Tampilkan postingan dengan label cerpen pengunjung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen pengunjung. Tampilkan semua postingan

uhhh

“Uhh…….”
“Panas ya pak…..?”
“Kamu tau apa yang sekarang bapak bayangkan…..?”
“ memangnya apa yang bapak bayangkan….?”
“Sungai yang di aliri air jernih, dengan kesegarannya yang alami dan ikan-ikan berenag dengan bebas di dalamnya, di pinggirnya tumbuh deretan pepohonan rindang yang hembuskan kesejukan dari sela ranting dan daunnya, serta suara-suara kicauan burung yang menemani kita berenang….. tidak ada aroma asap dan deru knalpot, yang ada hanya nyanyian alam dan percikan air di wajah kita…….”
“Hahahaha…… “sejenak pak udin tertawa setelah lepas dari mimpi sekilasnya.
“Kenapa bapak tidak membayangkan berendam di dalam kolam renang dengan beberapa orang pelayan, kan itu lebih nikmat…..”

“Karna itu bukan gaya hidup kita…. oh ya bagai mana keadaan ibumu….? “
Sejenak pertanyaan pak udin mengingatkan ku pada sosok wanita tua lemah karena memang sedang sakit dan tak terobati yang sat ini terbaring di rumah yang lebih cocok di sebut gubuk…..
“Hey….” suara pak udin kembalikan kesadaran ku yang sejenak larut dlam ke ibaan.
“Keadaan ibu masih sama seperti kemaren pak....”
“Apa belum juga di coba ke rumah sakit…..? paling tidak untuk mengecek penyakitnya..”
“Belum ada biaya pak…..”
Seandainya aku punya uang yang banyak, pastilah ibuku sudah sembuh. tapi aku hanya bisa berharap….
“Hey… hey… malah ngelamun.”
Pak udin kembali sadarkan ku dari sebuah harapan yang mustahil jadi kenyataan.
“Pak….! Tuhan benar-benar tidak adil ya pak….?”
“Kenapa kamu bilang begitu….?”
“Ya… kenapa kita harus hidup dalam keadaan seperti ini…. kenapa tuhan tidak memberikan nasib yang sama pada semua orang…..?”
“Maksudnya semua orang sama-sama kaya atau semua orang sama-sama miskin….?”
Pak udin balik bertanya pada ku.
“Ya….hidup yang sama…..”
Sejenak pak udin diam dan menatap tajam padaku, seolah ingin menerobos kedalam hatiku yang terdalam…lalu ia berkata….
“seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan ke padamu……”
Kemudian pak udin kembali diam.
“Memangnya apa yang harus saya syukuri….?”
Pak udin kembali menatap ku tajam, lalu ia kembali berucap.
“Memangnya apa yang membuatmu masih hidup sampai saat ini…? apa yang benar-benar membuatmu merasa hidup selama ini…? apa yang membuatmu bisa bertahan untuk hidup selama ini…? tuhan itu memiliki segudang rahasia yang tidak kita ketahui yang bila saatnya tiba pasti ia tunjukan pada kita….”
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang pak udin katakan. sedangkan ia masih menatapku, seolah-olah ingin menerkam ku dengan sejuta kalimatnya yang memang sulit untuk ku pahami….
“kamu harus tahu bahwa kekayaan, jabatan, ini itu dan yang lainya itu bukanlah sebuah kebanggaan, bukanlah apa-apa bila kita tidak punya ini…” pak udin meletakkan telapak tangan di dadanya.” biarpun miskin asalkan kita masih punya ini, kita lebih kaya dari mereka yang kaya tapi tidak memiliki ini….” pak udin benar-benar terlihat seperti orang yang paling sombong dengan apa yang ia miliki, tapi tak aku mengerti. ia masih belum menurunkan tangannya dan kembali berucap “karena di dalam sini ada hati, dan itulah yang harus kita jaga sebaik-baiknya..”
“tapi aku benar-benar tidak mengerti pak….”
Sepertinya pak udin tak peduli pada ketidak mengrtianku, ia malah menunjuk ke dadaku dan berkata
“banggalah karena sesumgguhnya kamu masih memiliki hati, dan bersyukurlah…”
kemudian pak udin beranjak melangkah pergi sambil tersenyum meninggalkanku dengan segudang pertanyaan dan ketidak mengertian…
“banggalah karena sesumgguhnya kamu masih memiliki hati, dan bersyukurlah…”
Aku kembali mengulangi kalimat yang pak udin tinggalkan untukku. tapi yang aku tahu rumah sakit tidaklah akan bisa di bayar dengan itu. aku semakin bingung dan tak mengerti, mengapa harus bersyukur karena hanya hidup dengan mengandalkan hati, memangnya apa yang bisa di lakukan dengan sebuah hati, memangnya apa yang bisa di berikan sebuah hati pada hidup ini. memangnya masih ada orang yang melihat orang lain karena hatinya. memangnya masih ada orang yang mau menghargai orang lain karena hatinnya. memangnya ada orang yang mau di bayar hanya dengan hati….. aku hanya bisa berguman dalam hati….
xxx

“Nak…nak…”
Tiba-tiba sebuah suara parau yang lemah membangunkanku dari lamunan yang aku tak mengerti apa yang sebenarnya sedang aku pikirkan….
“Ya pak… ada apa ya…?”
Lalu aku menatap sosok pria tua itu. sekarang aku tahu kalau dia adalah seorang pengemis..
“Nak tolong nak sedikit sedekahnya….”
Lalu aku meraba kedalam kantong celanaku dan mengeluarkan sebuah uang receh RP 500, karena memang hanya itu yang aku punya, sejenak aku menatap recehan yang ada di telapak tanganku. tanpa berfikir lagi aku memberikannya pada bapak tua itu.
“ALHAMDULILLAH… terima kasih ya ALLAH…. terima kasih nak, semoga anak di limpahkan rizki dari ALLAH”
Trlihat mata bapak itu berkaca-kaca menatap ku...
“begitu bersyukurkah bapak dengan apa yang bapak dapat….?”
Aku mencoba bertanya pada bapak tua itu. ia masih menatap ku dengan matanya yang berkaca-kaca, beberapa saat kemudian ia menjawab..
“Bukan karena apa yang telah di dapat, tapi karena apa yang telah ALLAH berikan… bukan karena sebuah nilai, tapi karena sebuah ke tulusan dan ke ikhlasan. tapi karena masih ada hati yang benar-benar berfungsi”
Tanpa ada kata lagi bapak tua itupun perlahan meninggalkan ku yang kembali memasuki dunia tanya yang dalam…. sekarang aku mulai paham bahwa kita hidup bukanlah tanpa tujuan, karena kita hidup bukan hanyalah untuk diri sendiri, karena kita saling membutuhkan, dan semua itu haruslah di jalani dengan hati. tapi ada satu hal yang masih tidak aku mengerti, bagaimana caranya bisa aku mengobati ibuku yang sakit……….?

baca selengkapnya..

Pahamilah Aku

By : Sylviana
cut3_missy@yahoo.co.id

Seperti biasa aku berangkat sekolah naik sepeda yang berwarna biru tua. Saat itu aku melihat Rizal temen sekelasku sedang berdiri didepan gerbang sekolah, aku pikir sih dia nunggu pacarnya, Ayu. Setelah aku sampai di tempat parkir sepeda sekolah, lalu aku menuju ruang kelasku.
“Assalamualaikum, guys kenapa dengan Rizal? Koq dia ga’ masuk ke kelas? Pa dia nunggu Ayu?”Tanyaku.
“Apa? Jadi dia dari tadi masih di gerbang sekolah? Lagian Ayu sudah datang dari tadi. Ada apa yach Syl?” Jawab Lina, temen kelompokku.
Beberapa saat kemudian bel sekolahpun berbunyi. Tapi Rizal masih belum masuk kelas.

