Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Pahami, Lihat dan Dengarkanlah!


ketika saya berbicara panjang lebar didepan seekor kambing betina, tentang WAJIBnya menutup aurat, tentang WAJIBnya memakai pakaian yang sempurna (Khimar/Kerudung & Jilbab) kambing betina itu hanya terdiam saja sambil mengatakan "embe...embe"...

PANTAS saja Ia hanyalah hewan yang tidak mempunyai akal, ia tidak bisa memahami apa yang saya katakan..

Tapi ketika saya berbicara didepan seorang wanita yang tidak memakai pakaian sempurna, persis seperti yang saya katakan pada kambing tadi secara Gamblang. ia juga TAK MAU memahami apa yang saya katakan.. Malah ia berkata "Alah,,, sok suci Lo!!! Kalo mau dakwah di Masjid Aja bukan disini tempatnya. "

Saya kaget!!! Lho kok seperti ini jawabannya!!!

mungkin benar firman Allah didalam surat Al-araf ayat 179:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan isi Neraka Jahannam kebanyakan jin dan manusia, mereka mempunyai hati (akal) tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al A’raf 179)
Manusia merupakan makhluk yang unik dan sangat jauh berbeda dengan hewan. Karena pada dasarnya manusia diberikan akal oleh Allah swt, untuk memahami segala apa yang bisa di indera. Perbedaan mendasar antara hewan dan manusia terletak pada adanya akal dan aturan hidup. Hewan tidak mempunyai aturan, sehingga ketika berprilaku pun hewan terbiasa hidup bebas, sebebas-bebasnya tanpa adanya beban aturan.
Sedangkan manusia mempunyai aturan, dimana segala perbuatan manusia itu terikat dengan hukum syara, tak bisa sebebas-bebasnya bertindak, karena manusia mempunyai aturan. Aturan yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits.
Karena manusia adalah makhluk yang berbeda dengan hewan, maka manusia harus senantiasa terikat dengan aturan hukum yang telah Allah tetapkan untuk manusia. Dan harus selalu menggunakan akalnya untuk memahami segala apa yang bisa terindra dan memahami teks-teks yang bersumber dari Al-Khaliq. Tak boleh manusia membangkang apa-apa yang diperintahkan Allah SWT.
Ketika turun kewajiban untuk melaksanakan segala perintahNya. Maka laksanakanlah secara maksimal dan totalitas, karena bahwasannya perintah itu adalah perintah yang apabila dilaksanakan kita akan beroleh pahala, dan apabila tidak dikerjakan akan mendapatkan siksa.
Orang yang mempunyai akal tetapi tidak mau menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata tetapi tidak dipakai untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mempunyai telinga tetapi tidak mau mendengarkan kebenaran yang bersumber dari Allah. Maka orang tersebut derajatnya SAMA dengan Hewan bahkan lebih sesat lagi, lebih hina dari pada hewan.
Apakah kita mau seperti itu???

baca selengkapnya..

Yang terlupakan


Iman masih saja memegang perutnya sembari merasakan lapar yang sangat, dikarenakan sudah dua hari ini ia belum makan sesuap nasi pun. Sudah berhari-hari ia pergi dari kampung halamannya untuk mengadu nasib ke kota. Hidup di zaman kapitalisme ini, ia merasakan bahwa kehidupan ini memang hanya berpihak kepada para kapital  (Pemilik Modal) saja. Mungkin ada benarnya lirik lagu "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin" yang sering dibawakan Bang Haji Rhoma Irama itu. Orang kaya menindas kaum yang lemah, mereka terus saja memeras orang yang tak berdaya, mereka mengaku orang beriman tetapi kenyataannya jauh panggang dari api. Masih tetap saja menjalankan Riba. Padahal seperti yang telah kita ketahui, seringan-ringannya dosa riba, dosanya seperti seorang anak laki-laki yang menzinahi ibu kandungnya sendiri. Nauzubillahi min dzalik.
Iman hanyalah salah satu korban kezaliman Sistem Sekuler kapitalisme. Betapa banyak korban-korban lainnya, yang lebih parah dari pada dia.  Iman pun berjalan tak tentu arah, tak ada satu pun tempat yang mau menerima iman sebagai pekerja. Sudah puluhan tempat ia coba datangi, tapi hanya penolakan  yang ia dapatkan.
Sampai akhirnya, iman pun tak bisa melangkahkan kakinya lagi, karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan rasa lapar.  Ia pun berhenti disebelah sebuah roda bakso yang sedang berjualan. Iman hanya bisa melihat dan merasakan nikmatnya orang yang sedang menikmati semangkuk bakso itu. "…andai aku bisa makan bakso itu!!" ucap iman dalam hati. Tapi ia tak bisa berbuat banyak, iman sudah tak lagi memiliki uang sepeserpun. Di perjalanan, seluruh barang bawaannya dan termasuk uangnya dirampok oleh para preman jalanan. Kenyataan hari ini telah ia rasakan bahwa sistem sekuler demokrasi memang tak mampu menyejahterakan rakyatnya, tak mampu memberikan keamanan kepada seluruh rakyatnya. Dari hari ke hari kriminalitas pun kian merajalela. Iman hanya bisa menangisi keadaan, ia tak bisa berbuat banyak.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, dek" Ucap seseorang kepada iman.
Iman tersentak kaget mendengar ada seseorang yang mengajaknya bicara dari belakang. Lalu iman pun langsung menoleh ke belakang memastikan orang yang sedang berbicara dengannya.
Dilihatnya sesosok wajah yang telah ia lihat dari tadi, pak rudi sang pedagang bakso. Dengan senyumnya yang tulus pak rudi pun mencoba menemani iman yang dari tadi sendirian, dan mengajaknya bicara.
"Bapak lihat dari pagi, adek duduk-duduk disini, sepertinya adek orang jauh ya?? Adek belum makan ya? Nih buat adek!!" Tanya Pak rudi sambil menyodorkan semangkuk Bakso kepada Iman.
Iman pun menerimanya dan langsung memakan bakso itu. Hanya beberapa menit saja, bakso itu pun habis juga.
Setelah habis, iman pun langsung menemui pak rudi dan berterima kasih kepadanya. Saking senangnya, ia berterima kasih dengan sangat berlebihan. Tak disangka, ternyata pak rudi tak senang dengan perlakuan yang diberikan oleh Iman kepadanya. Ia pun marah besar dan mengatakan kepadanya "DASAR PEMUDA TAK TAHU TERIMA KASIH!!!"
Iman pun kaget bukan main, dan ia pun berfikir dalam hati "bukannya saya sudah berterima kasih, tapi kenapa dia kok marah begitu???".
"Pernahkah kamu berterimakasih kepada ORANG TUAMU???" Tanya Pak rudi dengan nada Emosi.
"Setiap hari orang tuamu memberi makan kepadamu dengan sangat ikhlas, mereka tak pernah meminta balasan darimu, tapi kamu memang tak tahu diri!! Mereka engkau acuhkan. Tak pernah engkau berterima kasih kepada mereka," lanjutnya
"setiap mereka memberi makan, engkau tak pernah mengatakan walau hanya satu kalimat yang menyenangkan hati mereka, engkau malah menyakiti mereka!!" lanjutnya.
Iman pun tertunduk malu, karena selama ini ia tak pernah sepatah kata pun mengucapkan kata "terima kasih" kepada  kedua orang tuanya. Lalu ia sadar kata-kata pak rudi itu dan ia pun langsung meminta maaf kepada pak rudi karena berlebihan kepadanya.

