari kedudukan I'rab-nya dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: dlomir rafa, dlomir nashab, dlomir jar dengan idhafah dan dlomir jar dengan huruf jar.
Sedangkan dlomir dilihat dari hubungannya dengan kata/kalimat lain dapat dikelompokkan menjadi 2 : dlomir munfashil (terpisah) dengan kalimat lain dan dlomir muttasil (bersambung) dengan kata/kalimat lainnya. disamping itu dilihat dari jenis kelamin (gender) terbagi menjadi dua pula : yaitu mudzakkar (laki-laki) dan muannats (perempuan).

baca selengkapnya..

علماء نالوا جائزة الملك فيصل

علماء نالوا جائزة الملك فيصل

نال جائزة الملك فيصل لخدمة الإسلام، والدراسات الإسلامية بعض العلماء المشهورين، منهم:

عبد العزيز بن باز – رحمه الله – (1330هـ - 1420هـ):

الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز عالم وفقيه. ولد في الرياض، في أسرة يغلب على كثير من أفرادها طلب العلم. وهو أحد العلماء الذين قضوا حياتهم في خدمة الإسلام والمسلمين. حفظ القرآن الكريم قبل سن البلوغ، ثم بدأ في تلقي العلوم الشرعية والعربية على أيدي كبار المتخصصين فيها. عمل في القضاء مدة أربعة عشر عامًا، ثم عمل بالتدريس في المعهد العلمي، وكلية الشريعة بالرياض، ثم في الجامعة الإٍسلامية بالمدينة المنورة، ثم رئيسًا لها، ثم أصبح الرئيس العام لإدارات البحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد عام 1395هـ، والمفتي العام، بجانب رئاسة المجلس التأسيسي لرابطة العالم الإسلامي، والمجلس الأعلى للمساجد، والمجلس الأعلى للجامعة الإسلامية. وكان عضوًا في بعض هيئات الدعوة الإسملاية. من كتبه: الفرائض، ورسالة في التبرج والحجاب، ونقد القومية العربية، والشيخ محمد بن عبد الوهاب: دعوته وسيرته، وثلاث رسائل في الصلاة، والتحذير من البدع، والجهاد في سبيل الله، وفتاوى تتعلق بأحكام الحج والعمرة والزيارة وغيرها. جاز جائزة الملك فيصل لخدمة الإسلام لعام 1402هـ.

علي الطنطاوي – رحمه الله – (1327 – 1420 هـ)

الشيخ علي مصطفى الطنطاوي عالم وكاتب إسلامي. ولد في مدينة دمشق، وتلقى تعليمة فيها، وتخرج في جامعتها في الحقوق والآداب عام 1933م. تدرج في الوظائف التعليمية والقضائية في سوريا، حتى بلغ فيها مكانة عالية. انتقل إلى المملكة العربية السعودية عام 1963م حيث عمل في التدريس في كلية اللغة العربية، وكلية الشريعة في الرياض، ثم في كلية الشريعة في مكة المكرمة. استطاع أن يجمع بين الثقافتين؛ الإسلامية العربية، والحديثة المعاصرة. وهو عالم كبير، وخطيب مفوه، وكاتب بليغ. وكانت له جهود علمية وثقافية طيبة عبر وسائل الإعلام من صحافة وإذاعة وتلفاز. وقد عرف ببرنامجه الإذاعي: مسائل ومشكلات، وبرنامجه التلفازي: نور وهداية. له العديد من المؤلفات منها: تعريف عام بدين الإسلام، وصورة وخواطر، ومباحث إسلامية، ورسائل الإصلاح، وقصص من التاريخ، ورجال من التاريخ، وقصص من الحياة، وذكريات علي الطنطاوي في ثمانية أجزاء. نال جائزة الملك فيصل العالمية لخدمة الإسلام عام 1410هـ.

أحمد حسين ديدات (1337هـ)

الشيخ أحمد حسين ديدات، داعية إسلامي من جنوب إفريقيا. درس المراحل السابقة للجامعة، وعمل في مجال الدعوة الإسلامية نحو خمسة وثلاثين عامًا. اشترك في العديد من المؤتمرات الإسلامية الإقليمية والدولية، وألقى محاضرات كثيرة في العديد من الدول الإسلامية، وغير الإسلامية. وعقد مناظرات عديدة مع خصوم الإسلام، وأنشأ معهد السلام الإسلامي لتدريب الطلاب على القيام بالدعوة الإسلامية. أصدر العديد من الكتيبات والمنشورات التي ترد على خصوم الإسلام، وتدحض مزاعمهم، منها: ماذا يقول الإنجيل عن محمد؟، وهل الإنجيل كلمة الله؟، والمسيح في الإسلام، وما هو سفر يونان؟ (عن التوراة)، ومن أزاح الحجر؟ والبعث والانتعاش، والصلب أو خرافة الصلب، وصلاة المسلم. حاز جائزة الملك فيصل العالمية لخدمة الإسلام عام 1406هـ.

baca selengkapnya..