“Ky, kenapa sih dengan Rizal? Koq dia ga’ masuk kelas dari tadi? Padahal dia sudah datang dari tadi.” tanyaku ke Rizky, temen sebangku Rizal.
“Loch!!! Beneran Syl? Ya udah aku mau nyusul Rizal ke depan.” Jawab Rizky dengan panik. Kemudian Rizky datang sendiri, tidak dengan Rizal. Karena Rizal masuk ke ruang BK dengan Fahrul.
“Emangnya kenapa koq melibatkan Fahrul?”tanyaku dalam hati. Fahrul adalah orang yang aku sukai.
Aku tidak tau kenapa Rizal dan Fahrul masuk keruang BK. Tapi kata temen-temenku, kemarin mereka bertengkar dengan Haryo, adik kelasku, karena Fahrul memukul Haryo sampai berdarah dan Rizal hanya ikut-ikutan ngejek Haryo. Aku sih percaya ga’ percaya, soalnya kemarin kata temen-temen banyak saksi yang melihat kejadian itu. Kata Hana, salah satu saksi sekaligus temen aku, Haryo kemarin ga’ berdarah. Tapi buktinya mereka berdua masuk keruang BK dan dikasih surat peringatan oleh kepala sekolah serta orang tua mereka dipanggil ke sekolah untuk membicarakan hal ini.
Aku prihatin melihat Fahrul….. dia difitnah oleh adik kelasnya sendiri. Sampai-sampai dia diancam masuk penjara, ga’ naik kelas atau pindah sekolah. Memang Fahrul punya sifat mudah emosi dan dia sering mukul anak, apalagi kalau dia sedang bertengkar. Tapi sayangnya, orang tua Fahrul tidak datang ke sekolah untuk membicarakan hal ini. aku takut kalau sampai ancaman itu beneran dilakukan ke Fahrul. Seharusnya aku harus memanfaatkan situasi seperti ini. Tapi gimana caranya??? Aku ga’ punya nomer telponnya yang baru. Aku sih punya nomer telfon yang dulu sering dipakai sama Fahrul. Tapi karna banyak yang ngefans sama dia, jadi dia ganti-ganti nomer telpon
Aku duduk termenung di bawah pohon karna mikirin Fahrul. Apa dia……? Tapi besar kemungkinan dia menerima salah satu hukuman itu. Apa lagi sekarang aku ga’ melihat Fahrul, padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.00. biasanya sih kalu hari jum’at dia datang pukul 07.30. dan pada hari-hari biasa pukul 07.00 malah kadangan lebih.
“Woy jangan ngelamun terus!!! Nanti kesambet loch. Mikirin apa sih? Fahrul yach?” gertak Sherly, sohib aku secara tiba-tiba. Aku sering curhat ke dia, jadi maklum kalau dia mengetahui semuanya.
Setelah aku bangun dari lamunanku, aku melihat Fahrul lewat didepanku.
“Alhamdullilah dia ga’ menerima salah satu hukuman itu. Tapi pasti suatu hari dia menerima hukuman itu. Tapi smoga ajach dia beneran ga’ menerima hukuman itu.” Syukurku dalam hati.
Waktu jam istirahat ke 2 yaitu waktu sholat dhuhur, aku melihat Haryo. Ternyata ga’ da bekas luka memar, jahitan, apa lach…dan kabar baiknya kata temen-temen Fahrul, Rizal, dan Haryo telah damai. Tapi aku yakin pasti dalam lubuk hati yang terdalam, Fahrul ga’ mungkin bisa melupakan kejadian ini.
“Dasar Haryo pengecut, tukang fitnah”gerutuku dalam hati.
Lila, dia anak yang juga suka sama Fahrul dan yang paling ga’ enaknya lagi, dia sekelas sama aku. Dia sih ga’ begitu cantik menurutku, tapi dia sangat cerewet maka dari itu dia dipanggil oma oleh temen-temen. Dia juga pintar plus jail. Pa lagi kalau sama aku.
Suatu hari aq ngatak-ngatik HPnya Lia, partner Lila. Kata Sherly, semua data tentang Fahrul yanga akan di kasih ke Lila ada di HPnya Lia. Dan aku ga’ nyangka banget kalau disitu ada rekaman waktu aku bicara sama Fahrul, foto yang aku edit sama Fahrul, ternyata dikirim ke HPnya Lia. Ngejengkelin banget ga’ sie?
Waktu aku di ruang multimedia, aku buka fahrul_lovers(web yang aku buat).aku sie pengennya semua anak tau tentang hal ini. Tapi apa boleh buat kata Firda,temen aku sekaligus anak yang juga suka sama Fahrul plus yang buat web ini sama aku, ga’ ngebolehin aku buat nyebarin web ini.
“buat apa kalau web ini ga’ disebarin?”gerutuku dalam hati. Secara tidak sengaja temen sekelasnya Fahrul mengetahui hal ini.
“Aduh aku harus ngomong apa???”saking paniknya, aku ngebeberin ini semua. Lagian aku sendiri ga’ bisa buat cari alasan. Padahal aku buat web ini hanya untuk mengetahui seberapa besar fansnya Fahrul
Tidak biasanya Lila sms aku dan tanya-tanya tentang Daniel Radcliffe, idola aku. Ya aku jawab ajach
“Buat apa Tanya-tanya tentang pacar aku? Kamu ngfans yach?”. malah dijawab tentang Fahrul, trus Lila tanya-tanya
“Kenapa kamu dulu ngado Fahrul waktu ultahnya?”. Emang sie aku dulu ngado dia waktu ultahnya Fahrul. Jadi aku jawab ajach itu rahasia, masa’ aku harus ngomong jujur ke versus aku??? tapi Lila terus mendesak aku agar aku ngomong. Akhirnya aku balik fakta ajach
Tanya “Kenapa kamu dulu ngaih surat ke Fahrul?”. Karna aku mau tau apa Lila ngomong kalau dia pernah godain Fahrul yang ngaku jadi Rhini
Waktu ada acara bersih-bersih disekolah, maklum mau ada lomba ADIWIYATA. Fahrul biasanya kumpul sama temen-temennya di depan kelasku. Ternyata benar, dia ngerumpi, ceilah padahal kan dia cowoq, hehehe bukan anak ceweq. Dia tetep berada di depan kelas aku. Aku sie sebenarnya ga’ mau beranjak dari tempat dimana aku duduk dan bisa liat Fahrul. Andai saja aku ngeliat Fahrul terus tiap hari seperti hari ini. Mungkin ini adalah hari yang paling terindah yang pernah aku alamin.
Besok hari kasih sayang alias hari Valentine. enaknya aku ngado apa yach ke Fahrul? Aku sie pengennya ngado jam tangan. Tapi gimana kalau jam tangan itu ga’ dia pake sama sekali? Ya udah lah aku harus optimis. Tapi, gimana cara ngasih ke Fahrul biar ga’ seperti waktu dia ultah dulu? Ehmm…..pokoknya sekarang aku harus cari jam tangan itu dulu, soal cara ngasihnya itu urusan belakang.
Ternyata ga’ diasangka ada anak yang sekelas sama Fahrul, dia temen aku juga namanya Diana.
“Vi, aku mau bantu kamu. Tapi kamu harus bantu aku daftar jadi pengguna Friendster.”Diana bilang gitu sama aku.
Langsung ajach aku jawab “oke. Masalah Friendster sie gampang. Kamu ke ruang multimedia ajach. Siapa tau aku berpapasan dengan kamu. Terserah kamu masukin kadonya itu kapan. Pokoknya kamu harus berhasil dan jangan lupa kasih nama cut3_missy@yahoo.co.id. Karna ku takut dia ga’ mau pakai jam itu kalau itu dari aku. ”
Akhirnya hari Valentine yang aku tunggu datang juga, berhasil apa ga’ Diana masukin kadonya ke tasnya Fahrul? Aduh aku sudah ga’ sabar nunggu informasi tentang itu. Waktu istirahat pertama, aku Tanya masih belom karena keadaan kelas masih rame alias masih banyak anak. Dan aku tunggu waktu istirahat kedua,
“Vi gawat kelasku masih banyak anak, jadi aku masukin ajach ke sorokannya dia. Karena biasanya dia meriksa ke sorokan dulu sebelum pulang sekolah” kata Diana dengan nada panic.
“Ya udah lach ga’ papa, yang penting dia tau. Tapi kamu sudah kasih nama itu kan? ”jawabku.
”Beres!!!”jawab Diana.
Waktu pulang sekolah aku sengaja lewat di depan kelasnya Fahrul tapi ternyata Fahrul sudah pulang sama temen-temennya. Dan aku melihat Diana yang kelihatan sedang mencari aku.
“Diana!!!!!”teriakku.
“Vi gawat lagi. Dia ga’ meriksa ke sorokannya dia, tapi kadonya ku ambil lagi, aku takut ketahuan sama anak lainnya. Jadi aku kasihnya hari senin ajach yach.”jawab Diana Tuhkan ga’ seindah harapan.dengan terpaksa aku beri kadonya itu hari senin. Aduh aku pengen cepat-cepat hari senin ajach.
Waktu hari senin, aku tanya hal yang sama dengan Diana saat istirahat kedua. Dia berhasil ngasih kadonya di tasnya Fahrul. Tapi sayangnya ada dua anak yang mengetahui kejadian ini yaitu Fetty dan Zahro.
“Aduh bisa M.A.M.P.U.S kalau ketahuan”kata hatiku.
“Tapi kamu tenang saja, karena mereka berdua sudah aku suruh merahasiakan hal ini” kata Diana secepat kilat menyambar kegelisahan hatiku.
“Trus gimana reaksi Fahrul, setelah didalam tasnya ada kado?”
“Aku tadi sie ngamatin Fahrul dan dia tadi bilang ke Irza kalau didalam tasnya ada kado dari seseorang.”
Aku menanti, menunggu, mengharap jam tangan itu dia pakai. Meskipun hanya sekali dalam hidupnya. Tapi sampai sekarang jam itu tidak dia pakai sama sekali. Waktu dia ngeband, aku juga sempat berharap…. Tapi apalah dayaku. Aku bukan tipe orang yang dia cinta.
Aku harus tetap berusaha ngedapetin Fahrul. Walaupun itu mengancam diriku. Seperti setelah aku membeli hadiah buat Fahrul di hari valentine seharga Rp 50.000 dan aku bilang ke orang tuaku kalau uang itu aku buat kerja kelompok. Meskipun alesan itu agak ga’ masuk akal. Jadi aku dihukum ga’ boleh keluar rumah dan uang sakuku dipotong. Tapi aku rela semuanya demi Fahrul.
Rizal dan temen-temennya memanfaatin Fahrul buat mencari uang saku tambahan, Seperti saat Fahrul mengganti nomor telfon dia dan rizal menjualnya ke aku. Karena dia tahu kalau aku suka sama Fahrul. Dan berarti itu aku bisa berusaha ngedapetin dia. Tapi setelah aku sms
“Hy… Fahrul?apa kabar?”
“Ini siapa?” balasnya
“Aku cut3_missy@yahoo.co.id yang ngasih kamu hadiah jam tangan waktu hari valentine” balasku. Setelah itu dia ga’ pernah membalas sms dari aku, meskipun aku miscall dia, smsin dia terus. Dan aku sempat putus asa.
Selang beberapa hari kemudian dia membalas sms dari aku
“makasih xa hadiahnya, aku suka koq. Thx brow.” Sempet aku pengen nangis, pengen ketawa lepas, kaya’ ga bisa diungkapin dengan perasaan. Karna itu memang bahasa smsnya Fahrul. Tapi kenapa aku bertindak seperti itu, padahal dulu aku sering smsan sama Fahrul.
Pagi harinya, aku pergi sekolah dan ingin menceritakan semuanya ke Sherly. Tapi baru memulai pembicaraan dengan Sherly, Rizky sudah memotong pembicaraan dan mengatakan kalau jam tangan itu diberikan ke kakaknya. Betapa hancurnya hatiku, Seperti tercabik-cabik dengan pisau.
Lusa disekolahku mengadakan lomba MIPA sekabupaten. Fahrul ikut mengisi dengan bandnya. Sedangkan aku juga pengen ikut, tapi apa???akhirnya aku mengemukakan ide kalau aku pengen ikut ngedance. Supaya ada alesan buat datang ke sekolah. Aku sudah merencanakan sesuatu untuk Fahrul. Yaitu aku ngambil gambar Fahrul saat dia ngeband secara diam-diam.
Aku sengaja datang lebih pagi waktu acara lomba MIPA. Karna aku mau meliat Fahrul latihan ngeband, mungkin. Tapi tak seindah harapan lagi. Dia belum datang. Akhirnya aku menuju ke kelas dan aku keluar untuk menjemput temen aku tapi maksud aku untuk melihat Fahrul sudah datang apa belom? Ternyata dia sudah datang dan memakai gelang warna hitam dan topi warna biru. Sama seperti hadiah yang aku kasih ke dia. Aku langsung nyamperin Lina yang sudah menungguku di gerbang sekolah.
Setelah aku liat dengan jelas, ternyata itu bukan barang-barang dari aku. Memang warnyanya sama. Dan itu membuat hatiku sedih. Pengen nangis. Saat aku ngambil gambar Fahrul. Aku juga melihat ada seseorang yang juga ngambil gambarnya Fahrul waktu dia ngeband.
“Aduh udah pengen nangis barang-barang yang aku kasih buat Fahrul ga’ di pakai, sekarang ada orang lain yang ngambil gambarnya fahrul”gerutuku.
Beberapa hari kemudian setelah itu, tanpa disengaja Sherly ngirim sms ke Fahrul yang seharusnya dikirim ke Lina. Karna di kontaknya sherly nama Fahrul di namain Linda.
“Topiku ada yang kamu bawa?”
“Siapa”balas Fahrul
Ternyata Sherly memanfaat kiriman sms yang kesasar itu dengan menjawab Susi. Ga’ lama kemudian Fahrul ngirim gambar bunga. Karna dia kira itu Susi. Dan tanpa disangka Fahrul tau kalau itu Sherly. Akhirnya Sherly ngaku kalau itu aku. Terus Fahrul membalasnya lagi
“Sorry sil, aku ga’ suka kamu.kamu bisa cari cowok lain yang lebih ganteng dan lebih baik dari aku. Misalnya Rendra. Dia juga banyak fansnya koq. Sory ya sil.”
“Aku ga’ terlalu berharap jadi pacar kamu. Karna aku tau kalau kamu ga’ suka sama aku dan ga’ mungkin suka sama aku. Karna kamu lebih memilih dia.” Balas Sherly
Meskipun ditahan tetep aku ga’ bisa nahan kesedihan dalam diriku. Tapi aku ga’ percaya. Karna tu bukan bahasa smsnya Fahrul. Karna kalau Fahrul sms dengan letter “y” pasti diganti x. apa dia minta tuliskan orang lain? Dan yang paling bikin aku cemburu, waktu Sherly bilang kalau itu Susi, kenapa Fahrul ngasih gambar bunga???
Pada pagi hari setelah kejadian itu, Fahrul memasang muka kasihan ke aku. Dan waktu aku menyendiri ditempat cuci tangan didepan kelas. Fahrul seperti pengen ngomong sesuatu ke aku tapi berhubung waktu itu agak sepi dan kemudian ramai. Jadi dia ngebatalin itu.
Tanpa disangka Rizal tau tentang aku ditolak Fahrul. Dia bilang ke Hani dan Rosi, orang yang juga ngambil gambar Fahrul waktu dia ngeband. Mereka tanya-tanya tentang aku ke teman-teman aku. Katanya mereka mau ngeroyok aku. Aku selalu berharap kalau Fahrul mau menolong aku. Karna satu-satunya jalan keluarnya hanya Fahrul. Tapi Fahrul sama sekali ga’ peduli dengan aku sejak dulu. Dia ga’ mau ngerespon apa yang aku berikan segalanya buat dia.
Aku tau tindakan Fahrul itu bijak untuk menolak semua cewek yang nembak dia. Karna dia ga’ mau pacaran hanya dengan kasihan ajach. Maybe. Tapi aku sangat berharap bisa dipperhatiin Fahrul. Meskipun ga’ dipandang sebagai cewek yang suka sama dia. Tapi perhatikan aku sebagai seorang teman. Supaya aku bisa merasakan hadirmu disisiku. Dan aku tau kalau aku ga’ ada lebih-lebihnya di mata Fahrul. Karna aku adalah manusia biasa. Yang ga’ ada yang sempurna. Thanks buat Muhammad Fahrul Rozi, aku sempat mencitaimu. You are the best for me…………….. 

baca selengkapnya..

