oleh : Yunizar Suwandhana (KPKM BEM REMA UPI) "Di Sini Kita pernah bertemu, mencari warna seindah pelangi, ketika kau mengulurkan tanganmu, membawaku ke daerah yang baru, hidupku kini ceria...." Matanya berkaca-kaca ketika laki-laki itu selesai membaca dan merenungi isi mushaf di tangannya siang itu. Dia itu begitu berharap pada seorang perempuan yang dia yakin perempuan itu sangat menginspirasi dan membawa dia ke dalam hidup baru yang ceria, ada kilasan-kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari...dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan. Berawal dari sebuah pertemuan dan terjalinlah persahabatan. Perempuan itu adalah aktivis muda yang enerjik, ramah, rendah hati, cerdas dan tentunya cantik, tidaklah heran jika ia menjadi perbincangan kaum adam. Laki-laki dan perempuan itu bersahabat, erat bahkan sangat akrab, mereka sepasang sejoli yang mempunyai minat yang sama, cita-cita besar yang sama dan lahan garapan dakwah yang sama. Sehingga kedekatan itu membawa semangat laki-laki itu untuk terus menggali potensi dirinya sebagai penyeru agama Allah. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita, curahan hati, saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu mengatasnamakan persahabatan. Sesungguhnya di hati masing-masing telah tergores sebuah rasa. Ya .....rasa Cinta yang begitu dalam. Dan kembali mereka saling curhat dan berbagi cerita. Ada gelak tawa dan canda di sana. Mereka berdua menyimpan ‘rasa’ itu, mereka saling menyimpan rahasia hati mereka masing-masing, mereka berdua baru bisa memperlihatkan pada aktivitas memberi dan menerima. Sedangkan rasa itu tetap terpendam di lubuk yang paling dalam dihati mereka masing-masing. Mereka memahami ‘rasa’ itu tidak boleh terungkap karena takut terjebak dalam hubungan yang tidak dihalalkan syariat. Mereka memahami itu dan memegang kokoh nilai-nilai ini. Dan rasa itu memang hanya ada di hati mereka masing-masing. Hanya Allah dan mereka sendiri yang tahu kalau mereka saling mencintai. Namun laki-laki itu tidak bisa menjaga dengan baik cinta yang ada dalam hatinya, dia sering mengungkapkan isi hatinya dengan suatu hal yang tidak perempuan itu sukai. Kesalahan itu tidak sekali dilakukannya, hingga membuat perempuan itu merasa kesal dan sedikit terganggu. Perlahan rasa cinta itu mulai pudar ditandai dengan kedekatan yang berkurang.. Laki-laki itu sangat menyesalkan dengan apa yang diperbuatnya, namun perempuan itu sudah tidak menunjukan lagi cinta yang dulu terasa dan mulai banyak yang berubah. Inilah kehidupan ada suka maupun duka, ada gembira ada sedih, ada bahagia ada sengsara, ada pertemuan ada perpisahan. Tak ada jaminan persahabatan mereka bisa mencapai puncak kejayaan yaitu pernikahan atau mereka akan tetap menjadi dua sejoli yang istiqomah dengan persahabatannya, hanya waktulah yang dapat menjawab itu semua. Laki-laki itu pun terus mentafakuri dirinya dan berserah diri agar kelak Allah ridha bahwasanya dialah yang Allah izinkan untuk menjaga dan menafkahinya sepanjang hayat. "Mengapakah Kita dipertemukan bila akhirnya di pisahkan, mungkinkah menguji kesetiaan, kejujuran dan kemanisan iman, Tuhan berikan hamba kekuatan.....".
baca selengkapnya..Transaksi CInta Buat Kontroversi Hati
di terbitkan oleh Yunizar Suwandhana 0 komentar
Label: artikel islami
Islam dan Bahasa Arab
إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya”
2. Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad dan bahasa verbal para sahabat. Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita dengan berbahasa Arab. Demikian juga kitab-kitab fikih, tertulis dengan bahasa ini. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.
3. Susunan kata bahasa Arab tidak banyak. Kebanyakan terdiri atas susunan tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.
4. Indahnya kosa kata Arab. Orang yang mencermati ungkapan dan kalimat dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas dan padat.
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami, bahasa Arab
Pahami, Lihat dan Dengarkanlah!
PANTAS saja Ia hanyalah hewan yang tidak mempunyai akal, ia tidak bisa memahami apa yang saya katakan..
Tapi ketika saya berbicara didepan seorang wanita yang tidak memakai pakaian sempurna, persis seperti yang saya katakan pada kambing tadi secara Gamblang. ia juga TAK MAU memahami apa yang saya katakan.. Malah ia berkata "Alah,,, sok suci Lo!!! Kalo mau dakwah di Masjid Aja bukan disini tempatnya. "
Saya kaget!!! Lho kok seperti ini jawabannya!!!
mungkin benar firman Allah didalam surat Al-araf ayat 179:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan isi Neraka Jahannam kebanyakan jin dan manusia, mereka mempunyai hati (akal) tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al A’raf 179)
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami, inspirasi
Yang terlupakan
Setelah habis, iman pun langsung menemui pak rudi dan berterima kasih kepadanya. Saking senangnya, ia berterima kasih dengan sangat berlebihan. Tak disangka, ternyata pak rudi tak senang dengan perlakuan yang diberikan oleh Iman kepadanya. Ia pun marah besar dan mengatakan kepadanya "DASAR PEMUDA TAK TAHU TERIMA KASIH!!!"