كيف تختار مهنتك ؟

كيف تختار مهنتك ؟
خلق الله الخلق مختلفين في أنفسهم، وفي قدراتهم، وفي أعمالهم؛ لتستقيم الحياة، ويخدم بعضهم بعضًا. قال الله تعالى: (أهم يقسمون رحمت ربك نحن قسمنا بينهم معيشتهم في الحياة الدنيا ورفعنا بعضهم فوق بعض درجات ليتخذ بعضهم بعضًا سخريًّا ورحمت ربك خير مما يجمعون).
والرزق يختلف من بيئة إلى بيئة، وهو متفاوت بين الأفراد. والبشر مسخر بعضهم لبعض؛ الفقير مسخر للغني، والغني مسخر للفقير ... يقول الرسول صلى الله عليه وسلم: "اعملوا فكل ميسر لما خلق له". ولو عمل الناس كلهم في مهنة واحدة؛ لتعطلت بقية مصالحهم، ولكن الله سخر بعضهم لخدمة بعض؛ وهذا يأتي من اختلاف المهن والأعمال؛ فالمزارع، على سبيل المثال، يحرث ويأكل من زرعه غيره من خباز، ومعلم، وطبيب ...، وهؤلاء بدورهم يخبزون له، ويعلمون أطفاله، ويعالجون المريض من أسرته، وهكذا.
كان الشباب في الماضي يتعلمون مهن آبائهم في الغالب؛ حتى إذا كبروا عملوا في هذه المهن؛ ولذا كان يغلب على بعض الأسر الارتباط بمهنة معينة، حتى إنهم قد يسمون (يعرفون) بها.
أما في العصر الحاضر، فقد تغير الأمر، وأصبحت أغلب المهن والأعمال مرتبط بالحكومات، أو الشركات الكبيرة. ويواجه الشاب أول حياته مشكلة اختيار المهنة، التي يرغب فيها، بعد انتهائه من الدراسة. وهذا قرار صعب، يحتاج إلى تفكير؛ لأن له آثاره المادية والنفسية على الشباب في مستقبل حياته، فكيف يختار الشاب مهنته؟
ينبغي أن يعرف الشاب أين يضع قدمه، قبل أن يختار لنفسه مهنة يعمل فيها، ويكسب عيشه منها. ينبغي أن يتعرف إلى صفات نفسه، وما لديه من نواحي القوة والضعف، وأن يتأكد من ميوله، ويعرف ما يحب من المهن، وما يكره. وإن صدق الإنسان مع نفسه، يعينه كثيرًا على اختيار مهنة المستقبل، وهو مطمئن إلى حسن الاختيار. وبعد أن يتعرف الشاب إلى نفسه وصفاته، ينبغي عليه أن يتعرف إلى عدد من المهن؛ ليختار منها ما يناسبه. وهذا أمر ليس سهلاً، فربما لا يجد المهنة التي تكون مناسبة له ولقدراته، ولا ستعداداته، وقد يجد الكثير من المهن مناسبة لميوله ورغباته.
لكي يصل الشاب إلى قرار سليم، يجب أن يكون مرنا، وأن يدرك أنه يستطيع أن يتقن مهنة معينة أكثر من سواها، وأن هناك مهنًا أخرى لا يقدر على إتقانها.
يحتاج الشباب إلى التدريب على المهنة، التي يعتقد أنها تناسبه،ـ وإلى اكتساب الخبرة فيها، حتى يحصل على المهارات الأساسية، والمعلمومات الخاصة بها، بطريقة عملية، وبذلك يعد نفسه للمهنة إعدادًا كافيًا. وتكثر المنافسة أحيانًا حول بعض المهن دون بعضها الآخر. وبعض المهن لها بريق، غير أن أجر العاملين فيها قليل، فيجب أن يكون الشباب على علم بذلك، حين يختار مهنته، وأن يعرف ميزات المهنة الحقيقية. والشباب الذي يعرف نفسه حق المعرفة، ويعرف الأعمال المختلفة، يصبح قادرًا على اختيار ما يناسبه من المهن، فيجيء اختياره قريبًا من الصواب.
وعلى كل شاب أن يدرك أن الصفات الشخصية تنمو، وأن الشاب قد يتغير في نفسه، ويتبع ذلك اختلاف رغباته وميوله، نتيجة لخبرة جديدة اكتسبها، أو ثقافة حصل عليه، أو معاشرته أناسًا لم يعاشرهم من قبل. ومن الخير للشاب في أثناء دراسته أن يهتم كثيرًا بالدرس والتحصليل، قبل أن يصل إلى مرحلة اختيار المهنة، وأن يضع لنفسه خطة مرنة، تسمح له بالتغيير والتصرف، حسبما يكتسب من خيرة وعلم.

baca selengkapnya..

العولمة

العولمة
هناك من يرى في العولمة دعو إلى تقسيم العمل، وانتشار التقانة الحديثة من مراكزها في العالم المتقدم اقتصاديا، إلى أقصى أطراف الأرض، ومن ثم زيادة الإنتاج. وهو في سبيل ذلك، مستعد لأن يغفر للعولمة أي تأثير سلبي، يمكن أن ينتج عنها على الهوية الثقافية. بل هو مستعد للقول، بأن هذا الأثر السلبي على الهوية يسير، بل قد يذهب إلى القول، بأن الهوية الثقافية سوف تفيد من العولمة.
وهناك المفتونون بالمدنية الغربية بوجه عام، ليس بنالحعل المادي فقط، بل في مجال نقل المعلومات وتخزينها وتوفيرها، وبما حققه الغرب في المجال السياسي والاجتماعي والثقافي. أولئك المفتونون بالديموقراطية الغربية، وبالعلاقات الاجتماعية الغربية، وبالإنتاج الثقافي في الغرب، ويتمنون لشعوبهم سرعة اللحاق بكل هذه الإنجازات، ويجدون في العولمة السبيل إلى ذلك. ومن هؤلاء من لا تثير لديهم مسألة الهوية الثقافية إلا السخرية؛ فهي عندهم تعني التخلف والجهل والفقر.
هناك أيضا الكارهون للعولمة، ولديهم أسباب لهذه الكراهية؛ فهناك من يكرهها لأن فيها مزيدا من الاستغلال الاقتصادي، وهذا ما تفعله الاستثمارات الأجنبية الخاصة، عندما تترك بلادها، وتذهب لاستغلال العمالة الرخيصة في البلاد الأقل نموا، كشركات الأدوية الكبيرة التي تريد أن تفتح لها كل بلاد العالم أبوبها؛ لتحقق مزيدا من الربح على حساب مستهلكي هذه الأدوية ومنتجيها. نعم، الهوية الثقافية لابد أن تعاني من ذلك، ولكن المعاناة هنا ليست إلا نتيجة للاستغلال الرأسمالي، إذ تحمل كل هذه الاستثمارات الأجنبية، وهذه السلع المستوردة ثقافة تختلف عن ثقافات الأمم المستوردة لها، فتحقق مزيدا من الأرباح المادية والثقافية. وحاية الهوية الثقافية واجبة في نظر هؤلاء.
وهناك من يكره العولمة لا لسبب اقتصادي، بل لسبب ديني؛ فالعولمة آتية من مراكز دينها غير ديننا، بل هي قد تنكرت للأديان كلها، وآمنت بالعلمانية التي لا تختلف كثيرا، في نظر هؤلاء، عن الكفر. ومن ثم ففتح الأبواب أمام العولمة، هو فتح الأبواب أمام الكفر. والغزو هنا في الأساس ليس غزوا اقتصاديا، بل هو غزو ديني. والهوية الثقافية المهددة هنا هي دين الأمة وعقيدتها، وحماية الهوية معناها في الأساس الدفاع عن الدين.
وهناك، من ناحية أخرى، من يرى أن العولمة ليست غزوا اقتصاديا، أو غزوا علمانيا، بل غزو قومي. صحيح أن هذا الغزو يتضمن استغلالا اقتصاديا، وصحيح أنه يهدد دين الأمة التي يجري غزوها. ولكن هذا وذاك ليسا إلا جزأين من ظاهرة أوسع، وهما مرفوضان لسبب أكبر وأشمل. فالاستقلال الاقتصادي ليس مطلوبا لمنع الاتغلال فقط، بل مطلوب لتحقيق نهضة شاملة للأمة. والعولمة كذلك تهديد للدين والعقيدة، ولقيم الأمة.
إن كلا من المواقف المؤيدة والرافضة للعولمة، يحمل في رأي البعض جزءا من الحقيقة. نعم، إن العولمة قد تؤدي إلى زيادة الإنتاج، والعولمة قد تمثل تقدما في بعض القدرات المهمة للإنسان، وفي بعض أنواع الإنتاج العلمي والفني. ولكن العولمة تتضمن، بلا شك، اتجاها نحو السيطرة الاقتصادية من جانب الشركات الكبيرة للمستضعفين في الأرض. والتنافس في هذا الصراع لن يرحم الضعفاء، بل يعادي معتقداتهم ومقدساتهم. والعولمة، بلا شك، تهدد أنماط الحياة الخاصة بالأمم المحافظة، لصالح نمط معين للحياة، هو السائد في الدول القوية.

baca selengkapnya..