Suatu Senja Di bulan Februari

SUATU SENJA DI BULAN PEBRUARI
Oleh : halimah



Langit hampir meremang , sejuk mengelabu. Di barat masih kelihatan goresan-goresan warna merah lembut seperti lukisan hidup. Sisa pijaran matahari yang sudah begitu lelah .
Aku pandangi senja tuk kesekian kalinya, yang mulai di rangkul gelap.Aku jelajahi padang ilalang yang terhampar di depan mataku. Dulu diantara bunga ilalang itu aku suka menapaki jalan setapak dan di jalan setapak itulah aku bertemu dengannya tanpa dugaan sebelumnya.Sebulan yang lalu, aku bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang pernah menumbuhkan bunga-bunga di hatiku hampir dua tahun lamanya .Ya….ilalang di depanku inilah yang telah membuat hati kami merah menyala dan tiba-tiba aku merasa kangen padanya …..kangen yang sangat menyiksa.Dan hatiku….hatiku bagai teriris darahnya menetes satu-satu hangat terasa menjelajari seluruh peredaran urat nadiku.
Aku merasa selama ini telah berada dalam sandiwara cinta yng memuakkan dan ingat hal itu aku ingin menangis…menangis selayaknya tangisan , tapi kali ini aku tak ingin menangis.Tidak!.rasanya itu harus diletakkan jauh-jauh di belakang sana / telah kugunakan sebagai aksesori kehidupan yang menghiasi dada kesabaranku selama ini.Tidak!.tangisan ini tak perlu lagi dan aku tak cukup mengerti , kenapa aku mesti mencintainya, kalau pada akhirnya cinta ini akan sirna juga.
Selama ini aku merasa memilikinya tapi benarkah dia mau mengimbangi perasaanku? kalau ternyata dia pergi meninggalkanku tanpa jelas apa alasannya hingga akupun tak tahu harus berbuat apa dan membiarkannya pergi.
“kau itu laksana permata bagiku , meski ada dalam lumpur sekalipun, kau tetap permata yang berharga dan cahayanya takkan pernah pudar, karena itu tetaplah menjadi permata ku yang berharga.”
Kata-kata itulah yang sering kau ucapkan padaku dulu, bahkan sering kali didalam kangenku padamu seperti halnya saat ini aku suka sekali mengulang dan mengeja kalimat yang kau ucapkan itu .Dan mencoba meresapi maknanya satu persatu
Benarkah aku permata? seperti yang kau ucapkan , mungkin engkau benar aku permata yang cahayanya tak pernah pudar ,walau dalam lumpur sekalipun aku tetaplah permata yang berharga.Tapi tanpamu rasanya cahayaku begitu hambar .Begitu rapuh, Begitu mudah luluh.Aku ah…masa lalu lagi, Masa lalu lagi. Tidak! aku tak boleh mengenangnya lagi ,untuk apa?
Tiba-tiba aku tersadar oleh elusan angin yang membelai rambutku .Kulihat gelap menyelimuti bumi. Kenapa?...kenapa tiap senja kuingin melewatinya dengan memikirkanmu, mengenangmu, dan mengingat semua tentang kamu. Aku semakin merasakan kesendirinku lagi, siluet daun ilalang , desir angin yang kadang-kadang nakal, langit bersih , dan selebihnya lengang panjang membentang. Aku dalam sendiri lagi, tak ada seorangpun yang menemaniku, setidaknya yang bicara ,menyapa /sekedar tersenyum padaku /apa saja yang dapat di jadikan pengisi kekosongan ini
Sekali lagi kureguk udara malam, mencoba melepaskan semua yang ada di jiwa ini, agar tak terasa terhimpit lagi .Akupun pergi meninggalkan kekosongan yang terbujur kaku di belakangku
Namun baru saja beberapa langkah, alunan lagu drive lagu kasukaanku mengalun lembut
“senja kini berganti malam,
menutup hati yang lelah.
dimanakah engkau berada?
aku tak tahu dimana,
tlah kita lalui semua,
jerit tangis canda tawa,
kini hanya untaian kata
hanya itulah yang aku punya……..?”
“lagu ini,…..jangan-jangan,…? Kataku dalam hati , sambil cepat membalikkan badan. Tak jauh dari tempatku berdiri sesosok tubuh mematung menatapku.Dia datang lagi..akhirnya dia datang lagi…..!
“Aku tahu, pasti kamu kesini, maafkan aku?” katanya sambil memelukku.
Sementara lagu drive masih mengalun lembut

“sesungguhnya aku tak bisa
Jalani waktu tanpamu
Perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisakan luka…….”

baca selengkapnya..

SEPENGGAL KISAH CINTA MAYA

SEPENGGAL KISAH CINTA MAYA

Telah lebih dari 4 jam dari waktu yang mereka sepakati namun tak sedikitpun terlihat tanda-tanda kemunculan sigadis, entah sudah berapa banyak sms yang dia kirimkan dan tak terhitung lagi berapa kali dia mencoba menghubungi, semuanya tak membuahkan hasil dia masih sendiri, duduk termenung menghitung waktu meski tidak begitu yakin sigadis akan datang menemuinya, namun entah mengapa kakinya terasa sulit sekali untuk sekedar digerakan kembali ke arah asal datangnya. Sikumbang nama laki-laki itu, berperawakan tingi besar, kulit sedikit gelap, mata sipit dengan logat betawi yang kental mencirikan tentang sosok laki-laki yang berasal dari kota kelahiran Benyamin. Demi sebuah harapan semu bertemu bidadari impiannya, dia tempuh perjalanan panjang dengan mengendarai sebuah motor butut peninggalan ayahnya menuju kota dingin di kaki gunung arjuno.

Kembali memorynya dipaksa untuk memutar rangkaian cerita bahagia selama lebih dari 1 tahun perkenalan mereka, untuk sekedar menghilangkan sepi dihati dalam abu-abu penantiannya, “Fairuz” sebuah nama indah yang menggambarkan sosok sigadis yang selama ini selalu menjadi langganan mimpi indahnya, masih teringat jelas sapaan ringan pertamanya “Alooo, aku Fairuz wanita dari kota Apel, cantik, manizzz dan baik hati he he he…, kenalan yukkk”, begitu ceria, energik, anggun, penuh semangat begitulah bayangan pertama kali yang dia tangkap tentang sosok si gadis, benar saja ternyata setelah beberapa waktu lamanya mereka saling berbagi asa di dunia maya, sigadis tak jauh beda dari perkiraannya.

“Ass….Mas gantengku, dah lama khan kita saling ngobrol didunia maya, ketemuan yukkkk”, ajak sigadis 2 hari yang lalu, mendadak hatinya menjadi tak menentu saat itu, antara bahagia dan takut menerima ajakan sigadis, bahagia karena akhirnya dia bisa melihat sigadis impiannya namun takut jika ternyata dia bukanlah seperti harapan si gadis. Butuh lebih dari 5 menit untuk sekedar menjawab “Iya”, sampai akhirnya sebuah sapaan “BUZZ” menyadarkannya bahwa ada wanita special yang sedang menungu jawaban. Dengan ragu-ragu dan gemeteran akhirnya ditulis juga tiga huruf itu, terlihat face sigadis sungguh bahagia di webcam, jari-jarinyapun menulis dengan lincahnya di tuts keyboard seolah-olah tak ingin memberinya kesempatan untuk berfikir ulang tentang rencana pertemuan mereka.
“Key…, kutunggu 2 hari lagi ya, aku akan pakai baju hijau tua dengan bawahan celana hitam, miss u n take care always”, kata terakhir sigadis sebelum menyudahi percakapan mereka waktu itu.

Tak jauh dari tempat si lelaki, ada sesosok manusia cantik yang sejak 6 jam yang lalu diam mematung mengamati setiap gerak silelaki yang selama ini selalu datang dalam tidurnya, dialah si Fairuz, umurnya sekitar 25 dengan gaya dandanan layaknya ABG, lengkap dengan jaket trendy yang sengaja dia gunakan untuk menyamarkan diri.

Tatapan mata sigadis tak lepas dari pria yang memakai T-shirt warna biru tua di padu jins belel dengan tas ransel dipunggungnya.
“Kamu nanti pakai baju apa?”, tanya si Fairuz pada lelaki mayanya dua hari lalu
Dan jawaban yang dia dapatkan persis seperti tampilan lelaki yang sedang termenung tak jauh dari tempatnya. Entah apa yang menghalangi dia untuk sekedar datang menyapa si lelaki, baginya gambaran yang selama ini terpatri indah di hatinya tentang sosok lelaki dunia mayanya jauh dari kata mirip. Pikirannya meloncat-loncat tak jelas, sebentar-bentar sedih, kecewa namun tak jarang tiba-tiba marasa sangat bahagia. Duduknya mulai gelisah, matanya seolah-olah ingin menyapu setiap sudut yang terjangkau pandangannya dan berusaha mencari sisi positif dari lelaki itu, namun semakin dia paksakan untuk mencari semakin dia mendapatkan kenyataan bahwa lelaki itu jauh dari kata sempurna.. Tampak air matanya mulai menetes pertanda dia berada pada posisi kebingungan yang memuncak, akhirnya dia pun memutuskan untuk tidak menemui si lak-laki, berbalik arah pulang ke rumah, sambil berjanji dalam hati untuk tidak chat lagi sama si lelaki.

Ternyata si lelakipun demikian adanya, 6 jam dalam penantian yang tak jelas memaksa dia untuk mengamini bahwa si gadis tak mungkin datang menemuinya, meski agak berat akhirnya langkah pertamanya untuk kembali pulang ia ambil juga. Namun naas segerombolan penjahat datang menodongnya, seolah dia sudah kehilangan kewarasannya atau mungkin karena emosinya yang sudah tak terkendali dia paksakan untuk melawan, jelas bukannya kemenangan yang dia dapatkan tapi pertemuan dengan malaikat penjemput nyawalah yang terjadi berikutnya. Dompet, hp dan harta berharga miliknya raib, yang tersisa hanyalah sebuah tas lusuh dengan sebuah amplop surat yang sepertinya telah siap untuk di poskan.

Polisi kesulitan mengidentifikasi si lelaki, karena semua identitas pribadinya hilang, hanya amplop berwarna coklat beralamat lengkap dengan nama sipenerima “FAIRUZ”, yang di dapatkan polisi, entah karena merasa terpanggil ataukah rasa penasaran yang memaksa polisi itu mengantarkan surat kepada sipenerima.
“Maaf, apa benar Anda bernama Fairuz?, tanya polisi pada sutu hari setelah kematian si lelaki.
Fairuz…???, darimana polisi tahu nama panggilan istimewa itu, bukankah hanya si lelaki maya saja yang memanggil dengan nama itu. Entah karena syok ataukah bingung karena kedatangan polisi yang sepertinya tahu banyak tentang dia dan lelaki mayanya, maka hanya gelengan kepala yang dia berikan sebagai usaha untuk tidak bicara banyak. Tanpa diminta polisipun menjelaskan kenapa dan mengapa dia datang termasuk tentang kematian si pemilik surat ini, bagai disambar halilintar, Fairuzpun terduduk lemas di lantai sambil merebut surat itu dari tangan polisi. Seperti memaklumi polisipun hanya diam saja, membiarkan si gadis membuka paksa surat coklatnya.

* @@ *

Dear My Fairuz…..
Semalam penuh aku mencoba merangkai kata-kata ini, dengan harapan surat ini tak terbaca olehmu, karena dengan begitu berarti ada pertemuan diantara kita. Jujur aku tak yakin bisa bertemu denganmu, ketakutan terbesarku adalah kamu tidak bisa melihatku secara utuh, bagimu aku adalah kata-kata romantis yang selalu menghiasi layar komputermu, laki-laki dengan sejuta puisi yang selalu menghujanimu dengan kata-kata indah, tapi kenyataannya aku bukanlah seperti harapanmu bahkan jauh lebih buruk dari yang kamu bayangkan. Aku tidak menyalahkanmu kalau memang kamu tidak mau menemuiku, meski hanya sekedar menawarkan tali persaudaraan. Namun hal ini tidak menghalangiku untuk mengungkapkan rasa sayangku ini, walaupun hanya bisa kuungkapkan dalam goresan pena.

Duhai Cinta mayaku…
Sungguh engkau adalah wanita sempurna, tidak banyak yang ku harapkan darimu, meski hanya sekedar memintamu menjadi saudarikupun aku tak berani, bagiku cukuplah menikmati satu tahun bersamamu meski hanya didunia maya. Terima kasih atas tawaran pertemuan ini, terima kasih atas senyum indahmu, cerita lucumu, dan segalanya tentangmu. Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu untuk tidak menemuiku, akan kubiarkan rasa penasaran ini bersamaku selamanya, dan setiap menit kenangan denganmu kan kujadikan penghibur hatiku yang rapuh ini.


Dari cinta mayamu
"Sikumbang"

Tak diperhatikan lagi pertanyaan-pertanyaan Polisi itu, saat ini yang dia inginkan hanya sendiri dan berharap si cinta mayanya hadir disini, menikmati senyumnya, candanya dan semua yang dia miliki, surat singkat itu telah membuka mata hatinya, merobek-robek sisa kesadarannya dan membawanya menikmati mati kecilnya .... pingsan.

JANGAN PERNAH MEMBERI HARAPAN KALAU
TIDAK SIAP MENERIMA BALASANNYA


Cerita fiksi ini kupesembahakn untuk temen-teman hebatku di dunia maya, mohon maaf jika ada yang tersindir ataupun tersinggung, sungguh aku hanya ingin memahami dan menuruti otak kerdilku.
I love u all my friends, pisss ya he he he….

Special thanks to : My great editor Si Kumbang ( atas ide dan supportnya)

baca selengkapnya..