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami, inspirasi
Ramadhan Tanpa Khilafah
Oleh: Hafidz Abdurrahman
Ada yang berbeda, ketika Ramadhan di bawah naungan Khilafah, dengan ketika Khilafah telah tiada. Tanpa Khilafah, bulan suci Ramadhan 1432 H yang mulia ini telah berubah. Di tangan umat yang telah mengalami kemunduran intelektual, bulan suci yang agung ini telah berubah dari bulan Perang Badar (17 Ramadhan 2 H), Pembebasan kota Makkah (20 Ramadhan 8 H), Pembebasan Sind, India (6 Ramadhan 92 H), Pembebasan Andalusia (awal Ramadhan 91 H), Pembebasan Shaqliyyah (9 Ramadhan 212 H), Pembaiatan Khalifah al-Qadir (11 Ramadhan 381 H), Perang 'Ain Jalut (25 Ramadhan 658 H), Pembebasan Antiock (awal Ramadhan 666 H) dan bulan bekerja keras berubah menjadi bulan bermalas-malasan, hiburan, liburan dan jor-joran.
Beberapa dekade telah berlalu, dan Ramadhan pun selalu kita tinggalkan di belakang kita seperti anak yatim, meratap dan tak berdaya. Tiap tahun Ramadhan selalu menghampiri kita, dan begitu cepat berlalu; dilupakan dan tidak tercatat sedikit pun dalam lembarannya kemunduran demi kemunduran kita..
Bagaimana Ramadhan tidak berlalu dari kehidupan kita dengan cepat, ketika kita terus-menerus tenggalam dalam pemandangan yang hina dina, berulang-ulang setiap tahun. Virus-virus mematikan yang menyebarkan berbagai kejahatan dan racun dengan bentuk dan warnanya, disaksikan dan didengarkan semua orang dengan mata dan telinga mereka, disebarkan melalui media massa. Semuanya bersembunyi dengan kedok acara Ramadhan.
Ini adalah bulan suci Ramadhan. Bulan al-Qur'an, yang diturunkan sebagai pembeda antara yang haq dan batil. Al-Qur'an telah dijadikan sebagai hukum untuk umat manusia, dan way of life mereka. Diturunkan dari langit untuk dibaca dan ditelaah, serta menjelaskan hukum pemerintahan, guna memberikan gambaran road map kepada umat manusia agar bisa meraih hidayah dan taufik-Nya. Sementara kini, kita menyaksikan al-Qur'an diterlantarkan dari kehidupan; diperangi oleh penguasa, diangungkan hanya dengan dicium, tetapi isinya terus diinjak-injak, kemudian diletakkan di rak-rak buku.
Ramadhan adalah bulan kemenangan dan pembebasan. Di situlah momentum Perang Badar Kubra bisa kita saksikan. Pembebasan kota Makkah yang tidak mungkin kita hapus dari ingatan. Di bulan ini, 'Amuriyah, salah satu kota penting Romawi setelah Konstantinopel, dibebaskan setelah seorang wanita menjerit, Wa Mu'tashimah (Wahai Mu'tashim)! Diikuti dengan Perang 'Ain Jalut, dimana tentara Tatar berhasil dikalahkan, dan dikejar oleh Sultan Qutuz. Kepada tentaranya, dia serukan, Wa Islamah (Wahai Islam)! Dengan mengangkat kedua tangannya ke langit, bermunajat kepada Allah, seraya berkata, Ya Allah wa Baghdad! Dan masih banyak peristiwa heroik lainnya di bulan sucin ini.
Tetapi sekarang, lihatlah al-Aqsha masih dalam cengkraman agresor, Yahudi; Afganistan, Irak dan Pakistan juga bernasib sama, masih dalam cengkraman agresor Amerika, Inggris dan negara-negara penjajah lainnya. Dan tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya. Irak setiap hari menjadi saksi penodaan kehormatan kaum Muslim. Tanah Afganistan, Pakistan hingga Uzbekistan pun mengadukan nasibnya kepada Allah, dan siapa saja yang menelantarkan dan menjualnya. Para aktivis dan pejuang Islam pun banyak mendekam di penjara-penjara bawah tanah, disiksa dan mati syahid, hanya karena mereka menyatakan, "Tuhan kami adalah Allah SWT."
Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan agung dan sangat dihormati. Di bulan ini, kaum Muslim menjadi rahib di malam harinya, sedangkan di siang harinya menjadi para pekerja keras. Di bulan yang mulia ini mereka telah meraih berbagai capaian besar. Namun sekarang, tiap penguasa justru memanfaatkan hilal untuk memecah belah kaum Muslim, serta menjauhkan mereka dari persatuan. Alih-ahli menjadikan Ramadhan sebagai bulan kerja keras dan sungguh-sungguh, justru Ramadhan telah dijadikan sebagai bulan libur tahunan. Masyarakat pun dihinggapi sifat malas dan santai, seolah-olah Ramadhan adalah bulan tidur di siang hari, serta begadang hingga tengah malam untuk melakukan hal-hal bodoh.