طبقات الأصدقاء

طبقات الأصدقاء
خذ قلما وورقة، وحاول أن تكتب اسماء أصدقائك جميعا أيها الشاب، ثم صنفهم أصنافا؛ تجد منهم من ليسوا أصدقاء على التحقيق. فمنهم رفيق تقابله كل يوم أمامك في السيارة، أو الحافلة، يحييك فتحييه. ومنهم رفيق العمل، فترى مكتبه بجانب مكتبك.
فإذا أردت الصفة التي تجمع خلال الخير، والعمل الذي يصلح الأعمال كلها، فاكتب اسماء أصدقائك وأصحابك، وانظر إلى كل واحد منهم: هل هو صالح في نفسه، أم هو غير صالح، وهل هو مخلص لصديقه، أم هو لا يهتم إلا بنفع نفسه. وهل هو مؤنس لجليسه، أم هو مزعج؟ فإذا فعلت ذلك، رأيت الأصدقاء أنواعا:
  • وجدت فيهم من هو صائم مصل له سمت المتقين، وزي الصالحين، ولكنه يتخذ ذلك سلما للدنيا وشبكة للمال، ووجدت حقيقته تكذب ظاهره، فإذا عاهدته خانك، وإن عاملته غشك.
  • ووجدت فيهم من يبدو أنه صادق المعاملة، أمين اليد، لكنه لا يصوم، ولا يصلي، وليس له من الدين إلا اسمه؛ فهو يفسد عليك دينك.
  • ووجدت فيهم من هو صالح متعبد، أمين صادق المعاملة، ولكنه صاحب شهوة، لا حديث له إلا عنها، فهو يؤذيك بإثارة الخامد من رغبتك.
  • ووجدت من هو صالح في نفسه، أمين في معاملته، لكنه لا ينفع صديقا، ولا يسعد صاحبا.
  • ووجدت من يخدم صديقه ويسره، لكنه لا يبالي في خدمته ومسرته أن يعطيه من دينه، فيخون من أجله أمانته؛ فيأخذ بيدك حتى يدخلك معه جهنم.
  • ووجدت من هو دين في نفسه، معين لصديقه، واقف عند حدود الله، لكنه يجهل طرائق المعاشرة.
  • ووجدت من هو أحمق، أو فاحش.
  • ووجدت من يصادقك لحسبك، أو منصبك، فهو يتخذك زينة ليومه، وعدة لغده، فأنت عنده حلية تجمل الجدار.
  • ووجدت فيهم من هو صالح في نفسه، أمين في معاملته، صادق في قوله، ينفع صديقه، ويسعد صاحبه، فاظفر به.
والخلاصة أن الأصحاب خمسة: فصاحب كالهواء لا يستغنى عنه. وصديق كالغذاء لا يعيش الإنسان إلا به، ولكن ربما ساء طعمه، أو صعب هضمه، وصاحب كالدواء مر كرية، لكن لا بد منه أحيانا، وصاحب كالخمر تلذ لشاربها، ولكنها تودي بصحته وشرفه. وصاحب كالبلاء.
أما الذي كالهواء فهو يفيدك في دينك، وينفعك في دنياك. وأما الذي هو كالغذاء، فهو الذي يفيدك في الدنيا والدين، لكنه يزعجك أحيانا بغلظته، وجفاء طبعه. وأما الذي هو كالدواء، فهو الذي تضطرك الحاجة إليه، وينالك النفع منه، ولا يرضيك دينه، ولا تسليك عشرته. وأما الذي هو كالخمر، فهو الذي يبلغك لذتك، وينيلك رغبتك، ولكن يفسد خلقك، ويهلك آخرتك. وأما الذي هو كالبلاء، فهو الذي لا ينفعك في دنيا ولادين، ولا يمتعك بعشرة، ولا حديث، ولكن لا بد لك من صحبته.
عليك أن تجعل الدين مقياسا، ورضا الله ميزانا، فمن كان يفيدك في دينك، فاستمسك به، إلا أن يكون ممن لا تقدر على عشرته. ومن كان لا يرضيك فاتركه، إلا أن تكون مضطرا إلى صحبته، فتكون هذه الصحبة ضرورة، بشرط ألا تجاوز في هذه الصحبة حد الضرورة. وأما الذي لا يضرك في دينك، ولا ينفعك في دنياك، ولكنه ظريف ممتع، فاقتصر منه على الاستمتاع بظرفه، على ألا تمنعك هذه الصحبة من الواجب، ولا تمشي بك إلى عبث، أو إثم.

baca selengkapnya..

المدارس والمعاهد العلمية

المدارس والمعاهد العلمية
لم يكن المسجد في الماضي مكان عبادة فقط؛ بل كان مدرسة يتعلم فيها المسلمون القراءة والكتابة والقرآن وعلوم الشريعة، واللغة والعلوم المختلفة. ثم أقيم الكتاب بجانب المسجد، وخصص لتعليم القراءة والكتابة والقرآن، وشيء من علوم العربية.
كان الكتاب يشبه المدرسة الابتدائية في عصرنا الحاضر، وكان من الكثرة بحيث كان هناك نحو ثلاثمئة كتاب في المدينة الواحدة. وكان الكتاب الواحد يضم - أحيانا - مئات أو آلافا من الطلاب.
ثم قامت المدرسة بجانب الكتاب والمسجد، وكانت الدراسة فيها تشبه الدراسة الثانوية والعالية في عصرنا الحاضر، وكان التعليم فيها مجانا. ولم يكن التعليم فيها خاصا بطائفة من الناس، بل كان يجلس المدارس ابن الفقير بجانب ابن الغني، وابن التاجر بجانب ابن الصانع والمزارع. وكانت الدراسة فيها قسمين: قسما داخليا للغرباء أو الذين لا تساعدهم أحوالهم المادية، على أن يعيشوا على نفقات آبائهم، وقسما خارجيا لمن يريد أن يرجع في المساء إلى بيت أهله. وكان الطعام يقدم مجانا للطالب في القسم الداخلي، وفيه يعبد الله، ويطالع، وينام. وبذلك كانت كل مدرسة تحتوي على مسجد، وقاعات للدراسة، وغرف لنوم الطلاب، ومكتبة، ومطبخ وحمام. وكانت بعض المدارس تحتوي - فوق ذلك - على ملاعب للرياضة البدنية في الهواء الطلق.
وأفضل مثال لهذه المدارس الجامع الأزهر، فهو مسجد تقام فيه حلقات للدراسة، تحيط به من جهاته المتعددة غرف لسكن الطلاب تسمى بالأروقة، يسكنها طلاب كل بلد بجانب واحد، فهناك رواق للشاميين، ورواق للمغاربة، ورواق للأتراك، ورواق للسودانيين، وهكذا. ولا يزال طلاب الأزهر حتى اليوم، يأخذون رواتب شهرية مع دراستهم المجانية من ربح الأوقاف، التي أوقفت على طلاب العلم بالأزهر.
كان رؤساء المدارس من خيرة العلماء وأكثرهم شهرة. ولم يكن المدرسون في صدر الإسلام يأخذون أجرا على عملهم. وبعد أن اتسعت الحضارة، وبنيت المدارس، وأوقف لها الأوقاف، جعل للمدرسين فيها رواتب شهرية، تختلف كثرة وقلة بحسب البلاد والمدارس والأوقاف، ولكنها على كل حال كانت كافية، ليعيش المدرس حياة طيبة. ولم يكن يجلس للتدريس إلا من شهد له الشيوخ بالكفاءة. وقد كان النظام في عصر الإسلام الأول، أن يسمح الشيخ للتلميذ بالانفصال عن حلقة، وإنشاء حلقة خاصة، أو أن يعهد برئاسة الحلقة إليه بعد وفاته.
وكانت المدارس أنواعا؛ فمنها مدارس لتدريس القرآن الكريم وتفسيره وحفظه وقراءته، ومنها مدارس للحديث خاصة، ومنها - وهي أكثرها - مدارس للفقه، فقد كان لكل مذهب فقهي مدارس خاصة به، ومنها مدارس للطب، ومنها مدارس للأيتام. ويذكر النعيمي في كتابه (الدارس في تاريخ المدارس) - وهو من علماء القرن العاشر الهجري - أسماء مدارس دمشق، وفيها وحدها سبع مدارس للقرآن الكريم، وللحديث ست عشرة مدرسة، وللقرآن والحديث معا ثلاث مدارس، وللفقه الشافعي ثلاث وستون مدرسة، وللفقه الحنفي اثنتان وخمسون مدرسة، وللفقه المالكي أربع مدارس، وللفقه الحنبلي إحدى عشرة مدرسة، هذا غير مدارس الطب وغيره من العلوم.