Pledoi Setan Konspirasi

Pledoi Setan Konspirasi

Jika kalian terus menjelek-jelekkan namaku, harga diriku dan kehormatanku, maka aku akan gugat balik. Paling tidak sebuah pledoi. Sekarang, Siapa yang tak mengenal bapakku? Oh, kebangetan… kalo tidak tahu. Atau, siapa juga yang tak tak kenal kakekku? Lalu, kakek buyutku dan terus ke rantai atas garis keturunanku?. Pasti kau akan menjumpai, disana, keluarga kami cukup legendaries. Pengukir sejarah paling indah. Keluarga yang cukup disegani. Ahli debat. Ahli lobi dan diplomasi. Ahli strategi-siasat. Ahli konspirasi. Ahli bisnis. Ahli bangunan. Kami sangat bangga dilahirkan untuk sebuah tujuan kemajuan peradaban dunia. Kami telah ditakdirkan menjadi penguasa, penggenggam, pengendali, pengatur segalanya: ekonomi; politik; sosial; budaya; keamanan dan masih banyak lagi. Singkatnya menjadi tuhan-tuhan kecil. Bukan berarti kami narcis. Bukan sombong. Bukan takabur. Tetapi memang tak ada bangsa lain yang sehebat dan secerdas bangsa kami. Kami umat pilihan, maka kamilah yang menentukan pilihan. Setidaknya, faktalah yang berbicara, bahwa hal ini tidak sebatas omong kosong dari sebuah pembicaraan. Maka, putih kalian semua bilang, jika menurut kami merah atau hitam, maka yang muncul adalah apa yang kami putuskan. Meskipun kalian mau menantang dengan pisau tumpul voting. Tapi, siapa yang akan membantah kekuatan dari senjata veto kami? Apakah kalian tidak takut senjata veto kami lebih supreme dan superrior ketimbang senjata manapun yang pernah ada di dunia ini. Bumerang, keris, belati, pedang Arab, samurai, kalasnikov, molotov, artileri, rudal-nuklir. Semua lewat. Tak ada apa-apanya. Meskipun kalian mempertanyakan dimana letak demokrasi itu, kami tak peduli dan tak mau tahu. Ingin tahu alasannya? Jangan sampai lupa. Sekali lagi jangan sampai lupa, bahwa demokrasi adalah milik kami. Copy rihgt-nya ada pada kami. Hak patennya milik kami mutlak, kalian semua tinggal copy paste saja. Jika kalian tetap ngeyel, bapakku siap menghajar kalian. Karenanya aku bangga menjadi anak kesayangan, pun karena juga anak semata wayang. Hal itu juga berarti bapakku juga seorang dalang. Bukankah, jika ada wayang maka harus ada dalang. Sebab, kita semua sepakat the show must go on. Sehingga berlangsunglah pentas wayang semalam suntuk. Tanpa judul. Tanpa headline. Tanpa tagline.
Kami ahli debat, siapa yang tidak mafhum. Bahkan Nabi pun tak sanggup membendung kata-kata kami. Mungkin kau akan menyebut kami eyelan, karena memang sukanya kami ngeyel. Bukan apa-apa, biar tidak sebatas taklid-fideisme. Lagi pula itulah watak dasar kami, kritis.
Dalam bisnis, kami jagonya. Formula perdagangan seperti apa yang tak kami buat untuk eksistensi dan esktensi asset kami sendiri. Biarkan orang lain pinjam, dan kami akan tentukan margin-nya sesuai klausul kami. Jangan membantah! Jangan mengelak! Kamu pikir kamu yang berkuasa? Sehingga berani-beraninya bilang kami rentenir; lintah darat. Kurang ajar! Apa harus kami beritahu: ’bussines is bussines’. Ini bukan persoalan siapa makan siapa. Bukan pula aku si Raja Tega. Tapi, ini persoalan ’bagaimana bisnis berjalan tanpa ada kerugian’. Jangan kamu pikir kami jahat karena inilah sesungguhnya the real bussines. Perkara kau merasa dirugikan, bukan urusan kami. Sudah kami bilang, jangan dekat-dekat dengan orang-orang pilihan macam kami. Hei, sudahlah. Akui sajalah bahwa kalian masih terlalu bodoh untuk membaca sejarah. Kalian masih terlalu sensi untuk suatu revolusi.
Jangan tersinggung, jika kami bilang, kalian semua hanyalah pion-pion catur. Kamilah sang grand master-nya. O, ya... kembali pada masalah bisnis. Kalian semua harus tahu. Uang apapun—kartal, giral—yang kalian punya, akan aman jika kalian investasikan di kebun bisnisku. Lihat! Ada bisnis properti-real estate, perbankan, industri, furniture. Singkatnya, dari bisnis kering hingga bisnis basah. Dari bisnis daging hingga bisnis tulang dan darah. Dari bisnis hidup sampai mati. Dari bisnis damai sampai bisnis perang. Pokoknya, everything about bussines. Bahkan kami sedang membuat proyek yang masih dalam tahap on going procces dan hampir finishing touch bisnis pemikiran dan keagamaan.
Eeits..! Tunggu dulu, jangan kerutkan dahi terlalu dalam. Masih ada lagi yang sedang in dan nge-trend, yaitu bisnis obat dan penyakit. Lho, caranya? Serahkan pada kami. Kami akan kondisikan pemerintah di belahan dunia manapun untuk membangun fasilitas kesehatan: rumah sakit, poliklinik; balai pengobatan; apotek. Uangnya? Ya kami bantu dech, tapi jangan bilang-bilang kalau sebenarnya ngutangin. Setelah semua fasiltas itu ada, tentu saja harus ada isi dan kelengkapan. Disinilah kami sebagai main supplier dan satu-satunya produsen terkemuka. Tentu kalian akan merasa bangga dan serasa ada harga diri, karena produk kami bisa mengerek harga diri dan gengsi kalian.
Kami tegaskan, ini bukan monopoli. Lagi-lagi monopoli juga hak patennya ada pada kami. Jadi kamilah yang tahu tentang hakikat terminologisnya. Jangan sok tahu bikin definisi ngawur. Kamu pikir kamu akademis? Pinter? Sok terpelajar! Sok intelek! Dengar ya! Monopoli pada arti yang sesungguhnya ada pada kami saja. Jangan ngarang. Bid’ah itu. O ya, maaf kalau kata-kata kami kasar. Habis kalian sih susah kalau sudah debat dengan kami, pengen-nya menang saja. Kami maklum, kalian masih barbar...eh, maaf! Masih sederhana—kalau tak mau dibilang kampungan. Kalian belum tahu suka dukanya dan kejam pahitnya dunia. Sedangkan kami sudah modern. Sophisticated. Apa? Kami sadis? Tuh kan, masih fitnah lagi. Ya, silahkan saja. Terserah kalian. Kalau pun kalian masih juga merasa iri dan dengki pada kami. Kami tahu, iri tanda tak mampu.
Klaim kami tidak berlebihan, kalau memang kami ini sebagai trend-setter. Uber man. Primus interpares. Betapapun modernnya kalian, tak lebih dari sekedar follower. Hanya sebatas epigonis. Mental budak. Kurang kreatif. Lihatlah! Kami membuat style tiap periode. Fashion ngejreng. Gaya hidup dengan makanan fast food. Fried chicken. Donnut. Humburger. Minuman bermerk lain. Pokoknya, jangan salahkan kami jika kalian tak konsumsi produk kami, maka kalian dianggap kuno. Ketinggalan zaman. Nggak gaul en funky. Lho, semua tahu, kalau hanya untuk urusan perut: masuk perut-dalam perut-keluar perut, mengapa ada warung makan khas daerah. Ini persoalan taste. Ini persoalan selera. Maka so pasti bisnis kuliner juga kami bidik. Kami tak peduli, ketika kemudian yang terjadi adalah konsumen setia lintas generasi dulu dan kini, banyak didentifikasi terjangkit penyakit. Kolesterol, jantung, darah tinggi, kanker, ginjal, strooke, hanyalah beberapa varians penyakit yang sering dijumpai belakangan ini.
Ooh... tentu itu bukan suatu masalah. Kami memandang itu adalah suatu peluang emas. Penyakit adalah penyakit, dan bisnis tetaplah bisnis. Kami mungkin belum meng-exposse ke media tentang fakta bahwa kami juga memiliki pabrik obat dan farmasi secara luas. Nah, mau kami pasarkan kemana produk-produk itu jika semua orang rata-rata sehat? Maka simpel saja, kami berdoa semua orang kalau bisa—terkecuali kami—sakit. Kemudian, langkah konkrit kami tempuh, dengan mengadakan riset-riset canggih menghasilkan virus-virus penyakit. Dan—tak lupa—tentu saja penawarnya (obatnya). Ini akan menjadi rahasia kami. Sepertinya tak akan ada yang percaya tentang pemberitaan media mengenai kejahatan kami. Kami cukup pesan kolom depan headline surat kabar: ”tak ada yang terjadi, ini murni riset kesehatan”.
Kalian tahu? Di dunia yang penuh kompetisi ini wajar jika ada kelas. Secara alamipun cukup empiris: ada atas ada bawah; baik-buruk; kuat-lemah; cerdas-bodoh; pemimpin-budak. Dan satu hal yang tak boleh dilupakan: ada damai ada perang. Mungkin akan dinilai masih debatable, bahwa jika menginginkan damai maka harus perang. Hanya istilah bahasanya yang keren dan modis, entah itu revolusi atau reformasi. Dan kalau sudah istilah ’perang’ yang dibahas. Seolah itu santapan favorite kami. Dahulu kala—dari penuturan kakek buyut kami—bangsa kami adalah yang gemar berkompetisi. Kami bangga, karena kami terbaik dalam hal atur strategi atau siasat perang. Semua sepakat bahwa perang adalah tipu daya. Penuh intrik dan muslihat. Siapa cepat, dia dapat. Kelemahan musuh adalah kemenangan. Dan kami tahu persis pepatah itu. Juga tahu persis apa yang akan kami lakukan. Musuh kami adalah yang tidak setuju dan tidak mau tunduk dengan kelompok kami. Jangan harap akan kami biarkan bernafas, kami akan terus buru hingga ke lubang cacing sekalipun. Perburuan yang seru. Tanpa henti tanpa sepi
Rasanya sepi hidup tanpa ada masalah. Begitupun dunia sepi tanpa hingar bingar konflik dan politik. Jika tidak ada musuh sekalipun maka akan kami bikinkan musuh. Kami biasa bermain-main dengan istilah-istilah aneh. Sudah kami jelaskan dan kami tegaskan kembali bahwa kamilah ahli-ahli debat dan linguistik. Jadi tak ada salahnya, jika kami keluarkan edisi istilah yang tiap waktu up to date. Misalnya untuk menggambarkan kelompok-kelompok atau faksi-faksi: terorisme, radikalisme, fundamentalisme, liberalisme, konseravtisme entah deret istilah lain yang terkesan ngejreng namun dimaksudkan untuk memecah orientasi musuh-musuh kami. Tak ada strategi lain, kecuali harus menusuk musuh dari belakang di kala mereka lengah di-ninabobo-kan dengan senandung perdamaian. Untung saja yang kami hadapi adalah musuh-musuh bodoh dan bebal. Juga ceroboh. Gampang marah. Saklek. Dan merasa tidak memandang dunia ini seperti pelangi, tetapi lebih memandang dunia sebagai hitam dan putih. Dengan begitu terkadang mudah saja devide et impera kami jalankan. Sukses, meskipun tidak seratus persen.
Istilah-istilah lain yang tak kalah seru sengaja kami gubah untuk mengkotak-kotakan dengan tapel wates negara. Wilayah teritorial dimanapun di permukaan bumi ini adalah hak kami. Tak ada negara, kecuali negara kami. Tak ada ideologi kecuali ideologi kami. Tak ada ajaran kecuali ajaran kami. Tak ada gaya hidup kecuali gaya hidup kami. Tak bangsa kecuali bangsa kami. Tak ada simbol kecuali simbol kami. Tak ada ras kecuali ras kami. Siapa bilang kami rasial. Itu fitnah. Pencemaran nama baik. Tuduhan yang tidak berdasar. Kalian tahu apa tentang rasialisme? Heh! Sembarangan saja kalau bicara. Memangnya kalian tahu apa? Apa kalian sudah bosan hidup. Awas saja! Jika kalian berani ngutak-atik urusan kami, embargo dan sanksi internasional menanti. Lebih dari yang kalian pikirkan bahwa kami menggenggam kebijakan internasional sesuai protokoler kami. kami tegaskan untuk kesekian kalinya: kami kuat di lobi dan tangguh dalam diplomasi. Titik!
Perang memang akan memakan korban: jiwa dan harta. Jika tidak keduanya pasti salah satunya. Kami tidak cemas, sebab selama ini korban di pihak kami terbilang sedikit. Kami agak tenang bukan lantaran kami tidak diserang tetapi persenjataan kami lengkap. Sekali ’dor’ atau ’dum’ seisi kota atau sekian wilayah hancur berantakan. Ini hanya sebagai persiapan kalau-kalau diserang musuh. Karena kami sadar banyak kelompok ekstrimis ataupun terorist yang tidak senang dengan keberadaan kami. Sungguh terlalu! Singkatnya, kami punya berbagai varian senjata tersebut untuk menjaga kestabilan negara dan kelompok kami.
Rudal nuklir rasa strowberry juga kami punya. Tak perlu tertawa ini tidak lucu. Mengapa harus buah berwarna merah itu? Salah satu alasannya adalah warna favourite kami: merah. Ada merah saga, merah delima, merah hati, bahkan merah darah. Untuk jenis merah tersebut banyak kandungan filosofinya. Sampai-sampai warna merah darah, dari sekian warna merah, lebih kami sukai. Inilah tanda kemenangan kami: jika darah musuh kami telah tertumpah. Ruah menggenang bersama air mata.
Tangisan? Itu tanda dari kecengengan dan mental kerdil pengecut. Siapa suruh menyerang kami. Sekarang rasakan akibatnya, ini pelajaran bagi kelompok bengal keras kepala seperti kalian. Bisanya hanya bom bunuh diri. Kebiasaannya hanya lempar batu, sudah itu lari, lalu sembunyi. Kebiasaannya hanya demo, teriak-teriak: ’perang’, ’berantas’, ’boikot!’. Tapi biasanya juga kami hanya akan mesam-mesem, biasanya juga setelah itu kalian akan minum dan makan produk-produk bisnis unggulan kami.
Mau bicara apa lagi? Heh?! Kemajuan? Pembangunan? Okey, pertama dan utama kami jelaskan adalah semua kemajuan di belahan bumi di negara manapun, jangan ada yang membantah, itu semua kontribusi dan jasa besar kami. Ada lagi yang masih tak percaya? Kami sarankan cari faktanya di lapangan. Untuk urusan ini: no comment. Kamilah arsitek sepanjang masa. Membangun berbagai kemajuan dalam tata dunia baru dalam tata kerja baru dan perintah satu: satu perlambang satu mata.
Lain kali, kami akan jelaskan semua. Apa yang kalian tuduhkan itu. Sesuatu yang kalian tuduhkan sebagai makar. Sesuatu yang kalian sebut-sebut sebagai konspirasi. Kalian memang keterlaluan memandang kami. Padahal kalian tinggal mengaku saja kalah: kalah taruhan-kalah perang. Tak perlu ribut-ribut soal pembantaian. Sebab kami memandangnya tidak seperti kalian memandang. Mati ya mati. Tinggal dikubur, selesai persoalan. Lagi pula, tak ada gunanya kalian mengecam, berteriak-teriak seperti kesetanan, mulut berbusa-busa, mata melotot, tinju dikepal dan diacung-acungkan ke atas, sementara kalian tidak tahu siapa sebenarnya musuh kalian. Kamilah musuh yang kalian sahabat-karibkan. Kamilah musuh yang paling kalian takutkan embargonya. Kamilah musuh yang paling kalian takutkan aneksasi dan ekspansinya. Kami heran, mengapa kalian setakut itu? Dimana Tuhan kalian itu? Yang sering kalian seru—seperti menurut kalian juga—harus paling ditakuti.[]