***
Dari Kisah tadi kita bisa melihat, Terkadang manusia lupa berterimakasih kepada orang tuanya sendiri. Setiap hari orang tualah yang memberi kita makan, orang tualah yang telah mendidik kita, orang tualah yang telah mengurus kita. Tapi tak pernah sedikit pun kita berterimakasih kepadanya. Bahkan kita sering menyakiti mereka.
Sadarkah anda, bahwa orang tualah yang telah memberikan cintanya kepada Anda. Tak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Setiap tutur katanya dimaksudkan untuk kebaikan kita, walaupun itu berupa larangan, tentunya orang tua ingin anaknya tidak terjerumus kedalam kebinasaan. Semua orang tua tidak membutuhkan pembalasan dari seorang anak. Yang diingankan oleh mereka hanyalah kita menjadi manusia yang berhasil, sukses menjalani kehidupan, dan BAHAGIA.
Pernahkan Anda mengatakan kepada Ibu anda "Ibu, I LOVE YOU!!" atau "Ayah,, I LOVE YOU". Pastinya anda TIDAK PERNAH mengatakannya. Bukankah begitu??
Berbeda halnya ketika anda bertemu dengan calon istri atau calon suami anda. Dengan sepenuh hati anda mengatakan "I LOVE YOU", " Aku mencintaimu setulus hatiku", atau "Aku tak akan pernah meninggalkanmu walau hanya sesaat". GOMBAL!!!! Sangat Gombal… Bohong apa yang anda katakan itu. Anda memang tak pernah tau malu. Kepada orang lain mengatakan dengan tulus ikhlas tetapi kepada orang tua sendiri??? TAK PERNAH…
Saat mereka membutuhkan kita, misalnya untuk hanya sekedar membawakan barang ke suatu tempat. Engkau biasanya, menunda-nunda apa yang mereka inginkan, "SEBENTAR BU,,, 5 menit LAGI!!!" itulah yang sering lidahmu ucapkan. Tak pernah engkau rasakan apa yang mereka rasakan ketika mereka mendengar apa yang kau ucapkan itu.. SAKIT SEKALI HATI MEREKA ITU. Tapi mereka tak pernah mengucapkan kekesalannya kepada kita, mereka hanya memendamnya agar tidak mau melihat anaknya tersakiti.
Coba renungkanlah Kawan!!! Mungkin ini bisa menjadi bahan evaluasi kita bersama!!


Jatinangor, 19 september 2011
"Taufiq Sutyarahman"

baca selengkapnya..

Syukur

Sebagai seorang pembantu rumah tangga, Fulanah, tetangga saya, hanya bergaji tak lebih dari 250 ribu rupiah perbulan. Suaminya hanyalah pekerja serabutan. Penghasilannya pun otomatis tak karuan. Apalagi ia lebih sering menganggur daripada dapat pekerjaan. Dengan dua anak (satu duduk di SMP kelas dua dan satu lagi di SD kelas satu), dengan menggunakan model perhitungan apapun, penghasilan kedua pasangan muda ini jelas jauh dari cukup untuk hidup sebulan.