baca selengkapnya..

الباحث عن الحقيقة


الباحث عن الحقيقة
تحدث سلمان الفارسي عن قصة بحثه عن الحقيقة وإسلامه، فقال:
كنت مجوسيا من أهل أصبهان، وكنت قاطن (المقيم عند) النار التي نوقدها، فسألت النصارى حين أعجبني أمرهم، وصلاتهم عن أصل دينهم، فقالوا: في الشام. فانطلقت إلى الشام، وأقمت مع الأسقف صاحب الكنيسة؛ أخدم، وأصلي، وأتعلم. وكان هذا الأسقف رجل سوء في دينه، ثم مات. وجاؤوا بآخر خيرا منه، فلما حضرته الوفاة، قلت له: إلى من توصي بي؟ قال: أي بني، ما أعرف أحدا من الناس على مثل ما أنا عليه، إلا رجلا بالموصل. فلما توفي (مات)، أتيت صاحب الموصل، وأقمت معه، ثم حضرته الوفاة، فسألته فدلني على عابد في نصيبين، فأتيته وأقمت معه فلما حضرته الوفاة، سألته، فدلني على رجل من عمورية فرحلت (سافرت) إليه، وأقمت معه، ثم حضرته الوفاة، فقلت له: إلى من توصي بي؟ فقال لي: يا بني ما أعرف أحدا على مثل ما كنا عليه آمرك أن تأتيه، ولكن هذا زمان نبي يبعث بدين إبراهيم حنيفا، يهاجر إلى أرض ذات نخل بين حرتين، فاذهب إليه إن استطعت. وإن له آيات لا تخفى: فهو لا يأكل الصدقة، ويقبل الهدية، وإن بين كتفيه خاتم النبوة، إذا رأيته عرفته. ومربي ركب، وذهبت معهم حتى وصلوا إلى وادي القرى فظلموني، وباعوني إلى رجل من يهود، فباعني إلى رجل من يهود بني قريظة. ثم خرج بي حتى قدمت المدينة فوالله ما هو إلا أن رأيتها، حتى أيقنت أنها البلدة التي وصفت لي، وأقمت معه أعمل له في نخله في بني قريظة، حتى بعث الله رسوله، وحتى قدم "المدينة" ونزل بقباء. وإني لفي رأس نخلة يوما، وصاحبي (سيدي) جالس تحتها، إذ أقبل رجل من يهود، من بني عمه، فقال يخاطبه: قاتل الله بني قيلة (أم الأوس والخزرج)، إنهم ليتقاصفون (يزدحمون) على رجل بقباء، قادم من مكة يزعمون أنه نبي فوالله ما هو إلا أن قالها حتى أخذتني رعشة. فرجفت النخلة، حتى كذت أسقط فوق صاحبي، ثم نزلت سريعا، أقول: ماذا تقولون؟ ما الخبر؟ فرفع سيدي يده وضربني، ثم قال: ما لك ولهذا؟ أقبل على عملك. فأقبلت على عملي، ولما أمسيت جمعت ما كان عندي، ثم خرجت حتى جئت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بقباء، فدخلت عليه، ومعه بعض أصحابه، فقلت له: إنكم أهل حاجة وغربة، وقد كان عندي طعام نذرته للصدقة، فلما ذكر لي مكانكم، رأيتكم أحق الناس به، فجئتكم به. ثم وضعته، فقال الرسول لأصحباه: كلوا باسم الله، وأمستك هو فلم يبسط إليه يدا. فقلت في نفسي هذه والله واحدة، إنه لا يأكل الصدقة! ثم رجعت وعدت إلى الرسول - صلى الله عليه وسلم - في الغداة، أحمل طعاما وقلت له عليه السلام: إني رأيتك لا تأكل الصدقة. وقد كان عندي شيء أحب أن أكرمك به هدية ووضعته بين يديه، فقال لأصحابه: كلوا باسم الله، وأكل معهم. قلت لنفسي: هذه والله الثانية؛ إنه يأكل الهدية! ثم رجعت فمكثت ما شاء الله، ثم أتيته، فوجدته في البقيع قد تبع جنازة، وحوله أصحابه فسلمت عليه، ثم عدلت لأنظر أعلى ظهره، فعرف أني أريد ذلك، فألقي بردائه عن كاهله، فإذا العلامة بين كتفيه، خاتم النبوة، كما وصفه لي صاحبي، فأكببت عليه أقبله وأبكي، ثم دعاني - عليه الصلاة والسلام - فجلست بين يديه، فحدثني حديثي كما أحدثكم الآن، ثم أسلمت.

baca selengkapnya..