Begitulah, kita melihat Ramadhan sebagai syiar yang tercerabut dari hukum, sejarah dan memori kemuliaan yang melekat pada dirinya. Ini jelas merupakan upaya sistematis untuk membelokkan Islam agar menjadi agama asketis, yang tidak mempunyai pengaruh dalam kehidupan, yang menjadi tujuan hidup umat Islam. Mencerabut Islam dari hukum-hukumnya, kesucian maknanya hingga rukun dan kewajiban yang terkait dengan jamaah, masyarakat, negara dan umat. Dengan proyek Deradikalisasi Islam, jihad telah dibelokkan untuk perang melawan hawa nafsu. Sedangkan memerangi kaum Kafir yang jelas-jelas menyerang Islam dan kaum Muslim tidak boleh, dan dicap sebagai aksi terorisme. Kewajiban mengubah kemunkaran, dan mengenyahkan thaghut, digambarkan sebagai mencelakakan diri sendiri. Sedangkan menegakkan Islam dalam negara Khilafah untuk melindungi umat, menjaga agama dan memakmurkan dunia dianggap ilusi. Sementara tunduk pada Barat dan bersikap pragmatis, bahkan oportunis dianggap sebagai sikap cerdas.
Mungkinkah sejarah keagungan Ramadhan akan terulang kembali? Jelas mungkin. Tentu tidak mustahil semuanya itu akan kembali lagi, hingga tiap mata orang Mukmin akan meneteskan air mata. Allah SWT akan senantiasa diangungkan dengan sebenar-benarnya. Menara-menara masjid akan mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan doa. Masjid-masjid akan menjadi taman-taman surga; pusat ilmu pengetahuan; universitas bagi para ulama' dan intelektual; para perwira tentara dan polisi akan memacu kendaraan mereka untuk memerangi musuh, bukan menangkap para ulama' dan pengemban dakwah. Media massa, iklan dan sarana komunikasi lainnya akan digunakan untuk membangun kesadaran umat; meniupkan spirit keimanan yang melahirkan ketenteraman, kerelaan dan mengalahkan dunia untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ya, Ramadhan akan kembali menjadi mercusuar, yang mampu meleburkan makna persatuan, dan mampu menyatukan hubungan manusia dengan penciptanya. Bendera tauhid, Lailaha Illa-Llah Muhammad Rasulu-Llah akan berkibar ke seluruh penjuru Dar al-Islam. Sebab, dakwah kepada Allah tetap berjalan, meski berbagai rintangan, kesulitan dan tantangan menghadang. Keimanan telah menenangkan jiwa para pemuda Mukmin sebagai orang Islam yang sebenarnya semata untuk meraih ridha Allah. Demikian juga mafhum kebangkitan benar-benar telah mengakar dalam benak mereka, dan tetap kokoh bersemayam di sana. Mereka pun bisa mewujudkan misi mendirikan Khilafah, yang sering dicap sebagai mission imposible, menjadi mission posible dengan izin dan pertolongan Allah.
Inilah momentum itu. Kami rindu menyaksikannya ada padamu, wahai Ramadhan. Kami pun yakin, kamu pun merindukannya. Saat itu, kita bisa bersama-sama berhenti lama, siang dan malam, untuk berjuang, berdoa, mencari ilmu, berjihad dan berijtihad demi kebaikan yang membawa manfaat bagi seluruh makhluk, serta diridhai oleh Allah SWT. Namun, momentum itu hanya akan kita temukan, ketika kamu dan kami, sama-sama dalam naungan Khilafah Rasyidah.. Tanpanya, kondisi kita akan tetap papa dan hina dina seperti saat ini.
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami
Hukum Memanfaatkan Barang Gadai (Rahn)
Tanya :
Bagaimanakah hukum memanfaatkan barang gadai (rahn)? Misalnya, seseorang menggadaikan motornya kepada si Fulan. Bolehkah Fulan mengendarai motor tersebut?
Jawab :
Perlu dipahami lebih dahulu bahwa pada saat penggadai (rahin) menyerahkan barang gadai (rahn/marhun) kepada pemegang gadai (murtahin), tak berarti barang gadai itu menjadi milik pemegang gadai, tapi tetap milik penggadai (rahin). Dalilnya hadits Abu Hurairah RA, dia berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Tak terhalang barang gadai dari pemiliknya yang telah menggadaikannya. Pemiliknya berhak mendapat keuntungannya, dan dia menanggung kerugiannya." (HR Syafi'i & Daruquthni, hadis hasan).
Hadits di atas menunjukkan barang gadai tak terpisahkan dari pemiliknya, yaitu penggadai. Jadi yang memiliki barang gadai termasuk manfaat yang muncul darinya adalah tetap penggadai, bukan pemegang gadai. Keberadaan barang gadai di tangan pemegang gadai hanyalah sebagai kepercayaan dalam utang piutang (dain) antara penggadai dan pemegang gadai, bukan berarti pemegang gadai lalu memilikinya atau berhak memanfaatkannya. (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 2/340; Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 6/62).
Maka penggadai tetap berhak atas manfaat barang gadai dan tetap berhak pula mengambil imbalan (ujrah) ketika barang gadai disewakan kepada orang lain, baik orang lain itu pemegang gadai atau bukan. (Taqiyuddin An-Nabhani, ibid., 2/343).
Dalam kasus yang ditanyakan, jika pemegang gadai mengendarai motor yang digadaikan dengan akad sewa (ijarah), hukumnya boleh. Namun kalau pemegang gadai mengendarai motor itu tanpa imbalan, ada rincian hukum syara' sebagai berikut :
Pertama, jika utang piutang (dain) yang ada bukan qardh (pinjam uang), misalnya utang karena jual beli yang belum dibayar harganya, atau karena ijarah yang belum dibayar sewanya, atau utang lainnya selain qardh, boleh pemegang gadai (murtahin) memanfaatkan barang gadai, dengan seizin penggadai (rahin). Mengapa boleh? Karena dalam hal ini tak terdapat nash yang melarangnya dan manfaat itu tak memenuhi definisi riba mengingat tak ada qardh di sini.