Yang menakjubkan, sepertinya tak sesaat pun Fulanah tampak berkeluh-kesah, apalagi kelihatan sering gelisah. Saat istri saya bertanya, apakah penghasilannya sebesar itu cukup, sementara suaminya pun sering menganggur? Sambil tersenyum ia menjawab, “Kalau itu mah gak usah ditanya, Bu. Siapapun akan mengatakan uang sebesar itu gak akan cukup untuk sebuah keluarga dengan dua anak seperti saya.”
“Tapi, kok, Bibi kelihatannya gak pernah ngeluh. Kelihatannya selalu riang, seperti gak pernah punya masalah dengan keuangan,” jawab istri saya.
“Alhamdulillah. Allah memang Maha Pemurah. Di gubuk kami yang kecil dan sederhana itu, kami memang tidak punya apa-apa. Namun, sampai hari ini keluarga kami tak pernah sampai kelaparan. Kami juga jarang sakit, selalu sehat. Itulah yang menjadikan kami selalu bersyukur, tak pernah mengeluh. Bagi kami, sehat adalah nikmat yang sangat luar biasa, selain nikmat iman,” jawab perempuan berkerudung itu tegas dan tulus, tak sedikit pun menyiratkan kepura-puraan.
Sebelum istri saya sempat berkata-kata, ia melanjutkan, “Bahkan kalaupun kita sering lapar atau sakit, ditambah lagi kita sering tak punya uang, kita tetap wajib bersyukur. Iya, kan, Bu? Sebab, sebetulnya kita masih punya nikmat yang lain, yakni nikmat hidup. Kita masih bisa bernafas. Nafas itu kan mahal ya, Bu. Coba saja, nafas Ibu disewa, 10 menit saja, seharga Rp 1 miliar, pasti Ibu gak akan kasih, kan? Sepuluh menit tak bernafas bisa mati, kan, Bu,” tegasnya lagi seolah menyakinkan.
Istri saya termangu. Saya pun—yang diam-diam mendengarkan obrolan istri saya dengan pembantu itu—tertegun, takjub.
*****
Saya teringat kembali sebuah tulisan menarik di internet tentang udara yang dihirup oleh setiap manusia. Penulisnya, Syaefuddin, seorang asisten dosen di FMIPA-IPB. Intinya dikatakan, bahwa sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Jika perorang manusia bernafas 20 kali permenit, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara. Berapa nilai tersebut bila dirupiahkan?
Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas, semisal oksigen dan nitrogen. Masing-masing, 20% dan 79%, mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Jika perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan 100 ml oksigen dan 395 ml sisanya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.
Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 perliter dan biaya nitrogen perliternya Rp 9.950 (harga nitrogen $2.75 per 2,83 liter, data nilai tukar dolar Bank Indonesia pada 9 November 2009), maka setiap harinya manusia menghirup udara sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, jika manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup, berarti setiap bulannya ia harus menyediakan uang sebesar Rp 5,3 miliar. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana Rp 63,6 miliar!
Sungguh, Allah Maha Pemurah. Udara yang melimpah-ruah di alam adalah bukti kasih sayang-Nya yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma alias gratis! Tak sepeser pun kita dipungut oleh Allah SWT untuk membayar nikmat yang luar biasa itu. Lebih dari itu, Dia-lah Tuhan Yang mengurus kita siang-malam tanpa pernah meminta upah secuil pun. Mahabenar Allah Yang berfirman (yang artinya): Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kalian pada waktu malam dan siang hari selain Zat Yang Maha Pemurah?”(TQS al-Anbiya’ [21]: 42).
Renungkanlah pula satu hal berikut. Anggaplah kita punya istana mewah dan besar, dengan seluruh fasilitasnya yang lengkap dan serba mahal; termasuk kolam renang, lapangan golf, taman yang luas dan asri seluas lapangan sepak bola; dll. Katakanlah harganya mendekati Rp 1 triliun (seribu miliar rupiah). Siapapun tentu akan senang dan bangga memilikinya.
Namun, sadarkah kita, bahwa semua itu belum apa-apa dibandingkan dengan dunia yang kita huni saat ini? Coba saja kita berandai-andai. Andai Allah SWT meminta kita untuk membayar setiap jengkal bumi yang kita pijak; membayar setiap teguk air yang kita minum; membayar setiap tetes air yang kita gunakan untuk mandi, mencuci, dll; membayar setiap liter udara yang kita hirup; membayar setiap suap makanan yang bersumber dari pepohonan dan binatang ternak yang kita makan; membayar ongkos sewa jalanan yang kita lalui; membayar cahaya matahari yang menyinari bumi setiap hari; dll. Berapa puluh, ratus, bahkan ribu miliar rupiah yang harus kita keluarkan? Siapapun tentu tak kan pernah sanggup membayarnya.
Namun, Allah memang Maha Pemurah. Semua itu Dia gratiskan untuk kita. Tak sepeser pun kita harus membayarnya.
Pertanyaannya: Sudahkah kita bersyukur atas semua itu? Sudah berapa miliar kali hamdalah kita ucapkan untuk-Nya? Sudah berapa lama kita luangkan waktu untuk beribadah dan ber-taqarrub kepada-Nya? Sudah berapa jauh kita menaati segala titah-Nya? Sudah berapa besar pengorbanan kita untuk agama-Nya? Sudah berapa banyak harta milik-Nya yang kita infakkan di jalan-Nya? Sudah berapa sering kita meluluskan permintaan-Nya? Sudah berapa siap kita mempertaruhkan jiwa di medan dakwah dan jihad di jalan-Nya?
Sadarilah, andai semua itu telah kita lakukan sepenuh-penuhnya, tetap tak akan bisa membayar seluruh karunia Allah yang tak ternilai itu. Apalagi jika kita tak melakukannya; atau melakukannya, tetapi sekadarnya saja.
‘Ala kulli hal, betapapun seseorang sering hidup susah, ia tetap tak layak berkeluh-kesah. Sebab, karunia Allah kepada manusia sesungguhnya tetap amat melimpah-ruah.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh. [Arief B. Iskandar]

baca selengkapnya..