مدن إسلامية

مدن إسلامية
قال الرسول - صلى الله عليه وسلم - : "لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد: المسجد الحرام، ومسجدي هذا، والمسجد الأقصى". والمسجد الحرام في مكة، ومسجد الرسول - صلى الله عليه وسلم - في المدينة، والمسجد الأقصى في القدس. وهذه المساجد هي أهم معالم هذه المدن.
مكة المكرمة: أشهر مدن العالم الإسلامي، تهفو إليها قلوب المسلمين جميعا من شتى بقاع الأرض، خصها الله بالتكريم عبر مختلف العصور، وأقسم بها في قوله تعالى: (لا أقسم بهذا البلد. وأنت حل بهذا البلد). وهي مسقط رأس الرسول محمد - صلى الله عليه وسلم - ومبعثه. فيها نزل الوحي، ومنها انتشر نور الحق، يبذد الكفر في كل مكان. يقصدها ملايين الحجاج كل عام، لأداء فريضة الحج، ويأتبها المعتمرون من أرجاء العالم الإسلامي.
وفي مكة الكعبة المشرفة، والمسجد الحرام، وهو أول بيت وضع للناس قال تعالى: (إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركا وهدى للعالمين). وقد بنى الكعبة نبي الله إبراهيم، وابنه إسماعيل في مكان تحيط به الجبال. قال تعالى: (وإذ يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا). وفي مكة من المشاعر المقدسة: منى، ومذدلفة، وعرفات، والصفا، والمروة، وزمزم.
المدينة المنورة: تعد المدينة المنورة المدينة الإسلامية الثانية بعد مكة، إذ يوجد فيها مسجد النبي - صلى الله عليه وسلم -. قال الرسول - صلى الله عليه وسلم - "صلاة في مسجدي هذا أفضل من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام، وصلاة في المسجد الحرام أفضل من مئة ألف صلاة فيما سواه".
بدأ تاريخ المدينة المجيد، في العصر الإسلامي بعد هجرة الرسول - صلى الله عليه وسلم - إليها. ومنذ ذلك اليوم، صارت المدينة مقرا للإسلامي، ومصدرا للنور الذي انطلق، لينير العالم بنور الإيمان والهدى. وفي المدينة مسجد قباء، أول مسجد أسس على التقوى. وفيها جبل أحد الذي وقعت عنده غزوة أحد.
القدس: القدس هي المدينة الثالثة عند المسلمين، لأن فيها المسجد الأقصى المبارك، الذي أسرى الله برسوله إليه من المسجد الحرام، قال تعالى: (سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصا الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير). والمسجد الأقصى، أولى القبلتين، وقد بقي قبلة للمسلمين حتى السنة الثانية للهجرة، حيث تحولت القبلة إلى المسجد الحرام، كما قال تعالى: (قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها فول وجهك شطر المسجد الحرام وحيث ما كنتم فولوا وجوهكم شطره).
القدس عاصمة فلسطين، اغتصبها اليهود عام 1948م، وقد قسمت إلى قسمين: هما القدس الشرقية القديمة، وفيها المسجد الأقصى، وقد ظلت جزءا من الضفة الغربية في المملكة الأردنية الهاشمية إلى أن وقع عدوان اليهود عليها سنة 1967م فاحتلتها إسرائيل، ضمن ما احتلت من الأراضي العربية. والقدس الغربية الجديدة، وهي تحت الاحتلال اليهودي منذ عام 1948م.

baca selengkapnya..

الترويح في الإسلام

الترويح في الإسلام
النفس الإنسانية تمل من الجد والعمل، ويدخلها السأم من كثرة العمل. لهذا تجيز تعاليم الإسلام للإنسان أن يروح عن نفسه، من وقت لآخر،باللهو المباح، ويمارس من الأنشطة الترويحية المباحة، ما يعود عليه بالفوائد الجسمية، والروحية، والعقلية، ويجدد نشاطة في الحياة، ويدفعه إلى مزيد من العمل والعبادة.
ولنا في رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أسوة حسنة. فقد كان يضحك ويمزح بالقول الصادق، فقد قال له الصحابة، رضوان الله عليهم: إنك لتداعبنا. فقال لهم - عليه الصلاة والسلام - : "إني لا أقول إلا حقا".
وقد جاء عنه - صلى الله عليه وسلم - أن امرأة عجوزا أنصارية، جاءته تقول: "ادع الله أن يدخلني الجنة". فقال لها: "يا أم فلان، إن الجنة لا تدخلها عجوز". فأخذت المرأة تبكي، فلما رأى ذلك منها تبسم وقال لها: "أما قرأت قول الله تعالى: (إنا أنشأناهن إنشاء. فجعلناهن أبكار. عربا أترابا).
وجاء رجل يطلب منه أن يتصدق عليه ببغير يركبه، فقال له الرسول - صلى الله عليه وسلم - : "إني حاملك على ولد الناقة". فقال له الرجل: يا رسول الله، وما أصنع بولد الناقة؟ فقال له الرسول - صلى الله عليه وسلم - : "وهل تلد الإبل إلا النوق؟!"
وكان الصحابة - رضي الله عنهم - مع الجد والاجتهاد، يتمازحون فيما بينهم، ويروحون عن أنفسهم، بممارسة بعض الأنشطة المباحة، ولم ينقص ذلك من أقدارهم. يقول علي بن أبي طالب: "إن القلوب تمل كما تمل الأبدان، فابتغوا لها طرائف الحكمة".
وأجاز الإسلام من الأنشطة الترويحية، ما يتفق مع قيمه وأخلاقه وآدابه، ولم يجعل الهدف من ممارسة النشاط الترويحي، شغل أوقات الفراغ، بل جعل الهدف استثمار أوقات الفراغ، ليجدد النشاط، وليعين على الحياة.
ليس معنى إباحة الترويح، أن تصبح الحياة كلها هزلا، وأن تتغلب روح المرح على روح الجد، وتضيع تبعا لذلك عناصر القوة، ويتخلف المسلمون عن القيام بواجبهم، ويقضى على عوامل المحبة والأخوة بينهم، ويصبح المجتمع لهيا عابثا، فالحياة أغلى من أن تضيع في لهو عابث، وتهدر في باطل لا خير من ورائه، لذلك يجب ألا يأخذ الترويح إلا قليلا من الوقت والجهد.
إن الإسلام عندما أباح الترويح بالمزاح والمداعبة، لم يقصد بعض الأساليب المنتشرة في مجتمعاتنا المعاصرة التي تؤدي أحيانا إلى إيذاء الآخرين، عن طريق السخرية منهم. فالله سبحانه وتعالى ينهانا عن السخرية من الآخرين. قال تعالى: (يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيرا منهن ولا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوا بالألقاب). كما حذرنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - من الكذب في المزاح والمداعبة، وعند إضحاك الآخرين. فقال عليه الصلاة والسلام: "ويل للذي يحدث فيكذب ليضحك به القوم، ويل له، ويل له".

baca selengkapnya..