Kedua, jika utang piutang (dain) yang ada berupa qardh (pinjam uang), hukumnya tidak boleh pemegang gadai memanfaatkan barang gadai, walaupun diizinkan oleh rahin. Mengapa tidak boleh? Karena terdapat nash yang melarangnya dan karena manfaat itu termasuk riba yang diharamkan dalam akad qardh. Dari Anas RA dia berkata, "Rasulullah SAW ditanya,'Seorang laki-laki dari kami meminjamkan (qardh) harta kepada saudaranya, lalu saudaranya memberi hadiah kepada laki-laki itu. Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Jika salah seorang kalian memberikan pinjaman (qardh), lalu dia diberi hadiah, atau dinaikkan ke atas kendaraan si peminjam, maka janganlah dia menaikinya dan janganlah menerimanya. Kecuali hal itu sudah menjadi kebiasaan sebelumnya di antara mereka." (HR Ibnu Majah)
Berdasarkan hadits ini, haram hukumnya pemegang gadai memanfaatkan barang gadai, jika utangnya berupa qardh. Kecuali, jika sebelumnya di antara mereka berdua sudah terbiasa saling memberi atau meminjamkan barang, maka hukumnya boleh. (Taqiyuddin An-Nabhani, ibid., 2/341-343).
Jadi, dalam kasus di atas, jika utang piutangnya bukan qardh, Fulan boleh mengendarai motor yang menjadi barang gadai tanpa imbalan, asalkan diizinkan penggadai (pemilik motor). Jika utang piutangnya berupa qardh, Fulan tak boleh mengendarai motor tersebut, walaupun diizinkan penggadai. Kecuali jika sebelumnya di antara mereka berdua sudah terbiasa saling memberi atau meminjamkan barang, hukumnya boleh. Wallahu a'lam. (ust siddiq al jawwie)
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami
Jalan Kebenaran
Memperjuangkan Tegaknya Islam adalah Sebuah perjuangan yang tidak mudah. perlu pengorbanan besar. Karena bahwasannya Kebenaran itu secara fitrahnya pasti menemui berbagai macam kesulitan, hambatan, dan cobaan.
Jalan kebenaran memanglah penuh onak dan duri. yang tentunya kita dituntut untuk bersungguh-sungguh 100 % menggunakan seluruh tenaga kita, fikiran kita untuk memperjuangkannya. Berbeda halnya dengan kemaksiatan, seolah-olah ketika kita melakukan berbagai pekerjaan yang melanggar hukum-hukum Allah, melanggar syariat Allah, terasa mudah dan lancar-lancar saja.kenapa??? karena setan tidak mengganggu dan tidak merusakkan orang yang sudah Rusak.
Memegang teguh Agama Islam ibarat memegang Bara APi, dimana ketika kita terus-menerus memegang bara api itu tangan kita lama-lama akan merasakan sakit luar biasa yang bisa melelehkan tangan kita, saking panasnya bara Api itu. begitu pun dengan Islam, memegang islam dengan sekuat-kuatnya kita akan merasakan dahsyatnya Cobaan yang menimpa kita. bisa jadi cobaan yang datang pada kita tak hanya terbatas pada caci maki dan ejekan bahkan akan sampai pada penyiksaan, dan pembunuhan.
Tapi jangan takut kawan, semua cobaan yang datang kepada kita akan dibalas oleh Allah dengan Surga-Nya dan akan meningkatkan derajat kita untuk meraih ridho-Nya.
Karena itu kita tak boleh takut dengan berbagai cobaan yang datang kepada kita, karena fitrahnya kita akan mendapatkan cobaan itu apabila kita memperjuangkan kebenaran. kita harus sungguh-sungguh ikhlas memperjuangkan agama islam ini, agar Islam kembali memimpin dunia, dan memberikan kesejahteraan pada penduduk dunia. dimana hukum-hukum Allah diterapkan diberbagai sendi kehidupan. dan seluruh aktivitas manusia berdasarkan keimanan kepada Allah Swt. baca selengkapnya..
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami
Istiqamah di Jalan Dakwah
Sejak Baginda Nabi SAW memulai dakwah secara terang-terangan di Makkah, orang-orang kafir mulai memutar otak untuk mencari cara dari mulai yang paling halus hingga yang paling kasar dan kejam untuk menggagalkan dakwah Nabi SAW. Mula-mula mereka melontarkan isu bahwa Muhammad SAW adalah orang gila. Lalu beliau juga dituduh sebagai penyihir yang bisa memecah-belah bangsa Arab. Tujuannya, agar orang-orang Arab tidak mendekati, apalagi mendengarkan kata-kata Muhammad. Itulah ujian yang pertama dan paling ringan yang dialami Baginda Rasulullah SAW.