Jadilah apa yang kamu inginkan

Disebuah desa, hiduplah seorang Ayah yang sangat bijaksana. Setiap gerak langkahnya, tuturkatanya bagai mutiara yang mampu menggugah dan memberikan inspirasi dan motivasi kepada anak-anaknya. Semua hal yang dikatakannya tak lain adalah nasihat-nasihat dan ilmu-ilmu yang sangat berharga.

Suatu ketika sang ayah mengajak salah seorang anaknya berjalan-jalan ke sebuah tempat dengan mengendarai seekor keledai kecil. padahal kandangnya banyak terdapat keledai-keledai lain yang lebih sehat dan besar. tetapi kenapa Keledai kecil yang dibawa untuk ditumpangi oleh mereka berdua?

Semula si Anak pun bingung dengan apa yang dilakukan ayahnya. Tetapi si Anak pun diam saja, karena dia tahu bahwa ayahnya itu adalah orang yang bijak dan adil. Ia tak mau banyak membantah apa yang diperintahkan oleh sang Ayah. dan berjalanlah mereka berdua dengan dengan menaiki seekor keledai kecil itu.

Singkat cerita, mereka berdua melewati sebuah desa yang sangat indah. disana mereka berdua menikmati pemandangan Alam yang sangat menawan. tak lama kemudian, banyak orang-orang yang memarahi ayah dari si anaknya itu dengan perkataan "Kamu ini bodoh, kenapa keledai kecil ini kalian berdua naiki?? Apa kalian gak malu badan segede itu naik keledai kecil. Dasar orang Kampung". Ucap warga desa kepada sang Ayah. lalu turunlah sang Ayah dan anak pun dari keledai itu. lalu berjalanlah mereka berdua dengan menuntun keledai bersama-sama.

Melewati desa yang lain lagi, Ada juga warga yang marah kepada Ayahnya lagi dengan perkataaan "Buat apa kau bawa Keledai kalau tidak kalian tumpangi, susah-susah aja". lalu naiklah sang anak ke atas keledai itu. kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.

Ketika melewati pasar, masyarakat menatap ke arah Ayah dan anak, serta merta terdengar teriakan kepada sang Ayah dan Anak lagi. "Dasar Anak Tak tau diri, Kamu malah enak-enak naik keledai sendiri. Ayahmu disuruh berjalan. Apa Kamu gak takut jadi Anak durhaka, hah". lalu turunlah sang anak dan naiklah sang ayah ke atas keledai itu.

Baru beberapa meter berjalan, ada orang yang marah lagi kepada mereka berdua. "Aduh,, dasar Ayah tak tau diri..Inget umur...anak malah disuruh jalan. anda enak-enak diatas sana..aduh..aduhh..aduhh".

Lalu Si Anak Pun Kemudian kebingungan atas semua kejadian yang telah terjadi. semua gak ada yang benar, dianggap salah apa saja yang diperbuatnya. Lalu Sang Ayah pun menepuk pundak sang anak dan berkata "Duhai anakku, hari ini engkau telah belajar bahwa jika engkau menuruti apa yang diinginkan orang lain pasti tidak akan pernah ada habis-habisnya. jadilah Dirimu sendiri." Ucap Sang Ayah

baca selengkapnya..

BAHAYA "I KNOW THAT"

PENYAKIT paling berbahaya yang menjangkiti umat islam saat ini adalah penyakit "I Know That"! (Saya tahu itu).. kenapa dibilang berbahaya???
Tak sepantasnya manusia merasa cukup akan ilmu, karena pada kenyataannya manusia mempunyai banyak kekurangan, diantaranya yaitu, sering Lupa dan lalai. Jangan Pernah merasa cukup akan Ilmu, kawan. coba periksalah kembali cara ibadahmu, dan semua amalan-amalanmu, mungkin kita masih banyak kekurangan atau mungkin salah. kenapa kata "I Know that" dibilang berbahaya, karena memang banyak orang yang sudah merasa cukup atas apa yang telah mereka dapatkan dari suatu ilmu. merasa sudah hebat. padahal kenyataannya sikapnya itu bisa membuatnya menjadi orang yang bodoh. 
Karena orang sukses itu selalu belajar, belajar, dan belajar.

baca selengkapnya..

Khairu Ummah (Umat Terbaik)

Pagi itu, seperti biasanya Lukman pergi ke Kampus. dengan penuh semangat ia tempuh perjalanan sekitar 3 km dari rumahnya dengan berjalan kaki. perjalanan yang amat melelahkan, tapi ia tak pernah kenal lelah menghadapi berbagai macam masalah dihidupnya. berbekal keimanan kepada Allah, ia berusaha untuk selalu berfikir positif didalam hidupnya. sambil melangkahkan kakinya, ia senantiasa berdzikir dan mengingat Allah SWT. dibenaknya hanya ada nama Allah.

Ia memang pemuda shalih. disetiap gerak langkahnya, diperkataannya, dan seluruh kehidupannya ia perjuangkan hanya untuk kemuliaan Islam. dimanapun ia berada pasti yang dibicarakan adalah tentang islam tak ada yang lain. walaupun ada yang lain, dia tak pernah berbicara kecuali yang berguna saja.