Penulis: Nuryanto. Asli pituin Sunda. Hobby menulis cerita dan puisi. Kemampuan menulis otodidak. Masih aktif dan tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. [no. HP 081392247053; no rek. BRI: 3838-01-000329-53-7]

baca selengkapnya..

Hitamnya Maret

Hitamnya Maret
By: Muhammad Sayuti
Hp : 081396211169

Hati ini sudah bulat untuk menemuinya, setelah kurang lebih dari satu tahun aku selalu bersamanya dan aku yakin malam inilah saatnya untuk mengatakan perasaanku pada Rara, namun dengan apa aku harus kesana..sepeda motor tidak akan diizinkan jika aku pinjam oleh orang tuaku terlebih-lebih karena seluruh kota sedang diadakan pemadaman lampu, aku bingung padahal hatiku selalu berontak untuk mengatakannya malam ini juga, ketika satu pandangan tertuju pada sepeda adikku yang tidak terlalu bagus, aku terdiam sejenak dan aku mulai berpikir “bagaimana kalau aku naik ini saja ?”, aku pun tidak ingin ambil pusing dan langsung ku naiki saja sepeda itu dengan niat yang hanya membawaku pada satu tujuan, aku mulai mengayuh sepeda itu dan semakin lama aku mengayuhnya semakin cepat, tak peduli dengan lelahku juga perhatian orang-orang yang melihatku.

Kini aku sudah sampai untuk menemuinya, beberapa ayuhan lagi aku sampai di rumahnya, dan tidak kulihat dia ada didepan di rumahnya, kadang perasaan berontak untuk menemuinya, tapi aku sudah sampai disini dan hanya tinggal setahap lagi langkahku, sungguh aku gugup namun aku coba untuk memanggilnya lewat hp ku,” Rara.. aku sudah di depan rumahmu..”. ketika itu dia langsung berjalan keluar dari terasnya. Dari kejauhan aku melihatnya menemuiku, aku gugup bercampur senang dan sedikit demi sedikit lelahku hilang ketika melihat wajahnya, aku mencoba untuk tegar dihadapannya agar dia tidak tahu lelahku “ Rara ini aku.. Uti…”. Ketika aku mengatakan itu aku tahu dari matanya, dia tidak menyangka dengan semua yang kulakukan malam ini” Uti.. malam-malam gini ngapain kesini…? Naik sepeda lagi, kan jauh..apalagi sekarang mati lampu…”. Aku hanya dapat tersenyum. Ketika malam itu kulihat berjuta bintang menyelimuti aku dan dia, hah…sungguh indahnya malam ini, namun kebahagiaanku belum sempurna karena aku belum mengatakannya..mengatakan sesuatu yang menurutku indah, “ Rara.. aku hanya ingin mengatakan sesuatu…”,sesaat keringatku bercucur dibadanku yang beralaskan jaket hitam yang tidak begitu bagus. ”uti mau mengatakan apa ? bilang aja sama Rara..”, aku..dan hatiku..tidak tahan lagi untuk memendamnya tidak ada kata lain lagi sebagai alasan untuk mengelak “ Rara..kumohon jadilah pacar ku..”. dia terkejut mendengar hal itu, dan kini aku tidak tahu apa yang ada didalam hatinya, apakah dia senang atau benci dengan kalimat yang barusan kukatakan. “Jadi pacar Rara ?”, katanya. ”iya Rara, aku mohon jadilah pacarku”, sesaat kami terdiam, perasaanku mulai terguncang dan aku tidak tahu bagaimana selanjutnya setelah ini, “Rara….?” Aku berkata sambil melihat matanya, dalam hatiku ini sudah diluar batasku namun ia pun mulai berbicara lagi kepadaku “ Uti…kita coba aja ya…”. “maksud Rara …Rara mau nerima aku ?”, tanyaku, dia hanya menganggukkan kepalanya sambil berkata”kita coba saja, dan biarkan seperti air mengalir..”. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, dalam hatiku hanya dialah milikku sekarang, setelah hampir satu tahun aku mendekatinya. Kini aku sangat siap untuk menjalani jalan baruku, perkataan ini adalah satu hal yang harus aku pertanggung jawabkan.
Pagi ini begitu segar bagiku.. tidak seperti biasanya, mungkin karena tadi malam aku menaiki sepeda adikku dengan penuh semangat. seperti biasa sewaktu pulang sekolah aku akan menjemputnya di depan pagar sekolahnya, namun hari ini dia sudah pulang duluan tanpa menungguku menjemputnya seperti biasa, yah…mungkin bukan nasibku hari ini, dalam hati aku terus berpikir “ dialah pacarku sekarang.. jangan siasiakan dia..”. aku mulai tidak ambil pusing lagi.. aku akan memberikan yang terbaik untuknya, jadi aku akan terus bersabar dengan keinginanku untuk menunjukkan rasa sayangku padanya. Di hari kedua ini aku yakin akan ada untuknya, aku akan siap-siap untuk menemuinya dengan menunjukkan kegembiraanku, namun sebelum aku pulang dari sekolah tiba-tiba Rara menghubungiku ”Uti.. maaf ya.. pulang skul nanti Rara pulang sama temen..”dengan lugunya aku menerima keputusan itu, dalam hati mulai merasakan hati yang sedikit sakit, namun bagiku ini hanya hal yang wajar dan aku harus sabar, mungkin hari esok aku akan lebih beruntung untuk hal ini. Sebelum tidur aku membayangkannya, entah kenapa setelah beberapa hari ini aku sangat merindukannya, aku hanya berdoa suatu saat aku dapat bersamanya walau hanya sesaat untuk mengobati rinduku. Esoknya aku bertanya kepada teman terdekatnya tanpa sepengetahuannya, satu demi satu aku cari tahu, namun aku tidak menemukan jawaban yang mengobati rasa penasaranku.
Beberapa hari kemudian perasaanku terus-terusan meyakinkanku bahwa ini tidaklah wajar. Semakin aku berontak semakin sakit hati yang aku rasakan, “kenapa selama lima hari ini aku tidak ada dapat kabar lagi dengannya, apakah ini hubungan yang sesungguhnya, aku sayang tetapi kenapa tidak ada jalan buatku untuk menunjukkannya…”,sungguh aku mulai merasakan hal yang berbeda, perasaan ini tidak seperti biasa tapi kenapa dia tidak pernah sedikitpun perhatian denganku, ah…seharusnya aku lah yang harus memberikan perhatian untuknya. Rindu inipun semakin menyayat-nyayat luka ku tanpa henti, sekali aku coba untuk memberi perhatian untuknya semakin hancur dan parah luka yang kurasakan, disaat tertentu aku merenungkan semua ini,”apa salahku..kenapa jalan yang kuambil harus jadi seperti ini..sungguh bukan ini yang kuharapkan..”.
Sabtu malam aku coba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, yah.. aku akan kerumahnya. lewat telfon aku berbicara “Rara.. malam ini aku mau datang kerumah..”, namun tidak satupun dari kata-katanya yang mengizinkan aku untuk datang. Aku hanya bisa terdiam dengan semua ini, hati bagai mati rasa, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, namun demi mendapatkan kesimpulan dari semua ini aku harus mencari tahu apa dibalik ini semua. Sesaat pandanganku tertuju pada sepeda motor ayahku, akupun melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 22 malam, dengan kondisi badanku yang masih belum sembuh dari demam tinggi aku yakin tidak akan mendapat izin oleh orang tuaku untuk kerumahnya, tapi jika disuruh memilih lebih baik ragaku saja yang hancur dari pada perasaanku yang harus mengalaminya. Aku pergi diam-diam dengan menaiki sepeda motor itu, dan sesampai aku didepan rumahnya, aku mulai berpikir “apakah dia sudah tidur ?”. Dengan rasa yang campur aduk dan beribu tanya di hatiku yang harus ku cari tahu.. tapi bagaimana..! sedangkan dia saja tidak memberikan ku kesempatan, padahal aku ini pacarnya..
Malam ini, malam dimana aku sendiri menantikan sesuatu yang pasti dibalik semuanya, seperti seminggu yang lalu yang juga persis ditempat ini. Ketika seminggu yang lalu aku merasa bahagia, kini berbalik menjadi kehancuran yang harus menjadi beban buatku, setengah jam aku berada disini tidak berbuat apa-apa, ”huh.. mungkin ini jalan yang memang harus aku lalui, tak ada cara untuk mengembalikan waktu…seperti seminggu yang lalu dengan langit malam yang penuh dengan bintang ..disini..ditempat ini..”. malam melihatku, dan aku memandangnya, betapa hitamnya langit dimalam ini, tidak ada setitik bintangpun, mungkin dia ingin mengusirku dari sini.
Pagi ini, sungguh semu dengan segudang beban masalah yang muncul menyayat lukaku, sakitku pun belum juga sembuh, tidak tahu lagi harus berbuat apa, seketika aku memandang Hp ku, “sekarang ini aku hanya ingin memberi perhatian yang selama ini tersimpan dan aku akan memberikan semuanya dengan tujuan menemukan kebahagiaan itu…” setelah berkali-kali aku menghubunginya, akhirnya aku mendengar suaranya “halo, lagi ngapain Rara..? gimana kabarnya…?”,dengan tulusnya aku mengatakan kalimat-kalimat itu,” Rara lagi sibuk nih, Rara baik-baik aja kok…Uti ..telponnya udah dulu ya..soalnya Rara lagi sibuk banget..”jawabnya. “ tapi..tapi Rara..”,dengan cepatnya telfon itu terputus. Aku heran, kenapa dia berubah total ?, aku tidak tahu dengan semua ini, padahal aku sangat sayang dia tidak lebih dari apapun dan aku yakin dia tahu akan hal itu, tapi kenapa selama ini dia diam, di dinding kamarku ku ini aku bersandar dan berjam-jam aku memikirkan hal itu sambil menahan sakit,”kenapa harus begini..? tidak bisakah dia romantis dan tak bisakah aku merasakan sayang darinya seperti yang dia pesankan lewat dinding rumahnya beberapa minggu lalu…sungguh, hal itulah yang membuatku tidak ragu untuk memilihnya…” . selama ini aku selalu sabar, dengan tidak memperdulikan seberapa besar sakit yang aku rasakan. Tapi kini semua itu malah menghancurkanku, mengacaukan pikiranku, dan membunuh semua rasaku. Aku mulai tidak yakin dengan semua ini, jalan ini akan semakin membuatku terus terluka jika aku paksakan untuk meneruskannya. Sekarang ini, aku tidak bisa menentukan perasaan ku.. apakah aku senang, sedih, marah, ataupun benci, aku benar-benar tidak bisa menentukannya, semua perasaanku menjadi satu setelah semuanya tumpah dan membuatnya menjadi perasaan yang sangat hitam. Aku yakin hitamnya rasa ini tidak akan dapat terobati lagi oleh siapapun. Kecuali aku mendapatkan jalan dengan arus yang searah dengan langkahku, namun saat ini aku tidak mungkin merubah perasaanku, sangat tidak mungkin untuk merubah semua ini seperti biasa, apalagi untuk belajar melupakannya untuk selamanya..sungguh tidak mungkin.
Dalam kenyataan yang tidak bisa kuterima namun harus kujalani, kini telah semakin kuat arus yang melawanku, sejenak aku berpikir” keikhlasan ini harusnya ku tempatkan didalam hati yang paling dalam..mungkin aku sudah berusaha, dan mungkin aku sudah mencoba untuk bertahan, tapi… aku tidak dapat mengetahui satu perasaan yang memang belum kuketahahui.. hanya satu perasaan darinya..”. aku tidak mampu terus bertahan apalagi berjalan, dan kalimat yang seharusnya paling tidak ingin kuucapkan kini telah keluar dan terucapkan olehku kepadanya..