Tatkala Quraisy melihat bahwa Muhammad tidak berpaling sedikitpun dari jalannya, mereka lalu berpikir keras untuk membenamkan dakwah Muhammad SAW dengan berbagai cara yang lebih keras. Secara ringkas ada empat cara yang mereka lakukan: mengolok-olok, mendustakan dan melecehkan Rasul; membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Rasul dan melancarkan propaganda dusta; menentang Alquran dan mendorong manusia untuk menyibukkan diri menentang Alquran; menyodorkan beberapa bentuk penawaran agar Rasul mau berkompromi, yang tujuan akhirnya adalah menyimpangkan bahkan menghentikan dakwah beliau (Syaikh Shafiy ar-Rahman al-Mubarakfuri, ar-Rahîq al-Makhtûm).
Akan tetapi, semua cara ini pun gagal. Namun, mereka tidak mengendorkan kesungguhan untuk memerangi Islam serta menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang yang masuk Islam.
Fitnah dan ujian juga dilakukan terhadap Baginda Nabi SAW oleh Abu Lahab dan istrinya, Abu Jahal dan istrinya, Uqbah bin Abi Mu'ith, Adi bin Hamra' ats-Tsaqafi dan Ibn al-Ahda' al-Huzali. Salah seorang dari mereka pernah melempar Nabi SAW dengan isi perut domba yang baru disembelih saat beliau sedang shalat. Ada juga yang melemparkan kotoran domba itu ke periuk beliau. Uqbah bin Abi Mu'ith bahkan pernah meludahi wajah Nabi SAW, Ubay bin Khalaf pernah meremukkan tulang-belulang, lalu menaburkannya di udara yang berhembus ke arah Rasul SAW, Utaibah bin Abi Lahab pernah menyerang Nabi SAW, Uqbah bin Abi Mu'ith pernah menginjak pundak beliau yang mulia.
Semua itu dialami Baginda Rasulul-lah SAW, betapapun mulianya kedudukan beliau dan betapapun agungnya kepribadian beliau di tengah-tengah masyarakat; apalagi beliau mendapat perlindungan dari paman beliau, Abu Thalib, yang merupakan salah seorang dari Quraisy yang sangat dihormati di Makkah al-Mukarramah.
Karena itu, wajar jika para Sahabat beliau, apalagi orang-orang lemah di antara mereka, juga mendapat banyak gangguan atau siksaan, yang tak kalah kejam dan mengerikan. Paman Utsman bin Affan, misalnya, pernah diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya. Ketika Ibu Mushab bin Umair mengetahui bahwa anaknya masuk Islam, ia tidak memberi makan anaknya dan mengusirnya dari rumahpadahal ia sebelumnya termasuk orang yang paling enak hidupnyasampai kulit Mushab mengelupas. Bilal bin Rabbah juga pernah disiksa secara kejam oleh Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Lehernya diikat, lalu ia diserahkan kepada anak-anak untuk dibawa berkeliling mengelilingi sebuah bukit di Makkah. Bilal juga dipaksa untuk duduk di bawah terik matahari dalam kelaparan, kemudian sebuah batu besar di diletakkan dadanya.
Hal yang sama menimpa keluarga Yasir ra, bahkan lebih tragis. Abu Jahal menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara dan menyiksa mereka dengan kejam. Yasir ra meninggal dunia ketika disiksa. Istrinya, Sumayyah (ibu 'Ammar), juga menjadi syahidah setelah Abu Jahal menancapkan tombak di duburnya. Siksaan terhadap Ammar bin Yasir juga semakin keras. (Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Hisyam, 1/319; Muhammad al-Ghazaliy, Fiqh as-Sîrah hlm. 82.
Meski mengalami semua makar dan kekejaman yang dilakukan orang-orang kafir, Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau tetap berpegang teguh pada Islam. Mereka tetap bersabar atas semua siksaan itu dan tetap istiqamah di jalan dakwah hanya karena satu alasan: mengharap ridha Allah SWT.
Karena itu, jika hari ini para pengemban dakwah, khususnya di Tanah Air, sedang diuji dengan fitnah dikaitkan dengan terorisme, dituduh mengancam negara, diawasi dllmaka hal itu sebenarnya barulah mengalami hal yang paling ringan dari apa yang pernah dialami Baginda Nabi SAW saat pertama kali. Artinya, jika pun ujian dakwah yang mereka alami jauh lebih sadis dari sekadar fitnah/tuduhan palsu, maka tak usah khawatir. Sebab, Nabi SAW dan para Sahabat pun pernah mengalaminya.
Karena itu, istiqamah di jalan dakwah adalah hal yang sebetulnya wajar-wajar saja bagi para pendakwah. Bahkan hanya dengan tetap istiqamahlah segala makar orang-orang kafir dan antek-anteknya bisa digagalkan dan kemenangan dakwah akan segera bisa diraih dengan izin Allah SWT. Wamâ tawfîqî illâ billâh.[] arief b. iskandar baca selengkapnya..
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami
Bersungguh-sungguh menjalani ketaatan
Iman seorang Muslim memang acapkali mengalami pasang-surut. ”Al-Iman yazid wa yanqush (Iman itu bertambah dan berkurang),” demikian kata Baginda
Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan antara lain oleh al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman. Karena itu, tak sedikit Muslim yang tidak selalu berada dalam puncak
kesungguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Kebanyakan mereka bahkan sering berada dalam level terendah—titik nadir—ketaatan.
Di sinilah pentingnya setiap Muslim untuk selalu melakukan mujahadah an-nafsi (memerangi hawa nafsu) agar ia bisa selalu bersungguh-sungguh dalam
menjalankan berbagai ketaatan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman (yang artinya): “Orang-orang yang bermujahadah di jalan Kami pasti akan Kami tunjuki ke jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah selalu beserta orang-orang yang berbuat kebajikan” (TQS al-Ankabut: 69).