Singkat kata, ia telah tiba kampus tercintanya, di Universitas Padjadjaran. dengan senyum dan ucapan syukur kepada Allah Swt. telah tiba tepat pada waktunya.

sesampainya dikelas, ia duduk dibarisan terdepan. lalu ia bercengkrama dengan teman-temannya sembari menunggu dosennya hadir dikelas.
30 menit berlalu dosennya pun tak kunjung datang jua. ia lalu menyempatkan membaca Al-Quran. dengan suara perlahan ia baca surat Ali imran ayat 110 dan memahami makna ayatnya.

tak lama kemudian, teman sebelahnya, rudi, mengajaknya berdiskusi tentang ayat yang barusan ia baca. lalu lukman pun menghentikan bacaan qurannya. lalu menemani rudi untuk mendiskusikannya.

"man, sebenarnya apa sih maksudnya Khaira ummah itu??" tanya Rudi

Dengan senyum Lukman pun segera menjelaskan ayat yang baru saja ia baca. "Khaira ummah adalah umat terbaik, maksud dari ayat ini ialah, bahwa umat terbaik itu adalah umat yang no 1. umat teladan, umat yang sejahtera, umat yang menjadi panutan manusia seluruhnya.". jawab lukman bersahaja, dan kembali ia melanjutkan penjelasannya lagi. "kalian adalah terbaik, yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah dari kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah.... ". ucap Lukman semangat menyebutkan terjemahan ayat tersebut.

kemudian ia melanjutkan kembali "di, sadar gak, bahwa Kita ini sebenarnya adalah umat terbaik. tapi kenapa sekarang kita berada didalam keterpurukan, kesengsaraan, kebodohan dan kenistaan para Pemimpin negeri ini?" tanya lukman.

Kemudian Rudi pun bingung harus jawab apa, lalu ia pun langsung bertanya kembali "kurang tau sob, sebenarnya kenapa sih umat ini bodoh, dan sengsara? padahal umat ini harusnya menjadi umat yang unggul. apa mungkin  karena ayatnya udah salah dan islam udah tidak sesuai lagi dengan zaman moderen ini ???" tanya rudi penuh kebimbangan.

Dengan cepat Lukman menangkis pertanyaan rudi "eittsss...umat terpuruk bukan karena ayatnya yang salah, juga bukan karena Islam sudah tidak sesuai lagi, tapi ini semua karena umatnya yang telah melupakan ayat-ayat Allah, dan sudah tidak mengindahkan apa yang telah Allah perintahkan. coba kita perhatikan saja, banyak diantara kita yang jarang shalat berjamaah, banyak perjudian, dan kemaksiatan dimana-mana, itu semua disebabkan karena mereka banyak yang tidak membaca ayat-ayat Allah. tidak menjadikan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai sumber pemikirannya dan sebagai tolok ukur dalam bertindak. malah mereka menjalankan hukum-hukum yang tidak bersumber dari Islam". jelas Lukman Panjang lebar.

"Contohnya man, apa hukum-hukum yang bukan hukum islam itu???" tanya rudi lagi.

"DEMOKRASI contohnya. demokrasi adalah Sistem yang BUKAN berasal dari islam, malah sangat bertentangan dengan islam. bagaimana mungkin islam bisa menjadi umat terbaik kalau menjalankan hukum-hukum kufur. Allah juga kan udah memerintahkan kepada kita agar selalu menjadikan Al-Quran dan Assunah sebagai pegangan dan juga sebagai aturan, aturan yang mengatur hidup kita. karena islam tidak hanya mengatur persoalan ibadah mahdhah semata, tapi islam mengatur setiap sendi kehidupan, mulai dari politik, sosial, budaya, pendidikan, akhlak dan masih banyak lagi.".

"Jadi??"

"kita harus menggunakan hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah, bukan yang lain, jika ingin sejahtera, ya gunakan hukum Allah. agar mendapatkan kebahagiaan dan juga keselamatan di akhirat nanti"

"oh, gitu man, Luarrr biasa sekali...terima kasih atas ilmunya mudah-mudahan bermanfaat." Rudi terkagum-kagum.

Sampai jam pelajaran habis pun, dosen tak jua kunjung datang. lalu selesailah jua diskusi mereka berdua. dan pergi meninggalkan ruang kelas dengan penuh semangat.

TEGAKKAN ISLAM!!! HIDUP SEJAHTERA DIBAWAH NAUNGAN KHILAFAH

baca selengkapnya..

Qalbun Maridh’

Kita ini kadang aneh,” kata ustad muda itu di hadapan jamaahnya. “Jika lahiriah kita sakit, kita cepat-cepat cari obat. Jika sakitnya ringan, cukup pake ‘obat warung’. Jika agak berat, buru-buru ke dokter. Jika berat dan gak sembuh-sembuh, kita segera ke rumah sakit. Kita bahkan rela dirawat dan mengeluarkan banyak uang jika sakitnya parah dan mengharuskan kita masuk rumah sakit.”
 