الدين يدعو للنظافة

الدين يدعو للنظافة
النظافة ضرورية في كل شيء، وقد حث الدين على نظافة أجسامنا، ونظافة المسكن الذي نأوي إليه، ونظافة المسجد الذي نصلي فيه، ونظافة المكان الذي نعمل فيه، ونظافة الملابس التي نرتديها. وقد جعل الله النظافة والطهارة شرطا لا تتم بعض العبادات إلا به؛ فالصلاة لا تقبل إلا بالطهارة. قال الله تعالى:
(يا أيها الذين آمنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برءوسكم وأرجلكم إلى الكعبين وإن كنتم جنبا فالطهروا). ومن شروط الصلاة أيضا، طهارة المكان الذي نصلي فيه، وطهارة الملابس التي نرتديها. ولا يمس المصحف إلا بطهارة. قال الله تعالى: (إنه لقرآن كريم. في كتاب مكنون. لا يمسه إلا المطهرون).
كان الرسول - صلى الله عليه وسلم - يحرص على أن يكون المسلم نظيفا في ملابسه، وجسده، وكان يحث على السواك؛ لأنه مطهرة للفم. يقول صلى الله عليه وسلم: (السواك مطهرة للفم، مرضاة للرب). ويقول: (لو لا أن أشق على أمتي - أو على الناس - لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة). وفي حث الرسول - صلى الله عليه وسلم - على السواك دعوة للنظافة، سواء بالسواك - وهو من شجرة الأراك غالبا أو من غيرها - أو غير، فكل ما يقوم مقام السواك مفيد، كالستعمال المعاجين الطبية، في تنظيف الفم والأسنان. وقد أثبت الطب الحديث، أن في السواك مادة مطهرة تحافظ على الأسنان وجمالها.
عن جابر بن عبد الله - رضي الله عنه - قال: "أتانا رسول الله صلى عليه وسلم، فرأى رجلا شعثا، قد تفرق شعره، فقال: (أما كان يجد هذا ما يسكن شعره؟) ورأى رجلا آخر، وعليه ثياب وسخة، فقال: (أما كان هذا يجد ماء يغسل به ثوبه؟).
وجاء الإسلام بسنن الفطرة، وفيها إزالة زوائد الجسم التي قد تجمع الأوساخ. قال الرسول - صلى الله عليه وسلم - : (خمس من الفطرة: الاستحداد، والختان، وقص الشارب، ونتف الإبط، وتقليم الأظافر) وبالاتزام بهذه السنن، يتخلص الإنسان من الأوساخ التي تجمعها غالبا هذه الأجزاء من الجسم، وفيها وقاية من بعض الأمراض التي تسببها هذه الأوساخ، وإزالة لمسببات الروائح الكريهة.
والأسلام يدعو الناس إلى أن يحافظوا على نظافة الأماكن التي يعيشون فيها كالبيوت، وأماكن السكن، والمساجد، وأماكن العمل، والطرفات. فليس من الصحة، ولا من الذوق والأدب أن ترمى القمامة، وفضلات الطعام في الطريق، أو قريبا من المنازل؛ لأن في ذلك أذى للناس، وتلويثا للمكان الذي يعيشون فيه. وقد دعا الرسول - صلى الله عليه وسلم - إلى إزالة ما يؤذي الناس من الطريق. قال - صلى الله عليه وسلم - : (الإيمان بضع وسبعون ضعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان). وليس من أدب الإسلام أن يقضي الشخص حاجته في الطريق، أو في الظل الذي يجلس فيه الناس، أو في الأماكن العامة.

baca selengkapnya..

بين العربية والقرآن

بين العربية والقرآن
أليس القرآن كتاب هذا الدين؟ ثم أليست العربية لغة هذا الكتاب؟ هل عرف العالم إسلامًا بلا قرآن؟ وهل عرف العالم قرآنا بغير العربية ؟ إن ارتباط كتاب سماوي منزل بلغة بعينها - كارتباط الإسلام باللغة العربية - أمر لم نعرفه لغير هذا الدين، ولغير تلك اللغة. وإذا كان غير القرآن من الكتب السماوية المقدسة كالإنجيل الذي تم تحريفه، قد ترجم إلى لعات كثيرة، وبقي عند أصحابه كتابًا تعبديًا مقدسًا، فإن الرآن قرآن بلفظه، ونصه لم يترجم، ولا يمكن أن يترجم. وإن ترجمت أفكاره ومعانيه، فهي لا تسمى قرآنًا، ولا يصح أن تكون - في الإسلام - كتابًا تعبديًّا.
وهكذا أوجد الإسلام ارتباطًا بينه وبين اللغة العربية. وكان من أثر هذا الارتباط المبارك، أن عادت على اللغة العربية جهود وثمرات، لم يبذلها أصحبها - يوم بذلوها - إلا خدمة لهذا الدين. وليس هنا مجال الحديث عن نشأة علوم العربية، وارتباطها بخجمة الدين والقرآن. كان من مفاخر اللسان العربي، أن كان هو لغة المعجزة الخالدة القرآن.
لقد شد الإسلام أقوامًا غير عرب إلى اللغة العربية، ونشر اللغة العربية في بلاد لم يكن للعرب فيها سلطان. لقد خرجت العربية من جزيرة العرب مع الفتح الإسلامي، فإذا هي لغة أهل الشام والعراق وما وراءه، ومصر وما وراءها، وإذا هي تتعدى كونها لغة دين إلى كونها لغة شعوب ودول.
وما زال للإسلام أثره في نشر العربية وحفظها في البلاد غير العربية، وهو أثر يفوق آثار المراكز الثقافية، التي نراها اليوم منتشرة في بلاد العالم، لنشر لغات كالفرنسية، أو الإنجليزية. إن أصحاب هذه المراكز ينفقون الملايين في سبيل الدعاية لمراكزهم وثقافتهم، ونشر لغتهم، على حين أن الإسلام يجعل من أهل البلاد التي ينتشر فيها شعوبًا راغبة في تعلم لغته. وما أكثر ما نسمع أصواتًا ترتفع في تلك البلاد، مطالبة بإرسال المدرسين العرب، لتعليم اللغة العربية، أو مطالبة بقبول أبنائها في مدارس البلاد العربية وجامعاتها؛ ليتعلموا اللغة العربية!
لقد استهوى الإسلام أقوامًا؛ فحبب إليهم لغته، بل لقد كان للإسلام فضل عظيم في ظهور عدد لا يحصى من العلماء غير العرب، نبغوا في لغة العرب وعلومها من نحو وصرف وبلاغة، وحسبنا سيبويه علمًا لهذه الطائفة من العلماء غير العرب، الذين بلغوا القمة في علوم العربية، حتى أصبحوا مضرب المثل. كان للإسلام الفضل في نقل اللغة العربية، تلك النقلة الواسعة من لغة قوم إلى لغة أقوام، ومن لغة محدودة بحدود أصحابها إلى لغة دعوة، جاءت إلى البشر كافة، فكانت العربية بذلك لسان تلك الدعوة، ولغة تلك الرسالة، ومستودع ما صدر عن تلك الرسالة من فكر وحضارة.

baca selengkapnya..