Setiap Muslim wajib terus-menerus berada dalam ketaatan kepada Allah SWT selama hayat dikandung badan, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Beribadahlah engkau kepada Tuhanmu hingga datang al-yaqin (maut) kepadamu” (TQS al-Hijr: 99).
Ketaatan sesungguhnya mencakup semua hal yang wajib dan yang sunnah. Yang wajib jelas tak boleh ditinggalkan. Yang sunnah pun jangan disepelekan. Keduanya merupakan sarana yang bisa mengantarkan pada taqarrub (pendekatan) kepada Allah SWT (HR al-Bukhari).
Sayang, karena faktor kesibukan duniawi atau faktor kemalasan, banyak individu Muslim yang tidak selalu bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan ini. Padahal mereka sehat dan punya banyak waktu luang. Namun, semua itu sering tak termanfaatkan dengan baik, kecuali untuk urusan dunia ataupun hal yang sia-sia. Padahal Baginda Rasulullah SAW telah mengingatkan, ”Ada dua kenikmatan yang sering tak dihargai oleh kebanyakan manusia: sehat dan waktu luang.” (HR al-Bukhari).
Terkait kesungguhan dalam ketaatan kepada Allah SWT ini tentu kita pantas malu dengan Baginda Rasulullah SAW. Meski beliau sudah dijamin masuk surga, ibadah beliau kepada Allah SWT sungguh luar biasa, seperti orang yang paling takut terhadap azab-Nya. Dalam hal ini, Ummul Mukminin Aisyah RA pernah bertutur: Baginda Rasulullah SAW senantiasa menunaikan shalat malam hingga sering kedua kakinya bengkak-bengkak (karena begitu lama beliau berdiri, pen.). Aku pun bertanya kepada beliau, ”Mengapa engkau melakukan ini semua, duhai Rasulullah, padahal Allah benar-benar telah mengampuni dirimu, baik terkait dosa masa lalu maupun dosa yang akan datang?” Baginda Nabi SAW balik bertanya, ”Tidak bolehkah kalau aku ini menyukai untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (Mutaffaq 'alaih).
Demikianlah Baginda Rasulullah SAW. Sebaliknya, diri kita yang tak dijamin masuk surga sering malah bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Di sisi lain, kita tidak jarang malah 'rajin' melakukan kemaksiatan kepada-Nya.
Memang, tidak mudah kita meneladani ketaatan Baginda Nabi SAW. Sebab, jalan ke surga sering terhalang oleh berbagai onak dan duri, sebaliknya jalan ke neraka malah dihiasai oleh ragam syahwat (kenikmatan dan kesenangan dunia). Demikian sebagaimana sabda Baginda Nabi: ”Neraka itu dihiasi oleh ragam kesenangan dunia (syahwat), sementara surga tertutupi oleh hal-hal yang tidak disukai.” (Mutaffaq 'alaih).
Makna di balik ungkapan Baginda Nabi SAW ini adalah: Kita hanya mungkin selamat dari azab neraka jika kita banyak meninggalkan kesenangan dunia, baik yang mubah (halal), makruh, apalagi yang haram. Sebaliknya, kita hanya mungkin bisa masuk surga dengan justru melakukan banyak hal yang sering tidak kita sukai: kesungguhan dan kesabaran dalam menjalankan ketaatan.
Di dalam banyak haditsnya Baginda Rasulullah banyak mendorong setiap Muslim untuk selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan. Beliau, misalnya, bersabda, ”Jenazah itu biasa diiringi oleh tiga hal: keluarganya; hartanya; dan amalnya. Dua hal akan kembali. Satu hal akan tetap tinggal. Keluarga dan hartanya kembali, sementara amalnya tetap tinggal (menyertai jenazah).” (Mutaffaq 'alaih).
Hadits ini secara tersurat mengingatkan kita agar bersungguh-sunguh dalam memperbanyak amal salih karena itulah yang akan menjadi teman setia kita saat kita wafat dan menghadap Allah SWT kelak, bukan keluarga atau harta; kecuali—sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW—anak-anak yang shalih, ilmu yang pernah diamalkan dan harta yang pernah disedekahkan sebagai amal jariah.
Baginda Rasulullah SAW juga pernah bersabda, ”Hendaklah engkau banyak bersujud. Sebab, tidaklah engkau bersujud satu kali kepada Allah, kecuali Dia mengangkat kedudukanmu satu derajat sekaligus menghapus dari dirimu satu kesalahan/dosa).” (HR Muslim).
Semoga kita termasuk orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Amin. [] abi
Sumber : www.mediaumat.com
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami
Syukur
Sebagai seorang pembantu rumah tangga, Fulanah, tetangga saya, hanya bergaji tak lebih dari 250 ribu rupiah perbulan. Suaminya hanyalah pekerja serabutan. Penghasilannya pun otomatis tak karuan. Apalagi ia lebih sering menganggur daripada dapat pekerjaan. Dengan dua anak (satu duduk di SMP kelas dua dan satu lagi di SD kelas satu), dengan menggunakan model perhitungan apapun, penghasilan kedua pasangan muda ini jelas jauh dari cukup untuk hidup sebulan.