“Tapi, coba kalau yang sakit batiniah kita, hati/kalbu kita. Kita kadang tak segera menyadarinya, apalagi merasakannya. Boro-boro terdorong untuk mencari obatnya,” imbuhnya.
“Orang sakit itu, biasanya makan/minum gak enak. Sakit demam saja, kadang segala yang masuk ke mulut terasa pahit di lidah. Padahal tak jarang, orang sakit disuguhi makanan yang enak-enak, yang lezat-lezat, kadang yang harganya mahal-mahal pula. Namun, semua terasa pahit, gak enak, gak selera,” tegasnya lagi.
“Sebetulnya, mirip dengan sakit lahiriah, sakit batiniah juga membuat penderitanya merasa ‘pahit’. Apa-apa gak enak, gak selera, gak semangat. Shalat berjamaah di masjid ‘pahit’. Shalat malam terasa gak enak. Shaum sunnah gak selera. Baca al-Quran, meski cuma satu-dua halaman, terasa berat. Hadir di majelis taklim, meski cuma satu jam, tak betah. Dakwah pun sering gak semangat. Padahal semua amalan tadi—jika diibaratkan makanan—adalah ‘enak’ dan ‘lezat’. Betapa tidak! Baca al-Quran saja, misalnya, meski hanya satu huruf, akan Allah balas dengan sepuluh kebaikan. Bagaimana jika kita membaca setiap hari satu ayat, satu halaman, apalagi satu juz yang bisa terdiri dari ratusan ayat, yang tentu terdiri dari ribuan huruf? Betapa enaknya, betapa lezatnya,” tegas ustad itu lagi mengajak jamaahnya merenung.

*****

Saya pun merenung. Saya coba menyelami kata-katanya yang penuh hikmah itu. Benar apa yang ustad muda itu sampaikan. Betapa kita sering tak menyadari apalagi merasakan bahwa hati/batiniah kita sering sakit. Padahal mungkin sudah lama kita tak merasakan lezatnya beribadah seperti shalat, membaca al-Quran, shaum, dll; tak merasakan enaknya berinfak di jalan Allah, berdakwah, melakukan amar makruf nahi mungkar, dll. Bahkan mungkin sudah lama hati kita pun tak lagi bergetar saat mendengar ayat-ayat Allah dilantunkan, apalagi sampai pipi kita ini basah oleh airmata, walau hanya setitik, saat ayat-ayat Allah diperdengarkan. Padahal Allah SWT telah mengabarkan bahwa andai al-Quran diturunkan pada gunung-gunung yang kokoh, niscaya dia akan menjadi hancur-lebur karena takut kepada Allah (QS al-Hasyr: 21).
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah-rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa keringnya mata dari tangisan adalah karena kerasnya hati. Hati yang keras adalah hati yang paling jauh dari Allah.” (Ibn al-Qayyim, Bada’i’ al-Fawa’id, III/743).

Ibnu al-Qayyim rahimahullah membagi hati menjadi tiga jenis. 

Pertama: Qalbun Mayyit (Hati yang Mati).
Itulah hati yang kosong dari semua jenis kebaikan. Sebabnya, setan telah ‘merampas’ hatinya sebagai tempat tinggalnya, berkuasa penuh atasnya dan bebas berbuat apa saja di dalamnya. Inilah hati orang-orang yang kafir kepada Allah.

Kedua: Qalbun Maridh (Hati yang Sakit).
Qalbun maridh adalah hati yang telah disinari cahaya keimanan. Namun, cahayanya kurang terang sehingga ada sisi hatinya yang masih gelap, dipenuhi oleh kegelapan syahwat dan badai hawa nafsu. Karena itu, setan masih leluasa keluar-masuk ke dalam jenis hati seperti ini. Orang yang memiliki hati yang sakit, selain tak merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah SWT, juga sering terjerumus ke dalam kemaksiatan dan dosa, baik besar ataupun kecil. Hati yang seperti ini masih bisa terobati dengan resep-resep yang bisa menyehatkan hatinya. Namun tak jarang, ia tidak bisa lagi mengambil manfaat dari obat yang diberikan padanya, kecuali sedikit saja. Apalagi jika tak pernah diobati, penyakitnya bisa bertambah parah, yang pada akhirnya bisa berujung pada ‘kematian hati’. 

Ketiga: Qalbun Salim (Hati yang Sehat)
Qalbun Salim adalah hati yang dipenuhi oleh keimanan; telah hilang darinya badai-badai syahwat dan kegelapan-kegelapan maksiat. Cahaya keimanan itu terang-benderang di dalam hatinya. Orang yang memiliki hati semacam ini akan selalu merasakan nikmatnya beribadah (berzikir, membaca al-Quran, shalat malam, dll); merasakan lezatnya berdakwah; merasakan enaknya melakukan amar makruf nahi mungkar; bahkan merasakan nikmatnya berperang di jalan Allah SWT.

Di antara sedikit tanda orang yang memiliki hati yang sehat adalah mereka yang Allah gambarkan dalam firman-Nya: Jika dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, mereka tersungkur dengan bersujud dan menangis (TQS Maryam: 58).

Imam Al-Qurthubi berkata, “Di dalam ayat ini terdapat bukti bahwa ayat-ayat Allah memiliki pengaruh terhadap hati.” (al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 11/111).

Inilah juga gambaran hati para salafush-shalih dan generasi orang-orang terbaik dari kalangan umat ini. Jika salah seorang dari mereka melewati ayat-ayat yang menceritakan neraka, hati mereka seperti terasa akan copot karena takut. Jika mereka melewati ayat-ayat yang mengisahkan surga dan kenikmatannya, terasa persendian mereka gemetar karena khawatir mereka akan diharamkan masuk surge dan merasakan kenikmatan yang kekal itu. Dua keadaan inilah yang sering menyentuh hati mereka hingga mereka sering meneteskan airmata. Air mata inilah yang justru akan menyelamatkan mereka dari azab neraka sekaligus memasukkan mereka ke dalam surga. Nabi saw. bersabda, “Ada dua mata yang tak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang tak tidur di malam hari karena berjaga di jalan Allah.” (HR at-Tirmidzi).