اختيار الزوجة

اختيار الزوجة
منذ أن خلق الله آدم، وكتب عليه أن يعيش على الأرض، هو وذريته من بعده، والزواج أمر ضروري لاستمرار الحياة، حيث يشعر الرجل بالحاجة إلى المرأة، وتشعر المرأة بالحاجة إلى الرجل، فكلا هما يحتاج إلى الآخر. فالطعام والشراب، والسكن لا يغني عن الزواج. وهذا دليل على أهمية الزواج، الذي لا يستغني عنه عاقل.
الإسلام يسمو بالزواج عن الحيوانية، ويجعله اتصالا كريما بين الرجل والمرأة، يناسب كرامة الإنسان، وفضله على سائر المخلوقات، ويحقق المعاني الإنسانية المقصودة من الزواج يقول الله تعالى: (ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون).
اختيار الزوجة أهم مرحلة قبل الدخول في الحياة الزوجية. ذلك لأن الزواج رابطة وثيقة، وعلاقة إنسانية. وعملية الاختيار تحتاج إلى جهد، للعثور على الشريك المناسب. واختيار الزوج أو الزوجة خطوة من أهم الخطوات التي يتخذها الإنسان في حياته، فإن من يختارها الرجل، لتكون شريكة حياته، ستكون جزءا منه، وأما لأولاده، وربة لبيته.
وضع الإسلام قواعد لاختيار الزوج والزوجة الصالحة، فعلى سبيل المثال، فإن أهم صفة للزوجة، أن تكون ذات دين، يدفعها إلى أداء الحقوق التي عليها، ويمنعها من طلب ما ليس لها. وفي وصف المرأة الصالحة، يقول الله جل جلاله: (فالصالحات قانتات حافظات للغيب بما حفظ الله)[النساء 34].
وفيها يقول الرسول - صلوات الله وسلامه عليه - : "تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين، تربت يداك". وذات الدين يطمئن إليها القلب، ويأمنها المرء على نفسه وماله، وعلى نفسها أيضًا.
والمرأة لا ينبغي لها أن تقبل من الأزواج، إلا من هو على خلق ودين. يقول الرسول - صلى الله عليه وسلم - : "إذا أتاكم من ترضون خلقه ودينه فزوجوه، إن لا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض". وعلى الولي أن يستأذن موليته إن كانت بكرا، ويستأمرها إن كانت ثيبا.
ومن أهم صفات من يختارها الرجل زوجة له، أن تكون ذات خلق حسن، فتحب زوجها، وفي ذلك يقول الرسول - صلى الله عليه وسلم - : "تزوجوا الودود". والزوجة العاقلة ذات الخلق الحسن، والتربية الحسنة، تعامل زوجها معاملة حسنة، وتجنبه المشكلات.
وبعد موافقة كلا الطرفين على الآخر، واطمئنان أحدهما إلى شريك حياته، أباح الإسلام للخاطب والمخطوبة أن يرى أحدهما الآخر. قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : "إذا خطب أحدكم المرأة، فإن استطاع أن ينظر منها، إلى ما يدعوه إلى نكاحها فليفعل".

baca selengkapnya..

من أضرار التدخين

من أضرار التدخين
انتشر التدخين، وكثرت نسبة المدخنين في هذا العصر، مما ينذر بازدياد المشكلات الصحية بينهم. فقد أظهرت دراسات كثيرة أن التدخين يعرض الصحة لكثير من الأخطار، وأنه سبب لكثير من الأمراض، مثل: أمراض القلب، وسرطان الرئة، والالتهاب الرئوي، كما أنه يسبب الشيخوخة، ويزيد نسبة الوفيات.
صحيح أن كل شيء بقضاء الله، وأن الموت والحياة والمرض والصحة، كلها بيد الله، ولكن يجب أن نتذكر دائما، أن الله سبحانه وتعالى يقول: (ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة). ويقول: (ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما). والتدخين قتل للنفس، وانتحار بطيء، كما أنه ضرر بإجماع الأطباء والعقلاء. والرسول - صلى الله عليه وسلم - يقول: "لا ضرر ولا ضرار"، وقد لوحظ أن نسبة وفاة المدخنين تزداد بازدياد استهلاك السجائر.
طبقا لتقرير منظمة الصحة العالمية، فإن التدخين أخطر وباء عرفه الجنس البشري، والوفيات الناتجة عنه تعد أكثر الوفيات التي عرفها تاريخ الأوبئة وخصوصا في الدول الفقيرة، حيث تنشر شركات التبغ دعاياتها، وتبيع أسوأ أنواع السجائر وأخطرها.
وفي كل هذا دليل على خطر التدخين على البشرية، فهل يدرك صغار الشباب - بصفة خاصة - ما ينتظرهم من أخطار وأضرار، إذا مارسوا التدخين، وأقدموا عليه؟!
نتيجة لكل ما سبق، فإن المدخن يقتل نفسه بنفسه، كما ثبت أن ضرر التدخين يتعدى المدخنين أنفسهم إلى بقية أفراد المجتمع من المجاورين للمدخنين، فالتدخين ضرر متعد، لأن الدخان المتصاعد من أفواه المدخنين، يستنشقه من حولهم دوان اختيار منهم. والحرية الشخصية هنا تتعارض مع حقوق المجتمع. وكم من حريق شب بسبب المدخنين، وكانت أضراره جسيمة.
ينفق المدخنون أموالا كثيرة على السجائر، ولا يأخذون مقابل ذلك إلا ضررا وخسارة. وقد وجد أن ما ينفقه 60 مليون مدخن في أمريكا، يكلف 4 مليارات دولار في العام. وتزداد المصيبة عندما يكون المدخنون من الأسر الفقيرة، التي تستهلك السجائر أكثر دخلها، فتترك هذه الأسر الأشياء الضرورية، وتشتري السجائر، وفي هذا إضاعة للمال، وقد نهى الإسلام الإنسان عن إضاعة المال، فيما لا فائدة فيه.
لكل هذه الأسباب، وغيرها، جاء الدين الإسلامي بالنهي عن التدخين وتحريمه، لأنه بهذه الصفة لا يكون من الطيبات التي أحلت لبني آدم، بل هو من الخبائث التي حرمت عليهم. قال الله تعالى: (ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث).

baca selengkapnya..

وسائل النقل والاتصال قديمًا وحديثًا

وسائل النقل والاتصال قديمًا وحديثًا

يتكون العالم من ست قارات، ويبلغ عدد سكانه أكثر من ستة مليارات إنسان. هذا العالم الواسع، أصبح قرية صغيرة. كيف صار ذلك؟! هناك سببان، أولهما: وسائل النقل الحديثة، وثانيهما، وسائل الاتصال الحديثة.

كانت وسائل النقل في العصور القديمة بطيئة جدًّا، وكان الناس يسافرون مشيًا على الأقدام، ويحملون حاجتهم على ظهورهم أو رؤوسهم. ثم أخذ الناس يستعملون الحيوانات؛ كالجمال والبغال والحمير في نقل حاجاتهم. بعد مدة، صنع الإنسان عربات صغيرة، لها أربع عجلات، تسير دون محرك، ثم صنعت بعد ذلك المراكب الشراعية، التي تسير على الماء.

صنع الإنسان في العصر الحديث مركبات، تعمل بالمحركات، فظهر كثير من وسائل النقل الحديثة؛ مثل: السيارات، والقطارات، والسفن، والطائرات. جعلت هذه الوسائل العالم قرية صغيرة؛ فالإنسان ينتقل في ساعات، من بلد إلى بلد، ومن قارة إلى قارة. وهذا يختلف عما كان في الماضي، حيث كان الإنسان يحتاج إلى أيام وشهور، لينتقل من مدينة إلى مدينة.

أما السبب الثاني، الذي جعل العالم قرية صغيرة، فهو وسائل الاتصال الحديثة مثل: الصحف، والهاتف، والإذاعة، التلفاز، والحاسوب، والشبكة الدولية التي جعلت الإنسان يعرف أولا بأول، ما يحدث في جميع بلاد العالم. كانت وسائل الاتصال في العصور القديمة بطيئة جدا، فالإنسان يرسل الأخبار والمعلومات، عن ظريق صوت، أو عن طريق العدائين، أو عن طريق الحمام الزاجل. وكانت الأخبار تصل بعد مدة طويلة، وقد لا تصل في كثير من الأحيان.

baca selengkapnya..