”Rara.. aku mundur..”.






True Love Story 10-16 march 2008

baca selengkapnya..

DAN GERIMIS MALAM ITU MENETES LAGI

DAN GERIMIS MALAM ITU MENETES LAGI….
Oleh : halimah

“ Janji ya, pulang dari London nanti, jangan lupa bawa bunga “ ucapku pada kekasihku Michael sewaktu aku mengantarnya ke bandara. Dia tertawa kecil “ hmm….bagaimana kalau aku pulang bawa cewek ?” Tanya nya sambil tergelak melihatku lansung cemberut “ Iya…iya aku janji “ katanya sambil meraih kepalaku kepangkuannya “Aku cuma sayang kamu kok..” katanya lagi
Tidak terasa sudah dua bulan berlalu.Dan besok Michael kan pulang. Kemarin aku menghubunginya agar ia menemuiku di pesta pernikahan sepupuku saja dan dia menyetujuinya “Ah…betapa rindu aku padanya malam ini, gimana ya..michael sepulang dari London nanti? uuh.,…kenapa rasa rindu ini menyeret airmataku keluar…

Aku ingat waktu pertama kali aku bertemu dengannya, waktu itu aku baru pulang dari pesta ulang tahun sahabatku, di jalan aku terjebak hujan yang turun dengan derasnya.Aku pun segera mencari tempat untuk berteduh, kulihat dia duduk menanti hujan reda juga. Akupun segera duduk di sampingnya dan dia mengajakku berkenalan dan kami pun banyak bicara tentang musik, politik ,social ,budaya , bahkan sampai pada sesuatu yang hangat di bicarakan orang pada waktu itu.Akupun segera menarik kesimpulan tentangnya “ dia tidak bodoh ”
Sejak pertemuan itu di susul pertemuan-pertemuan selanjutnya, kami sering jalan bareng, makan bareng atau sekedar mencari buku-buku baru di toko buku. Tapi semenjak bersamanya belum pernah kudengar kata cinta darinya seakan-akan cintanya itu hanya ingin di nikmatinya sendiri,ah….dasar misteri lelaki.Hingga sampailah pada suatu malam seperti biasa setiap malam akhir pekan kami sering menghabiskannya duduk-duduk berdua di taman sambil menghitung bintang atau melihat-lihat keindahan kota di malam hari.Aku duduk di bangku taman dan dia membelakangiku memegang pagar
“ Ren…. Apa kau suka memikirkan aku?” tanyanya tiba-tiba, aku pura-pura tidak mendengarnya dan mulai menghitung bintang.
“Ren…halloo….kamu dengerin aku gak?” Tanya nya lagi sedikit kesal sambil membalikkan badannya menghadap padaku.
“Iya …iya.” kataku pura-pura tak acuh dan tak menghiraukannya
“Ren…” sapanya lagi sambil menatap tajam kearahku
“Hmm….”gumamku sambil mengangkat muka dan balas menatapnya
“Suka kok, suka..,udah malam kita pulang yu...” jawabku sedikit gugup sambil berdiri mendahuluinya pergi,tapi dengan cepat ia menarik tanganku dan tubuhku kepelukannya “Aku juga suka memikirkanmu” katanya sambil mengencangkan pelukannya.saat itu aku merasa , cintanya begitu besar padaku.
Tiba-tiba lamunanku terhenti oleh suara ketukan pintu. Akupun segera keluar dari kamar dan melihat siapa yang datang
“ Michael..” seruku ketika tahu kalau yang datang itu adalah kekasihku Michael,Dia tersenyum padaku, wajahnya sedikit pucat dan terlihat agak kurus, di tangannya ada sebuket mawar merah
“ Bukankah seharusnya besok kau nyampe di Jakarta “ kataku lagi
“Aku ingin datangnya sekarang, sekalian beri kejutan,bagaimana kabarmu?” tanyanya sambil mengecup dahiku
“Baik,kau nampak sedikit pucat, bagaimana London?” kataku balik bertanya dan mempersilahkannya masuk
“Baik, aku datang hanya untuk memenuhi janji” jawabnya sambil menyerahkan sebuket bunga mawar yang di gemgamnya “makasih” ucapku sambil tersenyum menerima bunga darinya dan segera kubenamkan wajahku untuk menghirup kesegarannya,lantas akupun berjinjit mengecup bibirnya dan dia balas menciumku dan memelukku. Aku merasa , aku takut kehilangannya dan perasaan itu muncul dengan tiba-tiba
“Aku mesti pergi,jauh sekali” katanya begitu berat terdengar
“Kamu kan baru datang,kenapa mesti pergi lagi?” tanyaku terus memeluk erat tubuhnya
“Aku cuma mau istirahat” bisiknya di telingaku.aku melepaskan pelukannya,kenapa dia begitu terasa beda dengan kata-katanya, apa karena dia sakit” gumamku dalam hati
“Maaf ya, aku dah repotin kamu, sebaiknya besok kamu gak usah kepesta, nanti sakitmu tambah parah” kataku perlahan.dan dia mengecup dahiku ” Aku sangat mencintai kamu…sangat,jaga dirimu baik-baik ya.” katanya sambil memelukku lagi ” Aku juga”jawabku.lantas diapun pamit, aku mengantarnya sampai keambang pintu.diapun segera menaiki sepeda motornya dan mengencangkan jaket birunya.Kutatap terus kepergiannya sampai hilang di makan tikungan dan kulihat gerimis menetes perlahan-lahan

Pesta meriah sekali, aku duduk seorang diri di salah satu meja paling sudut sambil sekali-kali membalas lambaian tangan teman-teman sepupuku yang pada datang .Betapa sepi kurasakan, seandainya Michael tidak sakit, tentu ia sudah ada di sampingku mengajakku bicara kesana kemari. Sejak pertemuan malam kemarin aku belum menghubunginya lagi, karena aku takut, aku mengganggunya.Biarlah ia istirahat dengan tenang begitu pikirku. Kulihat ibu menghampiriku
“Ren…ada telepon untuk kamu” katanya sambil menyerahkan gagang telepon. Aku pun segera berdiri dan meraih gagang telepon dari ibu lalu berjalan keruangan depan menghindari keramaian
“Hallo” kataku
“ Ini dengan nak rena? ” tanya yang diseberang
‘Iya saya sendiri ” jawabku
“Saya asti, ibunya Michael ,saya terpaka harus mengatakannya, Michael….” kata-kata ibu Michael menggantung di susul insaknya
“Ada apa dengan Michael bu?” tanyaku yang tiba-tiba aku mendapat firasat buruk tentang Michael
“Nak rena…michael…michael meninggal kemarin malam, kapalnya jatuh, pamannya sudah mengeceknya kesana, tidak ada seorang pun penumpang yang selamat….” kata ibu Michael.Dan aku tidak tahu kata-kata selanjutnya, karena gagang telepon yang kupegang sudah dari tadi jatuh dengan sendirinya.Aku berdiri seakan tidak percaya ” Michael…Michael ” airmataku tanpa kusuruh sudah berhamburan keluar, tubuhku bergetar hebat, benarkah Michael meninggal ? lantas siapa yang datang kemarin malam?
“ Aku mesti pergi,jauh sekali ”
“ Kamu kan baru datang,kenapa mesti pergi lagi ?’
“ Aku cuma mau istirahat” kata-kata terakhir Michael berputar-putar di otakku “Aku cuma mau istirahat…aku cuna mau istirahat.” kepalaku terasa pening, lantas kulihat bintang-bintang banyak sekali tanpa kusengaja aku memandang keluar di luar nampak Michael tersenyum kearahku dan gerimis malam itu kulihat menetes lagi menerpa jaket birunya.Bersamaan dengan itu samar-samar kudengar ibuku menjerit dan berlari kearahku dan aku bagai lap basah jatuh kelantai tak sadarkan diri lagi.

baca selengkapnya..

Curhatku

By : sh3rly_nd@yahoo.co.id
Mojosari, 31 April 2009
20.47 PM


Perkenalkanlah teman, namaku Roshella Davinka Azarine.
Mungkin hari ini adalah hari yang cukup menyedihkan bagiku. Saat berangkat sekolah, aku sempat berpapasan dengan Yovie, pujaan hatiku selama ini. Tak hanya selama ini, tetapi sudah sedari dulu.
Malam ini, tak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku ini. Rasanya bingung, entah aku ingin menangis sepuas-puasnya, ingin tertawa sekencang-kencangnya ataukah ingin marah sekeras-kerasnya.
Hari ini memang sungguh berarti. Sudah 3 tahun aku mengenang semua kisah tentang kita, aku dan dia. Aku mungkin adalah mahkluk tuhan paling bodoh di dunia. Siapa yang akan menolak, jika sang pujaan hati balik menyatakan cintanya? Tapi tidak dengan aku. Aku memang bodoh.

*****

Saat pertama masuk sekolah, aku sudah sangat menyukainya. Dulu memang hanya sebatas suka. Tapi aku tak tahu, perasaan apa yang akan singgah dihatiku beberapa waktu lagi.
4 bulan kemudian, aku sudah sangat mengenalnya. Aku sudah sangat akrab dengannya, karena dia teman sekelasku. Dan inilah waktu yang tak pernah kuharapkan dan kunantikan. Aku telah jatuh cinta kepadanya. Tapi rasa itu hanya kusimpan dalam hati saja. Tak perlu kukatakan pada siapapun.
Pernah terbesit di pikiranku untuk memberikannya suatu hadiah, walaupun saat itu dia tak berulang tahun. Sudah kubeli semua barang yang menurutku dia suka. Dan aku yakin, dia mau menerimanya.
Saat esok hari, aku segera memberikannya hadiah itu.
“Ehm, hai Vie…” sapaku.
“Hai juga. Napa?” balasnya.
“Eh…ehm, eee…itu, ooh…anu…”
“Ngomong apaan sih? Bahasa baru ya?”
“E-eh, enggak kok. Cuma mau nyapa kamu aja.” Kataku sambil berlalu.
Uuuwh, bodoh. Aku sudah menyia-nyiakan kesempatan emasku. Dan mungkin ini takkan terulang lagi. Aku sudah putus asa, akhirnya kado itu kuberikan pada Wirda, teman sekelasku. Karena menurutku, Wirda adalah sohib setia Yovie.
Bulan demi bulan pun terus berganti. Begitu juga dengan tahun yang turut berganti.
Sifat Yovie sangat berubah. Dia semakin keras kepala dan ingin memerintah seperti raja. Tapi itu semua malah membuatku semakin tertarik padanya.
Esoknya, telah terjadi perang mulut antara aku dan Yovie. Uuuwwh… jengkel banget duech!
“Eh setan, kenapa kamu nggak ikut kerja kelompok dirumahnya Duta? Kan kasihan dia udah nunggu kamu berjam-jam.” Tanya Yovie kepadaku.
“Asal kamu tahu aja yah tuan iblis, aku kemaren udah bilang sama Dutha kalo aku lagi pusing kepala. jadi aku ijin buat nggak ikut kerja kelompok.” Jawabku.
“Beli obat sakit kepala di apotikku donk! Dasar bodoh, udah tau sakit kok dibiarin.”
“Kamu yang bodoh, aku udah beli obat. Tapi kan nggak mungkin obatnya bisa langsung bereaksi. Makanya, kalo bicara sama orang jangan keburu. Dasar sok tahu!”
“Eh setan, kamu berani ngelawan aku ya?”
“Ya, emang kenapa raja iblis?”
Perang mulut itu terus terjadi. Dan berhenti disaat ada seorang guru mata pelajaranku yang melerai. Teman-temanku tak berani melerainya. Mungkin mereka sudah sakit jiwa. Karena mereka malah meyoraki aku dan Yovie.
Pernah suatu hari, tiba-tiba dia memalaki makanan yang aku bawa.
“Nyet, bagi-bagi kuenya donk!” kata Yovie.
“Enak ajah, kamu beli sendiri donk! Dasar gorila…!!!” jawabku.
“Pelit amat sih jadi monyet. Lagian di kantin tuh nggak ada kue yang seperti kamu bawa.”
“Udah tau pelit, kok masih dimintain. Beli sendiri donk gorilla.”
“Ah, aku nggak punya uang.”
“Kamu kan punya apotik. Lagian, papa kamu kan jadi dokter. Pasti uangnya banyak.”
“Aku males perginya.”
“Sini uangnya, kamu titip aja sama aku.”
Perlahan-lahan, Yovie berlalu dengan muka ditekuk kayak orang menahan kentut. Rupanya dia sedang ngambek karena nggak kukasih kue brownies.
Beberapa menit kemudian, dia berlari kearahku. Aku kira dia mau apa, ternyata…
“Clekit…”
“Auuuwwhh… dasar kepiting merah!” ujarku
“Hmmm…” jawab Yovie sambil nyengar-nyengir sendiri kayak orang habis keluar dari RSJ.
Rupanya dia telah mencubit lenganku. Sakitnya minta ampun. Nggak bisa dibayangin, nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