Jika kita memiliki hati yang sehat seperti ini, bersyukur dan bergembiralah. Itulah tanda bahwa hati kita sehat (qalbun salim). Hanya hati jenis inilah yang akan diterima Allah SWT saat kita menghadap kepada-Nya (QS asy-Syura: 88-89). 

Namun, jika hati kita termasuk hati yang sakit, maka segeralah obati dengan tobat, jaga diri dari maksiat, dan perbanyaklah taqarrub kepada Allah SWT dengan selalu taat. Jangan biarkan hati kita makin parah sakitnya, karena bisa-bisa akhirnya hati kita menjadi mati. Na’udzu billah.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. []

baca selengkapnya..

Pemikiran mempengaruhi tingkah laku

"Ketika bertemu dengan seseorang yang kita sukai, sering ada perasaan deg-degan, senang, cemas, gak PD dan perasaan-perasaan aneh lainnya".

Tapi

"Ketika bertemu dengan orang yang kita BENCI, timbul perasaan gak senang, marah, ingin cepet-cepet pergi gak mau liat tampangnya de-el-el."
contoh-contoh sikap tadi seringkali terjadi pada diri kita, baik pada orang yang kita sukai atau pun pada orang yang kita benci. Kenapa itu bisa terjadi???

sob, sebenarnya apa sih yang sangat mempengaruhi pola sikap itu? apa sih yang membuat kita senang atau benci pada orang itu???

ternyata..oh ternyata....
Yang mempengaruhi perilaku (Sikap) terhadap orang lain adalah pemikirannya (Pemahamannya). dengan kata lain, orang berprilaku tertentu disebabkan pemahamannya pada orang itu.  misalnya,anda mempunyai seorang teman, sebut saja rudi namanya. Anda memiliki pemahaman bahwa rudi orang yang baik hati, ramah dan shaleh. tentu ketika anda bertemu dengannya, akan timbul perasaan tentram, senang dan nyaman bertemu dengannya. sebaliknya jika anda mempunyai pemahaman bahwa rudi itu orangnya kasar, sombong, dan suka mengigit orang (emangnya kucing ^_^), ketika bertemu dengannya pastinya anda akan langsung pengen kabur karena takut dikasarin, dipukul atau takut digigit olehnya (hahaha)..

tetapi lain halnya jika kita bertemu dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali, kita akan bersikap biasa aja. tak ada respon senang atau pun takut. karena kita tak memiki pemahaman apapun tentang orang itu.

begitu sob, jadi Pemikiranlah yang menentukan sikap kita, tak ada yang lain. karena itulah berpikirlah secara benar. pahamilah segala sesuatu secara benar. karena jika kita berpikir salah niscaya kelakuan kita pun akan salah juga.

baca selengkapnya..

manfaat Kesulitan


Kesulitan kerap dipandang dari satu sisi saja, yaitu sisi negatif. Amat jarang sekali orang yang memandang kesulitan sebagai sesuatu yang menyenangkan dan sesuatu yang akan membuat dirinya menjadi lebih baik dan bahagia. Yang sering dibayangkan dari kesulitan adalah sisi-sisi buruk saja. Wajar saja jika kita kemudian cenderung kesal jika kesulitan tiap kali muncul.

Jika kita perhatikan, sebenarnya kesulitan itu ada manfaatnya. Wah benarkah begitu?
Tentu jika kita berfikir positif dan melihat manfaat dari kesulitan itu. Maka setiap kesulitan datang kita akan merasa senang dan akan merasa tertantang akan setiap kesulitan itu.

Banyak orang yang enggan bahkan kesal jika bertemu dengan kesulitan. Mereka yang demikian itu adalah bukan karena menolak manfaat kesulitan, melainkan karena mereka tidak tahu apa manfaat dari kesulitan. Dimatanya yang tergambar dari kesulitan itu adalah kesialan dan beban yang sangat berat. Yang mana akan mengganggu kehidupannya.

Coba kita teliti lagi, apa saja sih manfaat dari kesulitan itu?

Oh ditinjau dari beberapa sudut ternyata kesulitan itu banyak sekali manfaatnya. Apa itu?

1.      Menambah ilmu
Setiap kesulitan yang datang ternyata akan mendatangkan ilmu. Bertambahnya ilmu manusia bukan karena besarnya volume otak. Meskipun volume otak kita gede. Tapi itu belum tentu banyak isinya.
Nah, setiap kesulitan datang akan mendatangkan suatu ilmu dan menambah pengalaman.

2.      Membuat diri semakin kuat
Orang yang sehari-harinya sering bergelut dengan dunia kesulitan akan menjadi orang yang super kuat. Tahan banting menghadapi berbagai permasalahan. Dan banyak orang yang ditimpa kesulitan akan menjadi orang yang paling kreatif. Berbeda halnya dengan orang yang tak pernah ditimpa kesulitan, pemalas dan suka bersantai ria, ia akan menjadi orang yang bila ditimpa kesulitan sedikit saja akan mudah kalah.
Beda antara orang yang sering ditimpa kesulitan dengan orang yang santai saja dan malas. Adalah seperti ayam sayur dengan ayam kampung.

Ayam sayur selama hidupnya hanya melakukan empat kegiatan penting yaitu : makan, diam, buang kotoran dan disembelih.
Sedangkan  ayam kampung, sepanjang hayatnya tidak pernah henti-hentinya mencari makan, menggunakan seluruh tenaganya demi sesuap nasi…hehee
Kita bisa lihat hasilnya, ayam sayur cenderung gemuk namun gembur dagingnya. Berbeda dengan ayam kampung, bentuk tubuhnya ramping namun liat dagingnya. Hingga kini harga daging ayam kampung untuk berat yang sama tetap lebih mahal daripada ayam sayur. Kata orang, proses akan menentukan nilai akhir.