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami, inspirasi
Islam Memuliakan Pembantu
Islam telah mengatur kehidupan suami-istri dalam sebuah keluarga, sebagai kehidupan dua sahabat, yang saling membantu satu sama lain. Meski demikian, Islam juga membagi fungsi dan peran masing-masing. Suami diperintahkan untuk mencari nafkah dan mengurus urusan di luar rumah, sedangkan istri diperintahkan untuk menjaga rahasia, harta dan kehormatan keluarganya di dalam rumah suaminya. Seluruh urusan domestik rumah dibebankan ke pundak istri. Namun, karena kehidupan suami-istri adalah dua sahabat, bukan dua mitra usaha, maka batasan tersebut tidak bersifat mutlak, tetapi fleksibel. Artinya, masing-masing bisa saling membantu satu sama lain, sebagaimana filosofi persahabatan. Bukan filosofi mitra bisnis, dengan kalkulasi untung dan rugi.
Dalam konteks itulah, seorang suami berkewajiban membantu istrinya dalam mengatur dan mengurus urusan domestik rumahnya. Bisa secara langsung dengan membantunya sendiri, atau tidak langsung dengan mengusahakan pembantu untuk membantu istrinya. Ini merupakan kewajiban suami terhadap istrinya. Karena itu, kehadiran pembantu di tengah kehidupan rumah tangga pun akhirnya menjadi kebutuhan. Terlebih jika keluarga tersebut mempunyai jumlah anggota yang banyak, di mana tugas mempersiapkan makanan, membersihkan dan mengatur perabot, mencuci dan menyiapkan pakaian, dan kebutuhan lainnya tidak lagi bisa ditangani oleh satu orang (istri).
Tetapi, seringkali adanya pembantu juga menjadi problem tersendiri, terutama ketika tinggal serumah dengan majikannya. Terkadang keberadaan mereka di sana bisa menjadi fitnah, menyebarkan keburukan, merusak dan menghancurkan rumah tangga, termasuk anak-anak mereka akibat perilaku majikan pria atau putra-putranya terhadap pembantu perempuannya; atau perilaku majikan perempuan atau putri-putrinya terhadap pembantu pria mereka. Selain itu, untuk kasus pengasuh anak-anak, aktivitasnya kadangkala membuatnya terpaksa menyusui anak majikannya sehingga menyebabkan terjadinya percampuran nasab yang bisa berdampak pada perubahan hukum yang lain. Dampak lain, jika pembantu tersebut tidak amanah, mempunyai perilaku buruk, suka menipu dan berbohong, maka tidak saja kerugian materi akan menimpa keluarga yang dihuninya, tetapi juga kerusakan akhlak dan perilaku buruk lainnya tidak ayal akan tumbuh di tengah keluarga tersebut.
Memilih Pembantu
Nabi pernah bersabda, “Agama seseorang mengikuti agama temannya.” Hadits ini juga berlaku untuk keluarga yang menggunakan jasa pembantu. Sebagai bagian dari keluarga, pembantu bisa membawa kebaikan dan sebaliknya. Maka, untuk memilihnya harus memperhatikan beberapa perkara: Pertama, agama dan ketakwaannya. Ini penting, karena inilah yang menjadi modal perilaku dan akhlaknya. Jika dia bertakwa, maka perilaku dan akhlaknya akan baik. Dia juga tidak akan menipu, berbohong dan menyebarkan rahasia keluarga tempatnya bekerja kepada orang lain. Kedua, mengerti hukum syariah, seperti khalwat, ikhtilath, menutup dan membuka aurat, menerima dan melayani tamu serta hukum-hukum yang lainnya. Kedua, rajin, trampil, cekatan dan ulet. Karena ini juga menjadi modal penting, apakah jasa yang dia berikan kepada keluarga tersebut memuaskan atau tidak. Jika memuaskan, maka akan menyebabkan hubungan keluarga tersebut dengan dirinya menjadi baik. Begitu sebaliknya. Ketiga, cerdas. Ini juga penting, karena jika tidak, perintah atau permintaan dari majikannya tidak akan bisa langsung dikerjakan, kecuali dengan penjelasan yang panjang, detail dan tidak cukup sekali. Padahal, seringkali banyak kebutuhan harus dilakukan dan dilayani dengan cepat dan tepat. Ini akan sulit dilakukan jika pembantu tidak cerdas.
Memperlakukan Pembantu
Islam telah mengatur, memanusiakan dan memuliakan pembantu. Islam juga mengakui hak-hak mereka untuk pertama kalinya dalam sejarah, ketika sejarah umat lain justru dipenuhi dengan perlakukan yang tidak manusiawi. Ini bisa dibuktikan dalam sejarah kehidupan Rasul SAW dengan para pembantu Baginda SAW. Tidak hanya itu, Nabi SAW pun memerintahkan para majikan agar memperlakukan para pembantunya secara manusiawi, penuh kasih sayang dan tidak membebani mereka dengan beban yang tidak mampu mereka pikul. “Pembantu kalian adalah saudara kalian. Allah menjadikan mereka di bawah tanggung jawab kalian. Siapa saja yang saudaranya menjadi tanggung jawabnya, maka hendaknya dia memberi makan kepadanya seperti yang dia makan; memakai pakaian seperti yang dia pakai, dan tidak membebani mereka dengan beban yang tidak bisa mereka pikul. Jika kalian membebani mereka dengan pekerjaan, maka bantulah mereka.” (Ibn al-Hajar, Fath al-Bari, I/115). Islam telah mengangkat martabat mereka pada level saudara, sesuatu yang belum pernah ada dalam sejarah.