أركان الإسلام الخمسة

أركان الإسلام الخمسة
قال الرسول - صلى الله عليه وسلم - (بني الإسلام على خمس: شهادة ألا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان). وهذا تعريف بأركان الإسلام.
الركن الأول: الشهادتان (لا إله إلا الله محمد رسول الله). وهما مفتاح الدخول إلى الإسلام، فمن قالهما، فقد دخل في الإسلام.
الركن الثاني: الصلاة، وهي عمود الدين. قال صلى الله عليه وسلم: (رأس الأمر الإسلام، وعموده الصلاة، وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله). وهي أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة. قال صلى الله عليه وسلم: (أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله، وإن فسدت فسد سائر عمله). والصلوات خمس: صلاة الفجر والظهر والعصر والمغرب والعشاء. وللصلاة أوقات معينة. قال تعالى: (إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا).
الركن الثالث: الزكاة، وهي ما يخرجه المسلم من المال إلى الفقراء. قال تعالى: (خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها).
الركن الرابع: الصيام، وهو أن يترك الإنسان شهوتي البطن والفرج، من الفجر إلى غروب الشمس. قال تعالى: (يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون). وللصائم أجر عظيم. قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: (من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه).
الركن الخامس: الحج، ويكون في مكة لأداء المناسك. قال تعالى: (ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا). ويجب الحج على المسلم مرة واحدة في العمر لمن استطاع إليه سبيلا.

baca selengkapnya..

الصحة بين الماضي والحاضر

الصحة بين الماضي والحاضر
كانت علامة الصحة - في الماضي - أن يكون الإنسان سمينا، كثير اللحم والشحم، فالإنسان السمين هو الصحيح، والإنسان النحيف هو المريض. وكان الناس يأكلون كثيرا إذا وجدوا الطعام. وكان الرجال يفضلون الزواج بالمرأة السمينة، ولا يحبون الزواج بالمرأة النحيفة.
تقدم الطب كثيرا الآن، وظهر أن هناك أمراضا تصيب الشخص السمين، وهي أمراض خطيرة، مثل: أمراض القلب، والسكري، وضغط الدم. لقد أصبحت البدانة - اليوم - علامة على المرض، وأخذ الناس يتبعون الحمية، فيتناولون طعاما قليلان ويبتعدون عن السكريات والدهون والنشويات.
وأصبح الأطباء يحذرون الناس من الطعام الأبيض، والحليب كامل الدسم قائلين: ابعتد عن السكر. ضع قليلا منه في الطعام. لا تأكل الخبز الأبيض، كل الخبز الأسمر. لا تأكل الأرز الأبيض، كل الأرز الأسمر. وأصبح الناس يتبعون الحمية، فيأكلون قليلا من اللحم الأحمر، والبيض، ويتناولون كثيرا من السمك والدجاج والخضراوات، والفواكه.
نهى الأسلام عن الأسراف في الطعام، لأن الأكل الكثير يضر الإنسان. قال تعالى: (وكلوا واشربوا ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين). وقال الرسول - صلى الله عليه وسلم - : "ما ملأ آدمي وعاء شرا من بطنه، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه".

baca selengkapnya..

جائزة الملك فيصل العالمية

جائزة الملك فيصل العالمية

تمنح مؤسسة الملك فيصل الخيرية، منذ عام 1397هـ، خمس جوائز عالمية، في خمسة مجالاا، هي: خدمة الإسلام، والدواسات الإسلامية، والأدب العربي، والطب، والعلوم. وتتكون الجائزة من شهادة، تحمل اسم الفائز، وملخصًا للعمل الذي حصل به على الجائزة، وميدالية ذهبية، ومبلغ 750.000ريال.

فاز بجوائز الملك فيصل كثير من العلماء، من الشرق والغرب. ومن أشهر الذين نالوا جائزة خدمة الإسلام: أبو الأعلى المودودي من باكستان، وأبو الحسن الندوي من الهند، وأحمد ديدات من جنوب إفريقيا، وعبد العزيز بن باز من السعودية. ومن الذين حصلوا على جائزة الدراسات الإسلامية: فؤاد سزكين من تركيا، ويوسف القرضاوي من مصر، ومصطفى الزرقاء من سوريا. ومن الذين حصلوا على جائزة الملك فيصل في الأدب العربي: عبد السلام هارون، وعائشة عبد الرحمن من مصر، وناصر الدين الأسد من الأردن، وعبد الله الطيب من السودان.

من الذين حصلوا على جائزة الطب: مايكل فيلد من أمريكا، وماريو رينريتو من إيطاليا، وألبرت رينولدز من سويسرا. ومن أشهر الذين نالوا الجائزة في العلوم: أحمد زويل من أمريكا، وهو مصري الأصل. ومايكل عطية من بريطانيا، وهو مولود في السودان، وهيربرت فالتر منألمانيا.

baca selengkapnya..

عمل خير من مسالة

عمل خير من مسالة
العمل نعمة من نعم الله، ولا يعرف هذه النعمة، إلا من فقدها بسبب مرض، أو غيره. ومع ذلك فبعض الناس لا يحبون العمل، ويعتمدون على غيرهم، أو يتسولون في الطرق. قال الرسول صلى الله عليه وسلم: "ما أكل أحد طعامًا قط خيرًا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود كان يأكل من عمل يده" وقال: "لأن يأخذ أحدكم حبله، ثم يغدو إلى الجبل، فيحتطب، فيبيع، فيأكل، ويتصدق خير له من أن يسأل الناس".
ذهب رجل فقير إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وسأله شيئًا، فقال له الرسول – صلى الله عليه وسلم – : هل في بيتك شيء؟ قال الأعرابي: نعم، قصعة (إناء) نأكل فيها ونشرب منها ونتطهر، وحلس (فراش) نجلس عليها، ولا شيء غير هذا. فقال له الرسول – صلى الله عليه وسلم – : ائتني بهما، فأتاه بهما، فأمسكهما بين يديه، وقال لأصحابه: من يشتري هذين؟ فقام رجل، فقال: أنا أشتريهما بدرهم، فقال: من يزد على درهم؟ فقام رجل آخر، وقال: أنا أشتريهما بدرهمين، فدفعهما إلى الرسول – صلى الله عليه وسلم – الذي سلمهما إلى الأعرابي قائلا: اشتر بأحدهما طعامًا، واذهب به إلى أهلك، واشتر بالآخر قدومًا وائتني به. فأتاه بالقدوم، فوضع فيه عودًا بيده، وقال للأعرابي: اذهب واحتطب وبع، ولا أراك خمسة عشر يومًا. وبعد انتهاء هذه المدة، رجع إليه الأعرابي وقد اشترى ثيابًا وطعامًا، فقال له الرسول – صلى الله عليه وسلم – : أليس هذا خيرًا لك من أن تسأل الناس أعطوك أو منعوك؟

baca selengkapnya..
BM
krelzz