Menurut survey mengatakan bahwa pola hidup yang serba mapan, sering mengundang penyakit-penyakit yang serius, seperti diabetes, kanker, darah tinggi, stroke dan lain-lain.
Penyakit-penyakit tersebut jarang kita temui pada orang-orang yang sehari-harinya bekerja sangat keras, dan senantiasa bergerak, seperti para petani, kuli , pedagang, sopir dan yang lainnya.

3.      kesulitan sebagai tangga prestasi.
Setiap kesulitan yang datang akan memunculkan prestasi yang sungguh sangat menakjubkan. Kita sering melihat banyak para pemuda yang diusia mudanya telah menjadi professor yang pendapat-pendapatnya disegani, pakar pendidikan yang sukses, pelopor bisnis internasional, dan masih banyak lagi.
Pastinya mereka adalah orang-orang yang dalam kesehariannya bertarung dengan yang namanya kesulitan, karena hal-hal tersebut bukan perkara yang mudah. Tapi hal tersebut dilalui oleh proses yang menyakitkan.
Kalau hanya menghabiskan makanan dipiring, semua orang tentu pasti bisa melakukannya. Dan bukan merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan.

4.      Pahala Ibadah
Aneka kesulitan bisa menjadi sarana bagi Allah untuk memberi balasan pahala kepada hamba-hambanya. Hidup yang kita lakukan menjadi tidak sia-sia. Yang mana jika kita berbuat baik niscaya Allah akan membalas amal kita. Kalaupun kita tertimpa keburukan, hal itu akan menggugurkan dosa.

Jika demikian datangnya kesulitan bisa membuat kita menjadi orang yang senantiasa beramal shaleh. Semua itu akan Allah balas dengan limpahan kebaikan dari sisi-Nya.

“(yaitu) orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan :’innalillahi wainna ilaihi raji’un (sesungguhnya diri kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali)’. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bermacam kesejahteraan dan kasih sayang dari sisi Rabb (Tuhan) mereka. Dan merekalah orang-orang yang senantiasa mendapat petunjuk” [QS Al-Baqarah : 156-157]

orang-orang yang tertimpa kesulitan akan berucap “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”,  tentu hal tersebut bukan hanya sekedar ucapan lisan belaka, tapi merupakan kesabaran yang paling tinggi. Dan ridha terhadap taqdir Allah. Dan yakin sebagai pembuka segala kesulitan.

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Rasulullah Saw, bersabda:
Allah Swt berfirman,  “tiada pembalasan bagi hamba-ku yang mukmin disisi-ku ketika aku ambil kekasihnya dari penghuni dunia ini kemudian dia mengharap pahala (dari-ku), melainkan surga” (H.R Bukhari)

Kekasih yang dicintai dikehidupan dunia ini banyak jenisnya seperti yang disebutkan dalam Al-Quran:
“dihiaskan pada (pandangan) manusia kecintaan pada aneka macam kesenangan dari hal wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak. Dan sawah ladang. Itulah perhiasan hidup di dunia. Dan disisi Allah ada tempat kembali yang baik.” [QS Ali Imran : 14]
jadi, jelas sekali bahwa kesulitan itu sangat besar manfaatnya. Seperti pepatah obat yang sering kita dengar. “pahit rasanya namun didalamnya ada peluang mendapatkan kesembuhan”. Insya Allah.


Sumber :
10 sikap positif (AA. QOWIY)

baca selengkapnya..

Nasehat Seorang Ayah


Putriku tercinta ! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.
Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum mendengarnya dari orang lain.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kebejatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, dan kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah kerusakan telah mewabah, para wanita kluar dengan pakaian merangsang. Terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku ! kuncinya berada ditanganmu.
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikan bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan pada si pencuri itu : “Silahkan masuk...” ketika ia telah mencuri, engkau berteriak “maling..! tolong saya kemalingan”.
            Demi Allah.. dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
            Demi Allah.. begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.
            Demi Allah.. ia telah bohong ! senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan untuk mencapai tujuannya, atau paling tidak, pemuda itu sendiri merasa bahwa itu adalah rayuan! Setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai putriku? Coba pikirkan!
            Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engkaulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng. Selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.
            Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancing lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.
            Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.
            Tak ada seorang pun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putri-putrinya adalah seorang wanita amoral.
            Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita ! krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wantia yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
            Maka kalian hendaklah mengajak mereka agar bertaqwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan pada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut disekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?
            Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk diatas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan diatas? Apa akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
            Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.
            Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.
            Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, melainkan dengan kembali kejalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahromnya. Isteri tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu dikereta, bertemu dijalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria disekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah. Menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.
Mereka yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong dilihat dari dua sebab:
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk memberikan kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat anggota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang. Oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua : Mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, dan New York. Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat dilapangan dan telanjang di pantai (atau dikolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walaupun berupa kehormatan, kemuliaan, kesucian, dan petunjuk. Kata mereka pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?
Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemooh saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat diketemukan kembali.
Bila anak putri telah jatuh, tak seorangpun diantara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang mereka pun lalu pergi menelantarkan persisnya seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.
Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran, selain ini jangan percaya. Sadarlah bahawa di tanganmulah, bukan ditangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaiki diri kalian, dengan demikian umat pun akan menjadi baik.
(wallahul musta’an)

disarikan dari buku
“wahai Putriku”
Ali Thanthawi

baca selengkapnya..
BM
krelzz