Rasul SAW pun mengharuskan majikan untuk membayar pembantunya dengan upah yang layak dan memadai. Juga tidak boleh zalim dan menangguh-nangguhkan pembayaran mereka. Nabi bersabda, “Berikanlah buruh itu upahnya, sebelum keringatnya kering.” (HR Ibn Majah). Peringatan terhadap tindakan zalim tersebut juga dinyatakan dalam sabda Baginda SAW yang lain, “Allah berfirman: Tiga golongan yang akan Aku tuntut pada Hari Kiamat.. orang yang mengontrak (jasa) buruh, dia minta dipenuhi haknya, tetapi tidak mau memberikan upahnya.” (HR Bukhari).
Majikan juga tidak boleh memaksa pembantunya untuk memikul beban kerja yang bisa merusak kesehatannya sehingga dia tidak bisa menunaikan kewajibannya. Nabi SAW pun berpesan kepada para majikan, “Beban yang kamu ringankan dari pembantumu kelak akan menjadi pahala bagimu dalam timbangan amal kebaikanmu.” (HR Ibn Hibban). Bahkan, Islam pun mengajarkan agar kita tetap hormat kepada pembantu, “Tidak ada sikap takabur (pada diri seseorang) yang makan bersama pembantunya.” (HR Bukhari). Nabi pun memberikan teladan nyata dalam hidup Baginda, “Rasulullah SAW tidak pernah sekalipun memukul dengan tangan Baginda apapun, baik istri maupun pembantu Baginda..” (HR Muslim), demikian penuturan Aisyah. Saat Baginda SAW melihat Abu Mas’ud al-Anshari memukul budaknya, Baginda SAW pun menegurnya. Budak itu pun dimerdekakan seketika. Nabi agung itu pun berkomentar, “Kalau seandainya kamu tidak melakukannya, pasti kamu akan dilahap neraka.” (HR Muslim)
Anas bin Malik, pembantu Nabi SAW menjadi saksi kemuliaan akhlak Baginda SAW kepada pembantunya. “Rasulullah adalah orang yang akhlaknya paling mulia. Suatu ketika Baginda mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berkata, ‘Demi Allah, saya tidak mau pergi - meski di dalam hatiku, saya akan berangkat memenuhi perintah Nabi kepadaku.’ Baginda bersabda, ‘Baik, kalau begitu saya akan keluar hingga saya melihat anak-anak yang bermain di pasar.’ Tiba-tiba, Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang. Aku melihatnya, Baginda pun tertawa, dan bersabda, ‘Wahai Anas kecil, pergilah sebagaimana yang saya perintahkan kepadamu.’ Aku pun menjawab, ‘Baik. Saya akan berangkat ya Rasulullah.’ Anas pun berkata, ‘Demi Allah, aku telah membantu Baginda selama 7 atau 9 tahun. Aku tidak pernah tahu Baginda mengomentasi apapun yang aku lakukan, ‘Kenapa kamu melakukan ini, dan itu.’ Atau mengomentari apa yang aku tinggalkan, ‘Mengapa kamu tidak melakukan ini dan itu?’ (HR Muslim)
Bahkan, Nabi pun memperhatikan urusan pembantunya hingga urusan pribadinya. Dituturkan oleh Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami, “Aku pernah membantu Nabi SAW. Baginda bersabda kepadaku, ‘Wahai Rabi’ah, apakah kamu tidak ingin menikah?’ Aku menjawab, ‘Tidak, wahai Rasulullah. Saya tidak ingin menikah. Saya tidak mempunyai sesuatu untuk bisa menghidupi istri. Saya juga tidak ingin menyibukkan diri hingga melupakan Tuan.’ Baginda SAW bersabda, ‘Tinggalkanlah saya.’ Setelah itu, Baginda SAW pun mengulanginya lagi.’ Aku pun menjawabnya dengan jawaban yang sama. Hingga Baginda mananyakannya yang ketiga, aku pun menjawabnya, ‘Tentu, ya Rasulullah. Perintahkanlah apa yang Tuan kehendaki, atau Tuan inginkan.’ Baginda pun bersabda, ‘Berangkatlah ke keluarga si Fulan di sebuah perkampungan kaum Anshar.” (HR Ahmad dan al-Hakim)
Bahkan, akhlak mulia ini tidak hanya ditujukan kepada pembantu Muslim, karena Baginda SAW pun memperlakukan pembantu non-Muslim juga sama-sama baiknya, sebagaimana yang Baginda SAW tunjukkan terhadap pembantu Baginda yang beragama Yahudi. Tatkala dia sakit, Baginda SAW pun menjenguknya. Saat menjelang ajalnya, Nabi pun menginginkannya mengucapkan dua kalimah syahadat, anak Yahudi itu pun melihat ayahnya. Ayahnya pun memerintahkannya, “Ikutilah perintah Abu Qasim (Nabi SAW).” Dia pun akhirnya masuk Islam, mengucapkan dua kalimah syahadat, dan akhirnya meninggal dengan khusnul khatimah. Nabi SAW pun terharu seraya bersabda, “Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR al-Bukhari)
Begitulah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam terhadap pembantu. Tidak hanya itu, Islam pun menetapkan sanksi yang tegas kepada para majikan yang bersikap kasar kepada pembantunya, yaitu seketika dilarang untuk darinya, dan kepadanya dikenakan sanksi yang tegas. baca selengkapnya..
di terbitkan oleh taufiq sutyarahman 0 komentar
Label: artikel islami