*****

Seiring dengan berjalannya waktu, kami pun tumbuh besar dan bertambah tinggi. Seperti remaja pada umumnya, banyak diantara temanku yang mulai ngelirik-lirik cowok alias naksir.
Contohnya Rizka yang mulai ngelirik Wirda dan ternyata Wirda juga naksir sama Rizka. Ih waw, akhirnya mereka jadian. Sama halnya dengan Andi yang mulai jatuh cinta sama Vita.
Di pagi buta saat aku baru datang, Vita langsung menuju kebangkuku. Biasalah, aku sudah tahu kebiasaannya. Vita adalah ratu gosip dikelasku. Jadi boleh ditebak kalau Vita mau menggosip di bangkuku.
“Vi, aku baru denger kabar deh dari Hilda.” Kata Vita
“Apa? Pasti gosip ya?” Tanya Vila.
“Alah, pasti soal mbak Imel. Iya kan?” sahut Nani.
“Kenapa mbak Imel?” tanyaku.
“Iya. Katanya Yovie sekarang lagi naksir sama mbak Imel.” Jawab Vita.
Disaat semua asyik ngerumpi, aku langsung beranjak pergi. Rasanya BT banget, nggak tahu kenapa aku jadi jengkel sama mbak Melly. Mungkin karena aku jealous sama dia.
Aku benci, kenpa harus mbak Melly yang ditaksir Yovie? Rasanya, aku iri sama mbak Melly.
Tapi perlahan-lahan, aku mulai berusaha untuk melupakan seorang Yovie dari kehidupanku. Ak tahk banya berharap untuk bisa menjadi seseorang yang lebih istimewa di mata Yovie.
Kupikir, memang Yovie tak akan mempunyai rasa yang kuharapkan kepadaku. Mungkin sebaiknya, aku dan dia hanya berteman dengannya.
Beberapa waktu kemudian, kabar burung itu tak terdengar lagi. Yovie telah menyangkal semuanya langsung di depan mata teman-temanku. Yang jelas, mbak Melly sangat malu. Sehingga sekarang mbak Melly dan Yovie musuhan.
“Shela, tunggu.” Teriak Vita saat pulang sekolah.
“Ada apa?” Tanyaku
“Yovie nitipin ke aku ini lho, katanya disuruh ngasihin ke kamu.” Jawab Vita sambil menunjukkan sebuah gelang giok berwarna coklat kpadaku.
“Mau ngapain dia ngasih itu ke aku?” tanyaku.
“Shel, Yovie suka sama kamu.” Jawab Vita.
“Preeet… nggak mungkin tau Yovie suka sama aku.” Kataku.
“Beneran kok. Kalau nggak percaya ya terserah kamu. Eh iya, Yovie minta nomer hpmu.” Kata Vita dengan wajah serius.
“Beneran?”
“He-eh… sekarang kamu mau nggak nerima gelang dari Yovie ini?” Tanya Vita.
“He-em.” Jawabku sambil menganggukan kepala dan memberikan secarik kerta yang berisi nomer hpku.
Pulang dari sekolah, aku seperti orang gila. Aku tak percaya bahwa ternyata saat ini Yovie suka padaku. Aku pikir, ini semua hanya mimpi. Setelah kucubit pipiku, barulah aku sdar bahwa ini semua bukan mimpi.
“Tit…tit…titt…”
Rupanya hpku berbunyi yang menandakan ada sms masuk. Aku segera berlari menuju tempat tidur untk membuka sms.

From : 081553######
Shela, selama ini aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Setiap hari, aku selalu memikirkanmu. Mungkin aku pernah punya salah padamu. Sehingga tuhan mengutukku menjadi seperti ini? Atau mungkin, aku telah jatuh cinta padamu? aku tak tahu apalah. Yang jelas, aku suka padamu. Terima kasih karena telah menerima pemberianku.

Fathur Dwitama Yovienka

Aku tak percaya. Aku segera membaca ulang nama pengirim sms tersebut. Setelah 7 kali, barulah aku percaya bahwa pengrim sms tersebut adalah Yovie.
Setelah berpikir cukup lama, yaitu 10 menit. Akhirnya aku membalas sms Yovie.

To : 081553######
Yovie, kamu juga harus tahu. Bahwa selama ini, dan bukan hanya selama ini, aku juga menyimpan rasa yang sama seperti kau rasakan. Tapi kupikir, kau takkan mungkin menyukaiku. Tapi aku juga tak tahu kalau ternyata kau berubah pikiran. Terima kasih kembali atas gelangnya. Aku suka.

Tak beberapa lama kemudian, dia membalas sms dariku.

From : 081553######
Thanks Roshella Davinka Azarine. I luph U.
Shela, kamu mau kan menjadi yang istimewa dalam hatiku? 

Seketika itu, aku tak dapat membalasnya. Aku bingung bercampur gembira. Tubuhku membeku. Aku langsung menciumi layer hpku layaknya orang sinting.
Sampai larut malam pun, aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan Yovie sambil menggenggam gelang giok yang ia berikan. Sampi-sampai, Yovie terbawa di mimpiku.
Saat aku berada di penghujung kelas, para guru banyak memberikan tugas untuk mengisi nilai rapor. Otomatis, para murid juga kewalahan dengan tugas yang banyak itu.
Contohnya saja tari modern atau dance yang harus dibawakan secara berkelompok. Setiap kelompok beranggotakan 5 orang. Saat itu, Yovie juga termasuk dalam anggota kelompoku. Tapi, Opie minta tukar anggota denganku. Dia minta Yovie ditukar dengan Alif. Akupun enyetujuinya walaupun dalam hatiku.
Saat latihan dirumah Wirda, tiba-tiba Yovie datang bersama dengan Vita dan Ophie. Aku terkejut. Jujur, aku sangat malu jika berhadapan muka langsung dengan Yovie setelah dia menyatakan perasaannya kemarin.
Aku segera menghindar. Tapi kemanapun aku pergi, Yovie pasti mengetahuinya. Aku malu sekali. Jika aku sudah ketahuan, pasti Yovie mengajakku mengobrol. Tapi aku tak mau, alasannya karena aku malu. Aku tak tahu mengapa aku merasa malu.
Pernah aku mengobrol dengan Yovie dan bertatapan muka langsung dengannya. Tapi itu hanya sekali. Ironisnya, obrolan itu menyebabkan aku semakin malu padanya. Malu, malu, malu akh…
“Hai Shela.” Sapa Yovie.
“H-hai juga.” Jawabku gugup.
Gugup yang ada pada diriku disebabkan karena aku malu. Sehingga rasanya mulut ini terkunci.
“Bisa nggak latihannya?” tanyanya.
“B-bisa, e-emang kenap-a?” jawabku.
“Pinter banget. Kamu kok jadi gagap gitu sih?” tanyanya.
Langsung saja aku berkata tanpa hambatan “Ini gara-gara kamu.”
“Owh, maaf ya cantik kalau aku ngganggu kamu.” Kata Yovie.
“E-eh, e-nggak kok Yov. T-tadi salah ngom-mong.” Kataku.
“Ya, nggak apa-apa. Lanjutin aja latihannya. Aku mau kembali dulu ya! Daaa… Shela.” Kata Yovie sambil melambaikan tangan kepadaku.
“Daaa… juga. Hati-hati ya Yov.”kataku.
“Iya Shela cantik. Muah…” kata Yovie sambil melemparkan kiss bye kepadaku.
Mukaku langsung merah. Aku malu sekali. Teman-teman langsung meledekiku.
“Ciye…ciye… mukanya merah ni yee.” Kata Wirda.
“Diam. Awas kamu Wir, ku panggilin Rizcha baru tau rasa.” Kataku.
“Di terima langsung aja loh Shel.” Kata Alif.
“Iya, kapan-kapan aja. Waktu rekreasi.” Jawabku.
Yovie ternyata sangat perhatian kepadaku. Dia selalu menungguiku jika aku belum pulang sekolah. Dia juga biasa lewat ke tempat kursusku untuk mengetahui apakah aku sudah pulang atau belum.
Aku juga memberikannya sebuah gantungan kunci sebagai balasan saat dia memberikanku gelang giok itu.
Meskipun aku tak pernah bertemu dan berbicara langsung dengannya, tapi aku dan dia tetap berkomunikasi walupun hanya lewat sms ataupun telepon.
Terkadang saat jam istirahat sekolah, dia menyanyikanku lagu-lagu yang bertemakan isi hatinya.
Pacarku, sayangilah aku…
Pacarku, cintailah aku…
Seperti kumencintaimu…

Lagu itu juga meluluhkan hatiku. Aku merasa bahagia.
Tapi semua itu harus berakhir saat sekolahku juga berakhir. Aku harus berpisah dengan semua temanku, juga dengan Yovie-ku yang kucinta.
Rasa sedih selalu menyelimuti hati ini. Selama ini, aku tak pernah menjawab pertanyaan dari Yovie.
“Shela, kamu mau kan menjadi yang istimewa dalam hatiku?” pertanyaan itu selalu datang di pikiranku. Aku merasa menyesal, mengapa selama ini selalu menyia-nyiakan kesempatan.
Sampai saat ini, semua masih kupikirkan. Terkadang, ingin rasanya waktu ini diputar kembali. Agar aku takkan melakukan semua hal yang tak kuinginkan.
Aku rindu kepada Yovie. Sampai saat ini, tak ada seseorang yang dapat mencintaiku dan memperhatikanku secara lebih kecuali, Yovie.

13 Maret 2007 - 30 Maret 2007

*****

baca selengkapnya..

IndoMie…Bisa aja!!

IndoMie…Bisa aja!!

Aku punya geng, ada 13 anggota dalam geng ini. harus kusebutkan satu-satu, karena ini adalah kebanggan tersendiri untuk teman-temanku. Ada Cindil, Patik, Tingky, Cumy, Sonix, Melaichi, Miss-Re, Nopret, Vita si Bekingking, Selvia Debora Ababa, Fat-Cacu, dan aku adalah personil terakhir Nuri. Nama gengku adalah “D’Busux” barasal dari kata “busuk”. Kata itu kami jadikan nama kebanggaan karena, setiap kali ngumpul atau istilahnya “nongkrong”, kami selalu menghabiskan banyak makanan. Anggota kami emang cukup banyak untuk ukuran geng. Mungkin lebih pantas jika kami disebut sebagai sekumpulan orang. Lalu, ada orang yang selalu memanggil kami dengan kata “busuk”. Secara alami terbentuklah geng D’Busux itu.

Mungkin ini mirip ceritanya Cangcuters. Awalnya teman-teman mereka memanggil dengan kata “cangcut” yang maknanya emang tabu, sama seperti nama geng kami “D’Busux”.
Ini adalah sebuah cerita yang pernah kami (D’Busux) alami ketika aku berulang tahun, tepat pada perpisahan sekolah. Perpisahan kali ini tidak seburuk perpisahan lain. Karena di sini kami mendapatkan sebuah kejutan besar, Sekolah kami menjadi sekolah terbaik ke-13 seprovinsi Jawa Tengah dan berhasil mempertahankan kejayaannya di tingkat kabupaten. Tentunya kami merasa bangga, terlebih lagi karena angka 13 lah yang menjadi nomor hoki kami. “Nomor 13 memang nomor keramat” Begitulah kata kami.
Tanggal 2 Maret 2008, aku berulang tahun yang ke 14. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP dan hampir cabut dari bangku ini. Kami banyak menghabiskan waktu bersama, karena ada kemungkinan kami akan jarang bertemu. Mungkin banyak dari kami yang terpisah di luar kota atau melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Hari itu, adalah hari yang menyenangkan bagi kami. Sangat menyenangkan, bahkan tak terlupakan. Hari di mana kami merasa mendapatkan pertualangan yang sesungguhnya.
***
Setelah acara perpisahan selesai, ada acara makan-makan di rumahku. Rumahku nggak jauh dari sekolah. Mangkanya kita semua jalan kaki deh. Waktu di jalan, kami ketemu sama anak kecil yang lucu. Tapi kok aneh, anak kecil itu lagi asyik. Asyik banget makan Mie. Kelihatannya sih enak banget dan setelah kami cium aromanya, ternyata emang Indomie yang bikin dia nafsu makan. Biasanya anak kecil paling nggak doyan makan, tapi gara-gara makan Indomie dia jadi lahap banget kali ya? kita tergoda dengan anak itu. Kami jadi pengen, jadi laper dan segera nyobaiin Indomie. Lalu, kami punya ide. “ Eh kawan-kawan, makan-makan di rumahku diganti sama acara makan Indomie aja ya? Semua setuju nggak?” aku menyampaikan saranku, dan semua setuju. Tapi, karena di rumahku nggak ada orang (ortuku lagi ada acara mantenan) dan persediaan Indomie juga udah abis, kami terpaksa ke toko dulu untuk beli sekotak Indomie (sekalian untuk persediaan). Nggak ada yang mau bawa kotaknya, akhirnya aku juga yang kena giliran.
“ Kita malu ah….! Loe aja Rin yang bawa. Loe kan tuan rumah, tamu kan harus dilayanin. Ya nggak kawan-kawan?” temanku mengomel padaku.
“ Lagian kita kan malu, masa pulang sekolah dapetnya kok sekotak mie, bukannya buku.” Tapi, Ehmm..mm…mmm, demi sepiring Indomie aku rela membawanya. Kami udah membayangkan betapa enaknya makan Indomie setelah panas-panasan. Ditambah cacing-cacing dalam perut kita udah kebelet ketemu kembaran mereka.
“Huffffttt. . . . ! Akhirnya sampai juga di rumah”Aku mengucapkan kata-kata lega. Tapi ada satu hal yang aku lupa. Parahnya, baru kuingat kalau kunci rumah dibawa Bonyok(Bokap & Nyokap). Wah parah gila ! Aku kena penyakit pikun. Perjuangan kita untuk jalan yang lumayan jauh ( 3 km ), menahan godaan anak kecil tadi plus harus jalan lagi ke toko untuk beli Indomie satu kotak (aku yang bawa….capek!) harus sia-sia. “Ini mah nganterin loe doang Rin!”salah satu temenku ada yang mengumpat. Tadinya emang para tamu merasa gerah. Tapi karena teman, segalanya rela diperjuangkan. Seenggaknya kita masih bisa nunggu Bonyokku di halaman rumah. Halaman rumahku emang lumayan luas dan ada kebunnya, jadi kita bisa santai-santai di situ. Akhirnya ya udah deh, kita terpaksa nunggu Bonyokku sambil ngobrol-ngobrol. Kemudian dateng lagi deh masalah baru yang sebenarnya nggak baru.“Kacau perut kita pada nyanyi, jelek banget lagi lagunya, keroncong…an plus tenggorokan kering (bagai sungai di musim kemarau)hehehe…” Tingky mulai mengeluarkan kata-kata anehnya.
Akhirnya kita mencari solusi lain. “Minum air di kran deh!” Aku mencoba mencari solusi. Tapi masalah yang satunya belum teratasi juga. Kita kelaparan, sangat kelaparan. Impian para cacing untuk ketemu sama kembaran mereka harus ditunda dulu. “maaf ya cing….?”Aku ngomong sendiri sama perutku.
Matahari mulai turun dari tahtanya. Hari mulai sore, dan kami belum melakukan apapun untuk mengganjal perut ini. Aku ingat sesuatu, di gudang belakang ada kompor minyak yang udah nggak di pakai lagi. Inisiatifpun muncul di pikiran kami, tanpa pikir panjang semua bergegas menuju gudang. Kami akan melakukan sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh kami, khususnya aku. Nggak ada jalan lain lagi, kami harus memanfaatkan barang bekas itu demi sepiring Indomie yang kami nantikan, kami idamkan, dan selalu kami bayangkan sejak tadi siang. Masalah piring dan yang lain kami bisa minta bantuan sama tetangga.
Akhirnya kita mulai beraksi, mengelap-elap kompor yang udah amat usang. Tapi semua ini dilakukan demi cacing-cacing di perut kami yang mulai tak bisa dikendalikan. Rani dan aku bertugas membeli minyak tanah, dan yang lain mempersiapkan segala keperluan. Kami harus minjem-minjem barang sama tetangga. Kami nggak punya piring, nggak punya sendok, dan nggak punya gelas. Emang lengkap, segala barang kita minjem tetangga.Setelah semuanya siap, kami pun mulai beraksi merebus air di panci yang udah peyot kecium tembok.
Dan pada akhirnya, sampailah kami pada puncak acara. Makan Indomie dengan rame-rame. Rame-rame emang lebih asyik. Apalagi kita punya perjuangan yang panjang untuk bisa menikmati Indomie ini. Rasanya…..Emmmmm..mmm, nikmat abis. Saking lapernya, tiap anak ngabisin dua bungkus Indomie. Bener-bener nikmat. Kita nggak bisa nahan kantuk setelah makan dua bungkus Indomie, dan kamipun terlelap di tempat kejaidian perkara.
“Eiy….. Anak-anak kok pada tidur di sini?” Tanya Bunda, ketika mendapati kami sedang tidur pulas di gubug taman.
“ Nuri, kok temennya nggak disuruh masuk?” Bunda bertanya lagi.
“ Lho, kunci rumah kan dibawa Bunda sama Ayah.” Kataku menjelaskan.
“ Ah kamu ini, ternyata dah mulai pikun. Orang Bunda kasih kamu kunci cadangannya kok.” Kata Bunda, mengingatkan.
“ Oh iya Bun. Aku lupa! Kalau aku dititipin kunci cadangan sama Bunda. Kalau nggak salah aku taruh tasku.” Aku berusaha mengingat dan mencari benda yang dinamakan kunci rumah.
“ Heh Rin, bener apa yang diomongin Nyokap loe?” Tanya salah satu temanku, mukanya kelihatan emosi sama aku.
“ Hehehe….. Iya Ta, kunci cadangannya sama aku. Sorry ya kawan-kawan?” Hanya kata-kata itu yang dapat kuungkapkan. Aku merasa bersalah dan malu pada teman-teman. Malu karena ternyata aku punya penyakit pikun.
“ Makanya Rin, loe jadi anak muda jangan kebanyakan minum kopi. Jadinya pelupa kan? Temanku yang lain menambahkan.
Akhir yang tak terduga. Karena penyakit pikunku, teman-teman harus rela menahan lapar dan dahaga yang amat menyiksa.
Satu yang ingin kuucapkan pada teman-temanku,” Maafkan aku kawa-kawan?”
…The End…



ProfiL Penulis

Nama : WRIN PROBO TYAS
TTL : Kebumen, 2 Maret 1989
Pendidikan : Pendidikan Seni Rupa Semester 4,Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, Karangmalang,Yogyakarta 555281.
Alamat Rumah : Puliharjo,RT 04/RW II,Kec.Puring,Kab.Kebumen,Jawa Tengah 54383.

baca selengkapnya..

Cermin

Cermin

Oleh : firman Taqur*

Kini bagiku kesendirian tak lagi mampu mendatangkan sebongkah inspirasi apalagi segudang obsesi. Malah kesendirian sekarang hanyalah frustasi yang tak kunjung henti. Dulu, kesendirian semacam dunia percumbuan dengan seefisod cerita atau sekedar sebait puisi tentang cinta.

Tapi sekarang, diri seakan tanpa imaji, buntu nan beku. Untuk menulis sekata makna saja rasanya tak ada ide apalagi merangkai sebaris cerita. Huh, inspirasiku sepertinya telah habis atau mungkin aku telah kehilangan kata.


Malam merangkak hitam. Di luar sunyi merayap senyap, tak aku dengar lagi instrumen malam di atas dahan atau dari balik rimbunnya dedaunan. Atau sekedar menikmati gemerincik air hujan sisa senja yang memainkan melodi pengharapan.

Gambar-gambar yang menggelayut mantap di paku pada dinding beton kamar hanya menemaniku dengan diam. Meski dulu gambar-gambar itu adalah sumber inspirasi, bahkan penampar motivasi untuk menjalani hidup penuh ambisi. Tapi kenapa malam ini mereka seakan membisu? Dan memang dari dulu juga bisu, tak pernah berkata-kata apalagi bercerita.

Jarum jam menuding angka dua, pertanda malam sedang berada di puncak kelam. Aku pandangi jam di atas meja kayu itu, jarumnya tak pernah berhenti, kecuali aku hentikan sendiri atau batu batereinya memang sudah habis. Tapi meskipun aku matikan, toh waktu tetap berlalu, karena saat dihidupkan lagi, atau diganti batu batereinya dengan yang baru, aku harus menyesuaikan arah jarumnya mengikuti waktu yang sedang berjalan.

Jarum jam itu seakan ingin memberitahu diri bahwa waktu memang tak pernah berhenti apalagi mati, selalu mengingatkan jiwa akan rotasi hidup ini. Kehidupan nyata berjalan, siang dan malam adalah bukti kehidupan tak pernah diam. Bagi sebagian orang siang adalah perjuangan dan malam sebuah perenungan. Eksistensi manusia untuk hidup adalah terciptanya harmonisasi antara siang dan malam; antara perjuangan dan perenungan.

Itulah hidup, sebuah rotasi, sebuah perjalanan. Siang dan malam adalah siklus keharusan yang silih berganti. Kemarin.. hari ini.. esok ataupun lusa adalah siklus keharusan.

Aku hari ini bukanlah aku kemarin, dan aku esok pasti tidak akan seperti aku hari ini. Aku lahir, tumbuh dan berjuang dengan segala kemampuan dan keterbatasan. Dulu aku dapat berkata namun tak bisa kumakna, dulu aku bisa berbicara namun tak mampu bercerita, sekarang aku hebat bercerita namun selalu sarat dusta.

Jarum jam tak...tak... berdetak. Aku jadi bertanya pada diri sendiri, bertanya tentang hidupku? Bertanya tentang nasibku? Bertanya tentang segala budi baikku?. Bagiku hidup adalah perjuangan, nasib adalah tantangan, dan budi baik adalah kebanggaan, tapi kenapa lidah ini selalu kaku tuk bertanya? Bertanya tentang segala dosa hidupku? Aku selalu tak pernah bisa menanyakan kepada diri ini akan dosa-dosa hidupku.

Aku seperti sedang berjalan di atas rel, berjalan di antara dua bantalannya yang entah kapan akan bertemu; di antara cita dan realita, antara idelisme dan keinginan. Inikah dunia yang selama ini aku damba, dimana penghargaan menjadi sebatas kemunafikan, dan pengharapan hanyalah penantian yang sia-sia.

Sungguh, aku menjadi takut menghadapi esok, aku kalut menunggu lusa. Mentari yang terbit tenggelam hanyalah rotasi tak berarti, karena aku berada di dunia hampa arti. Aku mencoba berdiri dengan nurani, namun aku tak lagi punya nurani, aku ingin berlari dengan harga diri, namun harga diri itu entah aku simpan dimana, atau mungkin telah tergadaikan keinginan.

Aku jadi ingat pada malam dingin diakhir Januari. Di sudut Taman Ismail Marzuki aku takjub mendengar Taufiq Ismail membaca puisi.

Fariruddin Attar bangunlah pada malam hari
Dan dia memikirkan tentang dunia ini
Ternyata dunia ini
Adalah sebuah peti
Sebuah peti yang besar dan tertutup di atasnya
Dan kita manusia berputar-putar di dalamnya
Dunia sebuah peti yang besar
Dan tertutup di atasnya
Dan kita terkurung di dalamnya
Dan kita berjalan-jalan di dalamnya
Dan kita beranak di dalamnya
Dan kita membuat peti di dalamnya
Dan kita membuat peti
Di dalam peti ini …

Peti!, hm, hidup memang sebuah peti! Tapi petiku sudah lama terkunci, dan aku lupa dimana kunci itu aku simpan. Saat aku temukan ternyata kunci itu telah patah menjadi dua, akupun terkurung di dalamnya. Sampai kapan; entah. Selamanya; juga entah.

Temaram perlahan merangkak pada ujung yang kelam. Aku masih bersemedi mencumbu sepi, tak ada kawan tak ada lawan perbincangan. Jarum jam sudah menuding angka empat kurang seperempat, masih terlalu dini untuk berimajinasi atau sekedar berencana menggurat agenda.

Dengan tarikan napas panjang aku bangkit dari tiduran jemu, menuju cermin yang menggelayut simetris pada paku yang menancap mantap ditembok berlapis adukan semen. Dari pantulannya jelas tampak seraut wajah yang dulu begitu kharismatik dan tulus. Bahkan salah seorang gadis pernah memuji bahwa wajah itu begitu manis menggemaskan.

Tapi kenapa malam ini, cermin itu menampakkan pantulan yang kusam dan suram, pijar dirona wajahnya terlihat memudar, sorot matanya yang tajam menghujam kini terlihat nanar tak berbinar.

Raut muka itu tampak menggurat kelam, meskipun terlihat jelas masih lengkap tanpa cela. Tak ada yang hilang... kedua bola mata coklatnya, hidungnya yang hampir sedikit mendekati agak mancung, pipi hitamnya yang penuh dengan bekas jerawat cinta yang tak pernah terwujudkan, bibir tebalnya, serta puluhan jenggot keramatnya yang masih bergelayut saling berpelukan.

Sungguh masih lengkap tak ada yang hilang. Namun pantulan cermin itu seakan ingin memberitahu diri, bahwa cahaya ketulusan yang dulu memancar, ternyata kini entah kemana. Mungkinkah telah dicuri ambisi atau keinginan?

Aku masih berdiri memandangi nurani, memandang dan terus memandang wajah yang penuh perbuatan. Kemana ketulusan, kemana wibawa, kemana kharisma, kemana itu semua. Aku ingin menangis di pagi yang belum bermentari ini, namun laki-laki tak boleh menitikkan air mata, itu aib namanya

Balubur, Bandung
15 Nov’04

*Penulis adalah seorang dosen muda dan editor

baca selengkapnya..
BM
krelzz